
"Apalagi yang kembaranku itu katakan padamu?"tanya Gia memasang wajah kesal.
"Arga mengatakan supaya aku bisa menyeretmu keluar dari ruangan ini untuk makan siang,tapi tentunya aku tak akan menyeretmu seperti yang dia katakan"jawab Jevan.
"Arga sialan"umpat Gia tanpa ragu mengumpati kembarannya itu,ia kesal bisa bisanya Arga menyuruh orang untuk menyeretnya keluar dari ruangan kerjanya ini.
"Jangan mengumpati kembaranmu seperti itu,Arga mengatakan itu karena khawatir dengan kebiasaanmu yang tidak kenal waktu saat sudah bergelut dalam pekerjaan sampai lupa waktu makan siang seperti ini"ujar Jevan terdengar berbicara dengan lembut.
"Pergilah,aku tidak lapar untuk makan siang"ujar Gia kepada Jevan.
"Seseorang makan siang bukan karena merasa lapar tapi itu adalah kebutuhan dan khusus hal ini aku tak menerima penolakan nona"ujar Jevan bangkit dari sofa menuju meja Gia dan langsung mematikan komputer gadis itu.
"Apa yang kau lakukan Jevan,untung saja aku sudah menyimpan pekerjaanku itu kalau tidak aku harus mengulangnya dari awal lagi"cecar Gia yang tadi sudah kesal menjadi bertambah kesal.
"Ayo makan siang bersama"ujar Jevan mengulangi ajakannya tanpa mempedulikan kekesaran wanita yang tengah menatapnya tajam itu.
"Apa kau tak punya pekerjaan diperusahaanmu?ku yakin pasti punya.Jadi sana kembali kekantormu saja jangan menggangguku"ujar Gia.
"Aku akan kembali ke kantorku nanti setelah kita makan siang"ujar Jevan terlihat tak gentar sedikitpun menghadapi wanita dihadapannya ini.
"Cks,baiklah ayo cepat tapi hanya makan siang bersama tak lebih dan setelah itu jangan ganggu pekerjaanku lagi"ujar Gia akhirnya menyerah,wanita itu meraih tasnya dengan raut wajah suntuk dan langsung berjalan meninggalkan ruangannya terlebih dahulu.
Sedangkan Jevan hanya menggeleng gelengkan kepalanya saja,ia sudah paham betul akan sifat dan karakter gadis itu.
"Mau pergi makan siang?"tanya Arga yang sengaja menunggu didepan ruangan Gia.
"Brisik"jawab Gia kesal sambil berlalu begitu saja.
Tak lama berselang ia melihat Jevan keluar dari ruangan kembarannya itu
"Terima kasih sudah membujuknya"ucap Arga kepada laki laki itu.
"Tak masalah"balas Jevan.
"Maaf tak bisa berlama lama,aku harus mengejarnya cepat kalau tidak aku bisa terkena amukan oleh macan betina"lanjut Jevan.
"Sana pergi susul dia"jawab Arga mengerti maksud Jevan.
"Semoga Jevan bisa sabar menghadapi sifat kembaranku itu"gumam Arga setelah Jevan pergi berlalu
Disinilah Gia dan Jevan berada saat ini yaitu dikantin perusahaan, tadinya Jevan berniat mengajak Gia untuk makan siang direstoran yang posisinya tak jauh dari kantor.Tapi Gia langsung menolak hal itu karena tidak ingin terlalu banyak membuang buang waktu hanya untuk sekedar makan siang saja,lebih waktu itu ia gunakan untuk melanjutkan pekerjaannya yang terpaksa terhenti sementara akibat kedatangan laki- laki itu.Keduanya hanya diam saja tak ada pembicaraan sedikitpun sejak tiba dikantin perusahaan,Jevan yang tak tahan dengan suasan seperti itupun akhirnya membuka suara.
"Bagaimana dengan kripsimu,apa sudah selesai?"tanya laki laki itu.
"Sudah,hanya menunggu jadwal sidang saja"jawab Gia.
"Baguslah,jadi itu artinya kamu bisa fokus pada pekerjaanmu diperusahaan ini"ujar Jevan.
"Ya begitulah"jawab Gia setengah niat menyauti perkataan Jevan.
