
"Hah...SURAT KUASA PROYEK PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT"Liona membaca judul surat itu dengan volume suara yang terbilang keras sehingga seluruh anggota keluargany dapat mendengar dengan baik.
Arga langsung maju kedepan memastikan apa yang ada ditangan Lyn itu dan matanya terbelalak melihat map yang isinya bukan hal yang biasa tapi malah luar biasa.
"Lo masih sehat dek?"tanya laki laki muda itu spontan,sambil menatap Zia adik bungsunya dan isi map itu bergantian.
Zia yang mendengar perkataan spontan dari kakak tertuanya itu dengan spontan pula meletakkan punggung telapak tangannya dikeningnya sendiri
"Zia sehat kok kak,gak panas tuh"jawab gadis remaja itu.
"Bukan sakit yang itu maksud kakak kamu sayang tapi sakit yang lain"ujar papa mereka.
"Ooh"Zia hanya beroh ria saja mengetahui hal itu,ia kemudian menatap kakak ketiganya sekarang.
"Gimana kak,suka gak hadiahnya.Kalau enggak bilang aja,nanti Zia ganti yang lain deh"ujar gadis paling muda dikeluarga itu dengan entengnya.
"Gonta ganti gonta ganti,ini yang lo kasih ke kak Lyn itu bukan barang indomaret yang kalau lo salah beli bisa tukar balik asal masih nyimpan bon-nya ya dek.Ini pembangunan rumah sakit baru woi,gimana lo mau ganti kalau itu pembangunan pasti udah jalankan!"ujar Liona mencoba menahan emosinya karena melihat Zia yang sepertinya sudah sangat kelebihan uang itu.
"Ya kalau kak Lyn gak suka hadiah dari gue,pembangunannya masih lanjut tapi itu gak jadi dijadiin hadiah.
Ganti sama hadiah lain yang kak Lyn mau nantinya"jelas Zia.
"Trus rumah sakitnya itu nanti kalau udah selesai dibangun,buat siapa dong?"tanya Liona.
"Ya masih buat kak Lyn-lah,disinikan yang mau atau yang bakal jadi dokter
-kan cuma kak Lyn dong.Kecuali kalau lo mau jadi dokter juga Lio,bisalah dibicarakan"jawab Zia.
"Ogah,gue gak mau jadi dokter"ujar
Liona.
"Udah deh Lio,lo diem dulu.Gue masih belum denger komentarnya kak Lyn, jadi gimana kak Lyn hadiahnya suka gak?"tanya Zia menatap penuh harap kearah kakak ketiganya itu, mengharapkan respon yang positif.
Lyn yang melihat adik bungsunya itu tengah menunggu respon darinya akhirnya sedikit menghela nafas kemudian baru mulai berbicara
"Terima kasih atas kado rumah sakitnya,tapi ini sedikit berlebihan"ujar mahasiswa kedokteran itu.
"Papa setuju dengan kakak kamu Lyn,
Zia.Kamu memberikan sampai membangunkan rumah sakit baru itu agak berlebihan sebagai hadiah ulang tahun,terlebih bagi remaja sma seperti kamu"Renal berbicara setelah putri ketiganya sesaat selesai bicara.
Zia dengan cepat menggelengkan kepalanya sebagai tanda hadiah itu tidak berlebihan sama sekali
"Menurut Zia itu gak berlebihan sama sekali kok kak Pa,lagi pula meskipun aku masih SMA tapi aku-kan keuangan pribadiku sangat mendukung untuk melakukan itu"ujar gadis mud itu.
"Lagi pula ini akan sangat berguna nanti setelah kak Lyn lulus sekolah kedokteran dan saat sudah resmi menjadi seorang dokter,kak Lyn juga bakal terus mengingat aku"lanjut Zia.
"Udahlah Pa,Lio setuju dengan jawaban Zia kali ini.Lagi pula kalau mau berdebat melawan bocah ini,pasti gak bakal selesai karena pinter dia cari jawaban buat ngeles"ujar Liona.
"Btw dek,isi berangkas uang lo dibank berkurang berapa buat isi hadiah yang lo bilang cuma kertas HVS bercoret aja?"tanya Liona beralih pada Zia adiknya.
Zia mengangkat kedua bahunya mendengar pertanyaan Liona itu
"Gue gak tau pasti sih Lio, laporan pengeluaran keuangan gue dua bulan ini masih dipegang kak Ana.Belum ada waktu buat ngeceknya gue"jawab Zia santai.
"Udahlah,terserah lo aja dek dek.
Lio ngantuk udah tengah malam,Lio pamit tidur duluan ya"ujar Liona mengundurkan diri dari sana,capek dia tuh liat kelakuan adik satu satunya itu.