One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 158



"Kamu tidak akan ikut pulang dulu sebentar Zia?"tanya tuan Renal.


"Enggak pa,Zia harus kekantor secepatnya"jawab Zia.


Sang papa mengangguk mengerti


"Kalau begitu papa,mama,dan kakak kakakmu pulang duluan ya"pamit sang papa


"Iya pa,kalian hati hati dijalan"ucap Zia.


"Bai dek"ujar Liona.


"Bai Lio"balas Zia.


Semua anggota keluarga Antara-Zia memasuki mobil yang mereka naiki tadi saat datang kerestoran itu,kecuali Lyn tentunya.Gadis dingin itu kali ini ikut dengan mobil milik kakak laki laki mereka,dimobil itu ada kedua orang tua mereka.Zia menatap kepergian dua mobil yang membawa anggota keluarganya itu,setelah tak terlihat lagi barulah ia mulai melangkah menuju ketempat mobilnya ia parkirkan tadi.


Gadis itu mulai melajukan mobilnya menelusuri jalanan kota untuk menuju kekantornya,Zia masih punya jadwal yang padat untuk dilalui hari ini.


~F'Company~


Tap...tap...tap...Zia melangkah memasuki gedung perusahaan miliknya


"Selamat Siang Nona"sapa resepsionis yang melihat kedatangannya.


"Siang"balas Zia dengan tersenyum ramah,gadis itu langsung mendekat ke meja resepsionis itu.


"Apa kak Anna dan kak Teo ada diperusahaan?"tanya Zia


"Pak Teo tadi sekitar dua puluh menit tadi,berangkat untuk melakukan pertemuan diruang perusahaan nona.


Sedangkan untuk buk Anna,beliau sepertinya ada diruangannya"jawab Resepsionis itu dengan sopan.


"Kalau begitu tolong hubungi kak Anna,katakan kalau saya memintanya untuk datang keruangan saya"ujar Zia.


"Baik nona,akan segera saya hubungi"jawab resepsionis itu.


"Terimakasih,kalau begitu saya permisi"ucap Zia.


"Sama sama nona,silahkan"saut resepsionis itu.


Setelah bertegur sapa dengan resepsionis tadi,Zia langsung melanjutkan langkahnya menuju lift khusus eksekutif perusahaan.


Segera setelah pintu lift terbuka,ia langsung masuk kedalam lift dan kemudian menekan tombol angka lantai dimana ruangannya berada.Ruangan Zia sendiri berada dilantai paling atas perusahaannya ini,gadis itu melihat jam yang tertera pada pergelangan tangannya.Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 14:45,itu artinya pertemuannya lima belas menit lagi akan dimulai.


Ting..pintu lift terbuka,ia melangkah keluar dari dalam lift karena sudah sampai kelantai tujuannya.Tak perlu berjalan jauh dari lift karena ruangan milik Zia berada dekat dari pintu lift itu segera setelah memasuki ruangannya,


sebuah jeweran langsung diterima ditelinganya.


"A-aduh..sakit"Zia sedikit berinjit karena telinga kirinya yang tengah dijewer oleh kak Anna.


"Sakit?rasain lo"ujar kak Anna tak peduli.


"K-kak Anna,lepas dong.Sakit tau"rengek Zia yang tengah menahan sakit pada telinganya.


"Cks,gitu doang sakit"ujar kak Anna langsung melepaskan telinga Zia dari jewerannya.


"Kok gue datang,lo tiba tiba ngejewer telinga gue sih kak?"protes Zia,ia mengusap usap telinga kirinya yang memerah akibat menjadi korban tangan maut milik kak Anna.


"Masih untung gue cuma jewer telinga lo,dari pada niat awal gue tadi yang kayak pengen lempar lo dari lantai atas gedung ini kebawah"ujar kak Anna yang terdengar judes.


"Kok lo kejam banget sama gue"ujar Zia.


"Sini gue bilangin sama lo siapa yang lebih kejam,lo atau gue"ujar kak Anna.


"Ya maaf"ucap Zia.