"Oh iya aku dengar dari Arga,katanya adik bungsu kamu mutusin buat tinggal sama kalian ya?"tanya Jevan.
"Jangan bahas soal itu atau lebih baik aku kembali keruanganku saja"ujar Gia dengan nada tak suka.
"Ah baiklah,aku tak akan membahasnya tapi tetap disini dan habiskan makananmu"ujar Jevan,ia menyadari kalau ia salah mengambil topik pembicaraan.Padahal tadi Arga sudah mengingatkannya untuk tak membahas atau menyinggung perihal anak bungsu keluarga Antara itu,tapi ia malah keceplosan.
Jevan memutuskan untuk diam dan tidak berbicara lagi,ia merasakan aura Gia sedang tidak mengenakkan saat ini.Jangan sampai ia salah bicara lagi,bisa bisa dirinya kena amukan wanita dihadapannya itu.
Beberapa saat kemudian keduanya sudah selesai makan siang dan Jevan langsung mengantar Gia kembali keruangan wanita itu,setelah itu barulah Jevan berjalan hendak pergi dari perusahaan itu untuk kembali ketempatnya bekerja.
"Jevan!"panggil Arga dari arah belakang membuat Jevan berbalik.
"Ada apa bro?"tanya Jevan kepada Arga.
"Kalian sudah kembali dari makan siang?"tanya Arga.
"Sudah dan aku sudah mengantar Gia kembali keruangannya"jawab Jevan.
"Bagaiman?apa saja yang kalian bicarakan?"tanya Arga menaik turunkan alisnya.
"Tak banyak"jawab Jevan.
"Benarkah?"tanya Arga terlihat tak percaya.
"Awalnya aku menanyakan soal kripsinya dan Gia merespon lumayan begitu juga dengan pertanyaan kedua,namun masuk dipertanyaan ketiga aku keceplosan menanyakan tentang adik bungsu kalian"jelas Jevan.
Buk...satu pukulan mendarat dipundak Jevan setelah ia mengakhiri perkataannya,pukulan itu berasal dari Arga.
"Dasar bodoh,padahal aku sudah mengingatkanmu sejak awal tentang itu malah keceplosan"ujar Arga.
"Aku melupakan soal itu,jadi sory"
Ucap Jevan.
"Dasar kau ini,itulah kenapa kembaranku tak mau menerimamu. Mulutmu itu sedikit tak terkontrol" ujar Arga.
"Maaf bro tapi gak usah ingetin gue soal itu dong.Guekan berasa jadi sad boy"ujar Jevan mulai mengubah tata bahasa formalnya tadi menjadi lebih santai.
"Bukan berasa lagi lo mah,tapi lo emang jadi sad boy.Satu tahun berjuang tapi belum dilirik"ujar Arga sedikit menohok menurut Jevan.
"Makanya lo sebagai kembarannya bantuin gue dong buat ngeyakinin Gia buat nerima gue"ujar Jevan.
"Ogah,usaha aja sendiri.Bai"tolak Arga kemudian langsung berjalan meninggalkan Jevan.
"Sialan"umpat Jevan dengan pelan, tentu saja ia tak mau mengumpati orang lain dilingkungan seperti dikantor ini,laki laki itu akhirnya memutuskan untuk pergi dari sana saja.
~Kediaman keluarga Antara~
Zia memasuki kediaman keluarganya dengan langkah yang gontai,gadis itu merasa tubuhnya sangat lelah setelah tadi setelah jam pulang sekolah ia tak bisa langsung pulang kerumah akibat Rindi kapten tim basket putri memintanya untuk ikut latihan hari ini.Mau tak mau ia akhirnya memilih untuk ikut saja dan berkhir dirinya harus pulang terlambat.Zia memasuki lift dan menekan nomor lantai dimana kamarnya berada,kediaman keluarganya ini memang disediakan lift supaya yang malas harus meniti anak tangga untuk menuju kelantai lain bisa memaikai lift itu saja.Sama halnya dengan kondisi Zia saat ini yang membuatnya merasa tak akan mampu jika menaiki anak tangga,dari pada ia tumbang nantinya ditengah tanggakan gawat jadi lebih baik gunakan cara aman saja yaitu dengan menggunakan lift.