
Zia duduk diatas dipan rumah sakit,kedua kakinya yang sedikit menggantung karena berjarak dari lantai ia goyang goyangkan.Saat ini dirinya tengah menunggu sang mami yang tengah mengemasi barang barangnya kedalam tas dan juga sang papa yang tengah pergi sebentar untuk menyelesaikan seluruh biaya adminitrasi,yap akhirnya siang ini dirinya sudah diperbolehkan pulang kerumah.Zia sangat senang karena dirinya sudah mulai merasa bosan terus terkurung didalam area bangunan yang didominasi nuansa putih ini.Meski dibalik izin kepulangannya ini,ia harus bersusah payah membujuk dokter Linda dan tidak ada satupun keluarganya yang tau soal itu termasuk Lyn kakaknya yang sudah tau tentang rahasia terbesarnya.
Kriet...
Zia menoleh kearah pintu yang terbuka,papanya sudah kembali.
"Sudah selesai ma?"tanya sang papa kepada maminya.
"Sedikit lagi pa"jawab sang mami.
Zia dapat melihat papanya mengangguk pelan lalu menoleh kearahnya kemudian menghampirinya.
"Bagaimana denganmu sayang,sudah benar benar yakin akan pulang hari ini?sudah merasa benar benar baik baik sajakan?sudah tak merasa sakit atau pusing gitu?kalau iya,kita bisa tunda kepulanganmu"
"Aku sudah benar benar sudah baik baik saja pa.Jadi aku akan pulang hari ini"ujar Zia menyauti pertanyaan beruntun dari papanya.
"Ayo pa,Zia,mami sudah selesai berkemasnya"ujar nyonya Sela menghampiri suami dan juga putri bungsunya.
Zia langsung turun dari atas ranjang rumah sakit mendengar kalau sang mami telah selesai beberes barang barang keperluannya selama dirumah sakit ini.Ketiga orang itupun mulai beranjak bersama meninggalkan ruang rawat untuk pulang kembali ke kediaman mereka.
Ya memang Zia hanya pulang bersama kedua orang tuanya,tidak ada satupun diantara keempat kakaknya yang datang untuk menjemputnya pulang.Zia sendiri sudah menebak alasan ketidak hadiran keempat kakaknya itu siang ini dirumah sakit.Kakak ketiganya yaitu Lyn sudah mengirimnya pesan kalau tidak akan bisa menjemputnya karena mahasiswi ke dokteran itu punya jadwal kelas yang padat hari ini,kakak kembar Zia sendiri juga pasti sibuk dengan pekerjaan mereka diperusahaan keluarga.Ya meskipun jika kedua kakaknya itu tak sibuk,kemungkinan besar mungkin hanya kak Arga saja yang bersedia datang dengan suka rela.Liona?Zia tak tau kenapa saudari termudanya ini tak datang,jam sekolah seharusnya sudah usai satu setengah jam yang lalu dan tidak mungkin juga kalau saudarinya itu berkegiatan eskul disekolah karena menurut Neta sebagian besar eskul telah dilarang untuk mengikut sertakan anggota dari kelas tiga untuk ikut kegiatan rutin.Tapi yang pasti Liona tidak datang mungkin karena punya kesubukan lain yang tak dapat ditinggalkan,Zia harap begitu.
Didalam mobil diperjalan pulang___
Didalam mobil hanya ada tiga orang,
"Besok kamu tidak usah masuk sekolah dulu ya sayang,muka kamu masih agak pucat gitu.Istirahat dulu minimal sehari dirumah lalu deh masuk sekolah"ujar tuan Renal sambil melirik sekilas putri bungsunya yang duduk dikursi belakang melalui kaca spion depan.
Zia yang sejak mobil meninggalkan area rumah sakit terlihat fokus menatap jauh kearah luar jendela langsung menoleh kedepan saat sang papa bicara padanya
"Tapi sepertinya besok aku akan tetap masuk pa...,"saut Zia yang telah duduk menatap lurus kedepan "Aku sudah terlalu banyak absen. Jangan sampai nilaiku buruk nantinya,lagi pula Zia juga sudah sembub"lanjut Zia kepada papanya.
"Tapi..."
"Jika besok Zia sudah mau masuk kembali sekolah,kamu harus janji tidak melakukan kegiatan yang berlebih dahulu ya sayang"Nyonya Sela dengan sengaja menyela sang suami yang terlihat ingin mengeluarkan argument untuk melarang sibungsu sekolah besok.
"Ma,tapi Zia baru saja pulang dari rumah sakit"panggil tuan Renal kepada sang istri,laki laki itu tak setuju dengan sang istri yang mengizinkan begitu saja putri bungsunya untuk sekolah besok.
"Zia pasti sudah bosan terkurung beberapa hari ini dirumah sakit pa,
biarkan saja Zia jika ingin masuk sekolah besok.Tak usah khawatir,lagi pula ada banyak yang akan menjaganya disekolah"ujar nyonya Sela kepada suaminya,membuat sang suami akhirnya hanya bisa pasrah saja.
Zia kembali menatap keluar jendela setelah tidak ada lagi pembicaraan lanjutan dengan kedua orang tuanya yang duduk didepan.Ada banyak hal kini yang menyeruak didalam benak gadis itu,salah satunya adalah rencana langkah langkah yang dirinya susun untuk kedepannya.Berhasil keluar dari rumah sakit bukannya membuat Zia merasa senang maupun lega,namun mengingat kondisinya beberapa hari kebelakang malah membuat gadis itu sadar kalau waktunya semakin menipis dan terasa berjalan sangat cepat baginya yang bahkan sampai sekarang masih jauh dari mencapai tujuan utamanya memutuskan meninggalkan US setengah tahun yang lalu.
*Kenapa aku semakin pesimis saja?*
Gadis itu menghela nafas pelan dalam diam.