One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 316



"Kalian kalau mau lanjut main silahkan.Gue mau nyusul Zia dulu,ada yang kelupaan tadi yang mau gue bilang ke dia"setelah mengatakan hal itu Rindi buru buru menyusul Zia ke ruang ganti putri, entah kenapa Rindi merasa ada yang tak beres dengan kondisi anggotanya itu.


Didalam ruang ganti,Zia duduk dilantai bersandar didalam loker milik anggota tim basket.Ia merasakan nafasnya sesak dan badannya yang terasa lesu,keringat juga membanjiri dirinya.


Kriet...pintu terbuka dan terlihat Rindi yang masuk kedalam ruang ganti,bola mata mantan kapten eskul basket itu terbelalak melihat anggotanya yang tidak dalam kondisi baik baik saja dilantai.


Buru buru Rindi berjongkok guna mensejajarkan dirinya dengan Zia


"Hei Zia,are you okay?kamu tampak tak baik baik saja"Rindi memastikan kondisi Zia,tangannya diletakkan disalah satu bahu Zia.


Zia mendongak menatap Rindi dengan wajah yang memucat


"Rin-di,b-bisa hubungin Raka kesini gak?"tanya Zia sedikit terbata bata.


"Bisa,tunggu gue hubungin pacar lo dulu"Rindi dengan terburu buru menuju kearah loker dimana dirinya menyimpan barang barangnya,hp miliknya disimpan disana.


"Halo"


"Halo Raka"


"Iya kenapa Rindi?"


"Ke sekolah sekarang"


"Ada perlu apa,gue harus kesana?"


"Pacar lo,kayaknya sakit deh"


"Hah?"


"Cks.Jadi tadi gue sama Zia habis duel basket trus tib..tut..."belum selesai Rindi bicara tapi panggilan itu telah diputus dengan begitu saja.


"Kok ditutup sih"ujar Rindi menatap hpnya kesal,namun tak lama karena dirinya langsung ingat tentang kondisi Zia.


Rindi kembali menghampiri Zia yang masih terduduk dilantai


"Sabar ya,pacar lo bakal datang kok"ujar Rindi yang membantu Zia beranjak dari atas kantai marmer yang dingin untuk pindah ke kursi panjang didalam sana,gadis itu terlihat cemas dan takut terjadi sesuatu pada putri pemilik sekolahnya itu.


"Zia kamu tunggu sebentar ya,aku akan carikan bantuan"Setelah mengatakan hal itu,Rindi bergerak hendak pergi namun Zia dengan lemah menahan tangannya.


"Kenapa?"tanya Rindi.


"J-jangan"ujar Zia dengan suara lemah.


"Kenapa gak boleh?"tanya Rindi yang jadi semakin gusar dengan penolakan Zia saat dirinya hendak mencari bantuan,namun Zia tak menjawab lagi.


Citt...


Disisi lain,tepatnya diparkiran sekolah,Raka menghentikan mobilnya dengan cepat.Tanpa memastikan apakah letak mobilnya telah terparkir dengan pas atau tidak,Raka bergegas keluar dari dalam mobilnya.


Brak...pintu mobil ditutup dengan kasar,sedangkan sang pemilik terlihat berlari cepat memasuki area gedung sekolah dengan tangan yang memegang hp ditelinga dan tangan satunya menenteng kantong kresek berisi sesuatu.


"Rak,lo dimana sekarang?pac..."


"Lo sama Zia yang dimana sekarang?"


"Ruang ganti eskul basket putri"


"Oke"Tut...Raka mematikan panggilan itu setelah mendpatkan informasi yang dibutuhkan.


Raka langsung berhenti berlari sejenak saat melihat sekelompok anak paskibra yang berjalan dilorong sekolah,ia memang sedang buru tapi jika dirinya berlari melewati murid murid itu maka bisa menimbulkan kecuragaan kalau sedang terjadi sesuatu.Dengan perasaan gusar,Raka dengan sabar mengikuti langkah para anak paskibra itu dua langkah dibelakang.


Gocha!


Anak eskul paskibra itu membelok arah,Raka langsung berlari cepat kembali setelah melewati persimpangan lorong sekolah itu.


Hah...ha...hah...dengan nafas tersengal sengal akhirnya dirinya sampai didepan pintu ruang ganti yang dikatakan Rindi tadi.Tanpa mengetuk atau apapun itu,Raka langsung saja menerobos masuk kedalam.


Kriet...


"Zia"


Raka bergegas menghampiri Zia yang terlihat semakin lemah dan pucat,nafas gadis itu juga masih belum bisa normal.Rindi sedikit menyingkir membiarkan Raka didekat Zia,sebagai kekasihnya Zia tentu Rindi yakin kalau mantan ketos HANTARA itu pasti lebih tau apa yang harus dilakukan.