"Maaf maaf,gue sama Teo yang jadi pusing Zia buat handle dan wakilin lo.Mana kita berdua juga punya jadwal buat pertemuan lain juga, gimana gue gak darah tinggi coba"omel kak Anna.


Huf...Zia menghela nafas kemudian melangkah menuju kearah pintu sebuah kamar yang berada didalam area ruang kerjanya


"Heh mau kemana lo?!orang belum selesai ngomong malah langsung pergi aja"ujar kak Anna terlihat semakin kesal.


Zia berhenti dan menoleh kebelakang, tepatnya melihat kearah kak Anna yang tengah menatapnya garang.


"Gue mau ganti baju dulu kak,sepuluh menit lagi bukankah aku ada pertemuan dengan pak Hendry"ujar Zia,setelah itu ia kembali melangkahkan kakinya menuju kearah kamar meninggalkan kak Anna yang masih menggerutu kesal.


"Cks,untung adik kesayangan gue lo bocah"dumel kak Anna pelan.


Wanita itu memilih duduk disofa saja untuk menunggu bos kecilnya itu berganti baju sembari menormalkan kembali emosinya.


Tak butuh waktu lama bagi Zia untuk mengganti baju,lima menit berselang gadis itu sudah terlihat keluar dari dalam kamar.Baju seragam sekolah SMA Hantara yang tadi ia kenakan sudah berganti dengan baju dengan luaran blazel coklat lengan pendek yang tampak elegan namun tentunya masih sesuai dengan usianya yang masih remaja.


(ilustrasi)



"Udah selesai lo,ganti bajunya?" tanya kak Anna kepada Zia.


"Menurut lo sendiri,gue udah selesai apa belum kak?"tanya balik gadis remaja itu.


"Udah"jawab kak Anna


"Trus ngapain masih nanya sih kak"ujar Zia tampak jengah.


"Ya basa basi aja"ujar kak Anna.


"Basa basi pala lo"ujar Zia kesal.


"Udah gak usah marah marah lo,ayo cepet jalan keruang pertemuan.


Udah telat nih"ajak kak Anna langsun


enarik tangan adik angkat sekaligus bos mudanya itu.


"Pelan pelan ngapa,gue manusia bukan gerobak"ujar Zia,saat kak Anna berjalan dengan cepat sambil menarik pergelangan tangannya.


"Gak usah bawel,lagian biar cepet"ujar kak Anna.


Ruang pertemuan_ _


Zia memasuki ruang pertemuan beserta kak Anna yang berjalan selangkah didepannya,saat memasuki ruangan terlihat pak Hendry yang langsung berdiri dari tempat duduk untuk menyambut kedatangan mereka.Rupanya rekan pertemuan mereka itu sudah datang terlebih dahulu sebelum mereka,Zia dan kak Anna langsung sedikit membungkuk untuk memberi hormat dan langsung dibalas dengan gerakan yang sama oleh pak Hendry bserta satu orang disebelahnya dengan gerakan yang sama.


Pak Hendry tidak datang sendiri tentunya,beliau datang bersama pengacaranya.


"Selamat siang pak Hendry,kami mohon maaf atas keterlambatannya"ucap Zia meminta maaf kepada salah satu pemegang saham diperusahaannya itu.


"Tidak masalah nona muda,saya sendiri juga baru sampai"ujar pak Hendry.


"Kalau begitu silahkan duduk kembali pak,kita akan mulai pembicaraannya sekarang"ujar kak Anna mulai bersuara.


Pak Hendry kembali duduk dikursinya yang tadi,sedangkan Zia sendiri duduk dikursi yang letaknya tepat dihadapan pak Hendry dengan meja sebagai pembatas.Sedangkan kak Anna sendiri duduk dikursi disebelah Zia,


pembicaraan keempat orang itu dimulai.Pembicaraan mereka tentu berkaitan dengan niat pak Hendry yang ingin melepas seluruh saham warisan dari mendiang sang ayah untuk dijual kepada Zia selaku pemilik perusahaan sekaligus pemilik saham terbesar diperusahaan,mereka membahas semuanya sampai tuntas hari ini juga.