One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 82



"Zia a-apa ya-yang kamu lakukan?"tanya guru BK itu tampak memucat dengan tatapan tajam dari salah satu anak pemilik sekolah ini, Zia tersenyum miring kemudian berkata


"Keputusan mutlak apanya?belum mutlak karena ibuk belum mengintrogasi saya dan Neta"ujar Zia.


"Itu karena saya yakin nona muda dan sahabat anda tidak akan terlibat dalam masalah ini"jawab guru BK itu.


"Ibuk punya keyakinan dari mana?bahkan pak ketos yang masih sempat melihat kejadian akhirnya aja gak berani ngeklaim siapa aja yang terlibat atau yang salah dalam masalah ini"ujar Zia dengan kesal.


"Jadi nona muda mau apa?"tanya guru BK itu mulai takut.


"Hukum saya dan Neta juga,trus kasih hukuman yang setimpal untuk Ken juga.Atau..."ujar Zia menatap tajam gurunya.


"A-atau apa?"


"Atau mungkin anda harus cari lokerĀ  pekerjaan baru"ujar Zia dan langsung membuat guru BK itu kaget sekaligus takut benar benar dipecat dari sekokah ini.


Diluar ruangan BK sendiri terdapat tiga orang yang menunggu dengan perasaan yang berbeda beda,mereka adalah Rena,Liona,dan Juna.


Liona yang khawatir dengan dengan qsaudarinya dan juga Ken,ia takut kedua orang itu terkena masalah.Juna sudah pasti khawatir dengan nasib temannya,hanya Rena saja yang terlihat santai santai saja sejak tadi.Rena tampak tak khawatir karena ia yakin Zia-Neta dan teman mereka yang satu lagi pasti bisa mengatasinya,gadis itu memilih menunggu sambil makan roti dan minum jus jeruk disebelah Liona yang masih memasang muka tegang dan khawatir.


Ceklek...akhirnya setelah menunggu lama pintu ruang BK terbuka dan keluar lima orang yang ditunggu tunggu dari tadi.Raka beserta Zia,Neta,Danil,dan Ken keluar dari dalam ruang BK secara berurutan, Liona langsung berdiri dari tempat duduknya tadi dan langsung menghampiri Ken dan Zia.


"Kalian gak dihukum aneh-anehkan?"


tanya Liona terlihat khawatir,tapi gak ada yang menyauti pertanyaannya itu.


"Ken?"tanya Liona pada Ken.


"Gak papa kok Lio,aku cuma diskor satu hari aja"ujar Ken kepada Liona.


"Lah kok diskor sih,kan tadi cuma masalah biasa dong?"ujar Liona.


"Gak tau tuh,padahal cuma ini tuh cuma masalah sepele tapi ketu prik itu yang alay alayin"ujar Ken.


Disisi lain Rena menghampiri Zia dan Neta serta Danil.


"Lo bertiga gak papa?"tanya Rena pada ketiganya.


"Gak papa kak,kita bertiga cuma diskor satu hari aja"saut Neta.


"Wih lo juga siapa nama lo?keren banget bela kelas lo"puji Rena kepada Danil.


"Eh makasih hehehe..."ujar Danil langsung tersipu malu dipuji salah satu visualnya sekolah.


"Dih malah malu malu kucing dia"cibir Neta pada ketua kelasnnya itu.


"Diem lo onta"ujar Danil.


"Zia kok dari tadi diem?"tanya Rena melihat gadis itu hanya diam saja sejak keluar dari dalam ruang BK,raut wajah gadis itu juga tampak tak terlalu bersahabat.


"kekelas"ujar gadis itu langsung beranjak dari sana tanpa menunggu sahabat dan teman temannya.


"Emosi bocah itu tadi kayaknya hampir lepas kak,jadi makanya jadi gitu sekarang"ujar Neta kepada Rena.


"Kalau gitu sana cepet susulin"suruh Rena pada Neta.


~skip~


Sekarang Rena sedang berada didalam mobilnya bersama Liona,seperti pembicaraannya tadi pas dikelas kalau ia berjanji akan menemani sahabatnya itu untuk membeli perlengkapan untuk kejutan ulang tahun untuk Zia besok.


"Ren kita ke mall biasa aja ya"ujar Rena kepada Liona.


"Oke"saut Rena singkat,ia tengah fokus melihat kedepan sambil mengendalikan kemudi mobilnya.


"Eh Ren gue juga mau sekalian hadiah buat adik gue,kasih saran dong apa hadiah yang cocok buat gue kasih ke Zia"ujar Liona meminta saran kepada Rena.


"Zia biasanya suka hadiah yang kayak apa?"tanya Rena.


"Gak tau,gue belum pernah kasih dia hadiah"jawab Liona.


"Oke,atau enggak hobynya apa?"tanya Rena.


"Gak tau"jawab Liona.


"Zia lebih suka barang yang feminim atau yang sporty?"tanya Rena lagi.


"Gak tau"lagi lagi Liona menjawab tak tahu.


"Kok lo gak tau satupun sih,padahal lo kakaknya"ujar Rena mulai kesal karena Liona dari tadi jawab gak tau mulu.


"Ya gue emang gak tau Lio,lagian gue aja baru tinggal serumah sama Zia juga baru"saut Liona.


"Tapi masa lo gak tau satupun sih, emang lo gak pernah nanya nanya gitu?"tanya Rena kepada sahabatnya itu.


"Enggak"jawab Liona.


"Yang bener aja,masa gak pernah nanya atau cerita cerita sih?"ujar Rena kaget.


"Enggak,gue sama adik gue itu emang lumayan akrab kalau dibanding dia sama kakak kita yang lain.Tapi kalau lagi dirumah,gue sama Zia itu bisa dihitung jarang interaksi.Antara karena tempat tinggal gue itu yang keluasan atau Zia emang jarang keluar kamar kalau lagi dirumah"jelas Liona.


"Kita berdua juga belum pernah ngobrol soal hal hal yang pribadi yang kayak gitu"lanjut Liona menjelaskan kepada Rena menapa i tidak tau jawaban dari setiap pertanyaan sahabatnya itu sebelumnya.


"Huh gini amat lo berdua saudaraan"ujar Rena menghela nafas berat,ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.Bagaimana bisa sahabatnya itu tak tau apapun tentang adiknya sendiri,disisi lain ia juga tak bisa menyalahkan Liona sepenuhnya.


"Mau gimana lagi"saut Liona


"Kayaknya lo sama Zia sesekali harus me time berdua deh buat cerita cerita tentang pribadi masing masing,ya walaupun gak semua minimal lo tau hal hal dasar tentang adik lo"ujar Rena memberi saran pada Liona.


"Untung gue itu sahabat lo dan tau kenapa lo gak begitu tau tentang adik lo karena gue tahu alasannya jadi masih bisa buat maklumin,tapi beda sama pandangan orang diluar sana yang gak tau apa apa"lanjut gadis itu.


"Iya deh,entar gue cari waktu yang pas trus gue ajak adik gue buat me time bareng"ujar Liona mengiyakan saran dari Rena,menurutnya apa yang sahabatnya itu benar dan gak salah sama sekali.


Dalam hati Liona sendiri menyadari kalau ia dan adiknya itu bisa dibilang jadi saudara cuma karena hubungan darah aja,tapi kalau diliat dari sisi lain selain hubungan darah keduanya sama sekali belum bisa dilihat sebagai saudari karena minimnya pengetahuan dan pemahaman antaranya dan Zia pikir Liona.


"Kita udah sampai"ujar Rena kepada Liona,


Mobil yang mereka kendarai itu terlihat memasuki area parkiran mall dan berhenti disana.