
"Gia,cara bicara kami dikontrol. Kamu lagi ngomong sama adik kamu bukan orang lain"ujar Renal menegur putri sulungnya itu.
"Lagian itu bocah ngeselin pa"ujar Gia kesal.
"Zia,ayo lanjut"pinta sang papa.
"Jadi Zia gak bisa ngasih kepastian sekarang,liat besok aja ya.Tapi kakak kirim aja alamat tempatnya,Zia usahain deh datang meski mungkin rada telat"ujar Zia melanjutkan jawabannya.
~Skip~
Jam dua pagi seharusnya rata rata orang sudah tidur pulas meski ada yang tidak untuk beberapa golongan,
Mungkin Zia salah satunya.
Bukan karena sengaja bergadang sampai larut malam seperti itu tapi gadis itu kini tengah berusaha untuk menahan rasa sakit pada tubuhnya yang kambuh tak kenal waktu,keringat sudah membasahi badan dan piyama tidurnya.Tidak Zia tidak demam,malahan tubuhnya sekarang terlihat menggigil hebat meski sudah dibanjiri keringat.Ditambah nafasnya tiba tiba terasa sesak,Zia membuka matanya dengan susah payah.Ia berusaha bergerak duduk untuk meraih obat yang ia butuhkan untuk mengurangi gejala yang sedang dirinya alami ini namun tak bisa,Zia merasakan tubuhnya sangat lemas.
Dengan terus berusaha mengulurkan tangannya sekuat tenaga,akhirnya tangannya berhasil menggapai nakas yang berada disamping ranjang tempat tidurnya.
Prang...gelas yang berada diatas nakas itu tersenggol oleh tangannya Zia sehingga jatuh berserakan dilantai marmer kamar itu,air minum yang tadinya berada didalam gelas itu otomatis tumpah dan berceceran dilantai.
Nyut...
"Akh..."Zia meringis saat kepalanya juga mulai terasa sakit,lengannya yang tadi ia ulurkan kenakas untuk mengambil obat didalam laci dinakas itu seketika tertarik dan langsung digunakan memegang kepalanya yang terasa berkedut dan pusing.
Kriet...Zia mendengar suara pintu kamarnya dibuka oleh seseorang,namunĀ rasa sesak yang ia rasakan membuatnya tak bisa fokus hanya untuk sekedar mengetahui siapa yang datang kekamarnya larut malam seeeti ini.
Tap...tap...tap...
Gadis yang tengah kesakitan itu kini tau siapa yang datang kekamarnya, pemilik suara itu adalah saudari tertuanya.
"Cepat jawab lo kenapa?"
Suara itu seperti orang khawatir saja,ah tapi tak mungkin karena itu mustahil.
Grep...kedua tangan seseorang memeluknya dengan erat,hangat dan nyaman itu yang Zia seketika rasakan.Hanya itu,setelah itu ia langsung benar benar terlelap dan tak jelas ia sedang tertidur atau pingsan.
Gia terdiam berfikir sambil menatap wajah seseorang yang kini terlelap dipelukannya,tangannya sejak tadi bergerak secara spontan untuk mengusap ngusap pucuk kepala gadis itu agar bisa merasa tenang.
Wanita muda itu bukannya tidak sadar kalau seseorang yang tengah ia peluk dan usap kepalanya adalah sosok gadis yang sangat ia benci sejak kecil,siapa lagi kalau bukan Zia saudari bungsunya sendiri.
Kalian pasti bertanya tanyakan kenapa Gia bisa sampai kekamar saudari yang sangat ia benci itu?
Tadinya Gia baru saja kembali dari lantai bawah atau lebih tepatnyabaru kembali dari ruang kerjanya yang ada disana,wanita muda itu memang memutuskan untuk menyempurnakan kripsinya sebelum akhirnya akan diserahkan besok kepada dosen pembimbingnya.
Saat melewati pintu kamar saudari bungsunya ini,Gia tak sengaja mendengar suara seperti ada kaca pecah dari dalam kamar ini.
Meski awalnya sempat memilih untuk tidak peduli,tapi karena rasa penasarannya yang tinggi ingin tahu apa yang terjadi didalam kamar itu makanya Gia akhirnya memilih untuk memperiksanya.
Dan sungguh terkejut dirinya saat menemukan gadis pemilik kamar yang tengah meringkuk menahan kesakitan diatas tempat tidur,tanpa pikir panjang Gia langsung mendekat keranjang tempat tidur itu dengan berhati hati.Karena melihat pecahan beling dan air yang menggenang disana,itu pasti sumber asal suara yang didengarnya tadi.
Gia berusaha menanyakan apa yang terjadi pada sang saudari namun tidak ada jawaban,menyadari Zia semakin kesakitan makanya Gia refleks membawa gadis itu kedalam pelukannya guna menyalurkan ketenangan.Dan benar saja baru beberapa saat tapi Zia sudah tertidur lelap dan rasa sakit yang tadi terlihat dialami gadis itu juga berkurang,hanya terdengar sesekali suara ringisan halus menahan rasa sakit saja.