
Zia saat ini sedang sendirian ruangan tempatnya dirawat,gadis itu melihat selang infus yang masih terhubung ke pergelangan tangan kananny lalu beralih memperhatikan seluruh area ruangan bercat putih itu.Saat ini tak ada seorangpun yang berada disana menemaninya,pagi tadi Zia meminta kakak ketiganya yaitu Lyn untuk masuk kuliah karena tak mau sang kakak ketinggalan materi dan juga mendapar masalah dari dosen karena tak masuk kelas.Papa dan maminya Zia juga tadi kesini dengan membawa makanan dari rumah untuknya.
Setelah Zia selesai makan,sang papa pamit untuk berangkat bekerja. Sedangkan sang mami harus pulang sebentar sekitar lima menit yang lalu untuk menjemput beberapa barang keperluan yang tertinggal dikediaman mereka,jadilah Zia sendirian diruangan itu.
Tok...tok...tok...kriet...
Zia menoleh kearah pintu saat mendengar suara ketukan dan pintu yang mulai dibuka dari luar,gadis itu menemukan wanita berjas putih yang melangkah masuk dan mendekati ranjang tempatnya berada.
"Bagaimana kabarmu hari ini Zia?"sapa wanita berjas putih khas dokter itu.
"Terasa lebih baik dari kemarin dokter,tapi aku tak tau bagaimana dengan kondisi didalam tubuhku saat ini"Zia dengan tenang menjawab pertanyaan wanita yang merupakan seorang dokter yang menanganinya sejak menjadi salah satu pasien tetap dirumah sakit itu,dokter Linda.
"Itulah tugas saya disini,saatnya pemeriksaan nak"ujar dokter Linda,
Zia hanya mengangguk pelan tanda mengerti.
Kini dokter Linda mulai melakukan berbagai rangkaian pemeriksaan terhadap Zia dengan bantuan seorang perawat yang Zia juga kenali,kak Cahaya alias Aya.Kalian masih ingat dengan perawat yang satu ini bukan.
"Tidak ada yang menemanimu disini Zia?"tanya perawat Cahaya kepada Zia sambil terus melakukan pekerjaannya.
"Tadi pagi ada,tapi mereka telah berangkat kuliah dan bekerja.Mami ku pamit pulang sebentar tapi nanti akan kembali lagi"jawab Zia yang tengah memperhatikan pergerakan stetoskop didepan dadanya.
"Aku sengaja mengijinkan mereka pergi,kalau tidak mana mungkin dokter Linda dan kakak bisa melakukan pemeriksaan terhadapku saat ini"sambung gadis itu.
"Saat bekerja-pun,kami harus main kucing kucingan dengan keluargamu Zia"ujar dokter Linda yang menggantung stetoskopnya kembali ke lehernya karena pemeriksaan telah selesai.
"Maaf soal itu dokter,tapi mau bagaimana lagi.Dokter mau tak mau harus mau diajak bekerja sama"ujar Zia.
"Kondisimu sudah bisa dibilang stabil Zia...,"ujar dokter linda yang membuat senyuman langsung terukir dibibir Zia,namun hanya bertahan sebentar karena lanjutan perkataan dokter Linda membuat senyuman gadis itu sirna seketika.
"Untuk saat ini,tapi tak tau kedepannya bagaimana.Mengingat hasil pemeriksaan intensif kemarin,hubungi nona Anna atau pak Teo supaya dokter bisa menerangkannya kepada mereka" lanjut dokter Linda.
"Lalu bag..."
"Biar kak Lyn saja yang akan menemui dokter nanti"
Kedua kelopak mata dokter Linda terlihat mengerjap cepat beberapa kali karena mendengar perkataan pasien mudanya ini,apa dirinya tak salah dengar
"Tunggu apa?kakak ketigamu?dia sudah tau?"tanya dokter itu beruntun.
"Hm,saya memutuskan memberitahunya kemarin malam dokter.Jadi dia sudah tau"ujar Zia.
Setelah mendengar perkataan pasiennya itu,dokter Linda langsung tersenyum senang.
"Dokter merasa senang karena kamu akhirnya mau terbuka kepada keluarga mengenai kondisimu ini nak,meski hanya seorang tapi bukankah kamu merasa sedikit lega"ujar dokter Linda kepada Zia,gadis yang duduk diatas ranjang itu mengangguk pelan.
"Dokter benar,kepala dan hatiku terasa sedikit lebih ringan setelah itu"ujar Zia.
Dokter Linda mengusap pelan pucuk kepala sang pasien beberapa saat
"Baiklah kalah begitu minta kakak ketigamu menemui dokter setelah datang nanti"pesan dokter Linda kepada Zia.
"Iya dokter"ucap Zia.
"Kalau begitu dokter dan perawat Cahaya pamit dulu,repot nanti kalau mami mu atau keluargamu yang lain datang dan melihat keberadaan kami disini"ujar dokter Linda yang berpamitan meninggalkan kamar rawat itu.
"Sikahkan dokter"Zia mempersilahkan keduanya pamit.
Dokter Linda mengambil langkah terlebih dahulu keluar dari ruang rawat itu disusul oleh perawat Cahaya dibelakang.
"Beristirahatlah Zia,kalau ada apa apa tekan tombol daruratnya ya"pesan perawat cahaya sebelum benar benar keluar dari ruangan itu.