Raka segera mengeluarkan botol air minum kemasan dari dalam kantung kresek yang dia bawa,kemudian pemuda itu merogoh kantung jaket bagian dalamnya dan mengeluarkan bungkusan plastik kecil berisi botol obat dan beberapa obat kemasan khusus lainnya.


"Dosisnya masih samakan?"tanya Raka memastikan terlebih dahulu pada Zia,


gadis yang tengah menahan kondisi tubuhnya itu mengangguk pelan.


Dengan cepat dan fasih sekali,Raka mengeluarkan beberapa butir pil berbeda dari tempat pil obat itu dan meletakkannya ditelapak tangannya.


"Ayo buka mulut,telan pelan pelan"


Raka menyuapkan pil pil obat itu dengan perlahan ke mulut Zia dan setelah semua obat itu berpindah kedalam mulut gadis itu,Raka lanjut membantu meminumkan air minum yang tadi untuk membantu Zia menelan pil pil obat itu.


Rindi yang menyaksikan apa yang dihadapannya itu nampak mematung dengan beragam pertanyaan yang muncul didalam benaknya.Zia kenapa?


apakah gadis itu sakit?obat apa itu?


kenapa tidak terlihat seperti obat sakit pada umumnya?.Glup...Rindi menelan ludahnya dengan berat.


"Bagaimana sekarang?apa sudah mendingan?"tanya Raka berpindah duduk disebelah Zia kemudian menyandarkan kepala gadis itu ke dada bidangnya.Zia tak menjawab, gadis itu seolah sudah hampir kehilangan seluruh tenaganya.


Raka mendongak menatap Rindi yang masih diam mematung ditempat,Raka sekarang dapat menebak bahwa dibenak gadis itu pasti muncul sejuta pertanyaan akan kejadian ini.


"Rindi"panggil Raka.


"Ah ya ada apa?"saut Rindi tersadar.


"Bisa minta tolong bantuin Zia ganti baju gak?Zia harus ganti baju dulu sebelum gue antar balik"tanya Raka pada Rindi.


"Bisa kok,bisa"saut Rindi cepat.


"Oke tolong ya,gue bakal tunggu diluar kalau gitu.Takut temen temen kalian datang,malah jadi salah paham nanti"ujar Raka.


Akhirnya disinilah Raka sekarang menunggu diluar ruang ganti,pemuda itu bersandar di dinding sambil membuka aplikasi pesan dihpnya untuk mengirim pesan pada beberapa orang.


Beberapa orang itu adalah orang orang yang harus tau kondisi Zia sekarang.Dalam hati Raka bersyukur karena dirinya bisa sampai dengan cepat karena beruntung saat Rindi menelponnnya tadi,Raka memang dalam perjalanan menuju sekolah karena ingin mengambil buku pelajarannya yang ditinggalkan diloker.


Ceklek...kurang dari lima belas menit menunggu akhirnya Zia keluar dari ruang ganti dengan bantuan Rindi yang memapahnya.


Raka langsung mengambil alih terlebih dahulu tas ransel milik Zia dan menyandangnya dibagian depan,


selepas itu Raka jongkok didepan Zia berniat untuk mendukung gadis itu dipunggungnya.


"Ayo naik"ujar Raka.


Zia yang memang sudah merasa lemas sejak tadi tak bersuara untuk protes atau menolak,ia naik ke punggung Raka kemudian cowok itu berdiri dengan mengangkat tubuhnya.


Raka kini menatap Rindi yang menatap dengan penuh penasaran dan tanda tanya dengan apa yang terjadi.


"Gue gak bisa jelasin ke lo sekarang karena itu hak Zia,tapi satu yang gue mohon ke lo sekaligus mewakili Zia juga.Tolong lo rahasiain yang tadi,jangan cerita ke siapapun bahkan jika itu Liona saudarinya Zia.Lo bisakan?"ujar Raka menampilkan ekpresi seriusnya.


"Ah iya gue ngerti,gue bakal tutup mulut kok"mau tak mau Rindi harus menyetujui itu,terlebih saat ia melihat tatapan serius dari mantan ketos disekolahnya itu.


"Bagus,gue dan Zia pegang janji lo.


Terima kasih udah jagain Zia sebelum gue datang tadi,gue sama Zia pamit dulu"setelah mengatakan hal itu,Raka langsung melangkah dari sana dengan Zia yang berada pada dukungannya.


*Apa yang sebenarnya terjadi sih?* Rindi membatin penasaran,matanya terus menatap kedua orang yang mulai menjauh dari pandangannya.