One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 212



Sudah lebih setengah jam berlalu,namun keenam orang yang sibuk bermain Voli ditepi pantai itu masih terlihat sengit bermain.


Buk...Zia berhasil menghalau dan memukul keras bola yang datang dari arah dearah lawan kembali keasalnya hingga berhasil menambah perolehan poin timnya,berbeda dari kelima anggota keluarganya yang lain yang terlihat sudah banyak berpeluh.


Zia bahkan hampir tak berkeringat,


gadis itu memang sangat sulit untuk berkeringat meski melakukan aktivitas fisik berat.


"Yes bagus dek,poin kita nambah lagi"ujar sang papa senang.


"Yah poin kita ketinggalan makin jauh aja"ujar Liona yang tampak cemberut,berbanding terbalik dengan ekspresi papanya.


Hah...hah...ha....nafas Zia memburu,


ia meletakkan kedua tangannya dilutut sebagai penopang dirinya yang menunduk.Dan ternyata nyonya Sela memperhatikan hal itu,wanita itu akhirnya meminta untuk menyudahi permainan.


"Semuanya,kita udahan yuk.Adik kalian keliatannya udah kecape-an banget ini"ujar nyonya Sela kepada anggota keluarganya yang lain.


"Lah udahan,lo emang udah kecape-an banget dek?"tanya Liona pada adiknya.


Zia yang masih terah engah menstabilkan laju nafasnya hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban.


"Yasudah,ayo kita ketempat Lyn saudari kalian saja.Permainannya kita sudahi saja"ujar tuan Renal selaku kepala keluarga.


"Yuklah,kakak juga udah capek"ujar Arga selaku yang tertua.


Keenamnyapun berjalan meninggalkan area permainan mereka tadi dan berjalan menuju ketempat dimana Lyn berada,Lyn yang melihat keluarganya berjalan kearahnya itupun langsung menyimpan kembali kamera palaroidnya serta semua foto palaroid yang sudah dia ambil.


Zia berjalan paling belakang karena ia memang mengambil langkah pelan, tanpa dia sadari disebelahnya ada Gia kakaknya.


Rasa lelah Zia langsung menguap,raut wajah gadis itu menjadi datar.Namun itu hanya sebentar sebelum akhirnya Zia mengubahnya dengan cepat karena sadar kalau ia sudah hampir sampai ketempat Lyn kakaknya berada,Zia menuju tempatnya duduk tadi.


"Ponselmu sejak tadi berbunyi"ujar kak Lyn pelan hanya bisa didengar jelas oleh Zia.


Zia meraih ponselnya dan dalam posisi masih berdiri memeriksa apa yang menjadi penyebab ponselnya terus berbunyi sesuai perkataan kakak ketiganya itu,gadis itu sedikit menyergit kemudian terpasang ekpresi yang entahlah sangat tak dapat diartikan.


"Ngapain lo dek?"


Zia langsung refleks menyembunyikan ponselnya dibalik tubuhnya akibat kehadiran Liona yang tiba tiba dihadapannya.Reaksi yang diberikan gadis itu pula yang membuat Liona heran dan akhirnya jadi penasaran apa yang adiknya itu tadi lihat diponsel itu,ide jahil seketika muncul diotak Liona.


"Gak usah kaget gitu ngapa dek"ujar gadis itu,kemudian ia melangkah menjauh dari sana dan sebenarnya itu hanya akal akalan Liona saja supaya adiknya itu lengah.


Melihat Liona yang sudah menjauh darinya,Zia kembali memindahkan posisi ponselnya kedepan dan membaca kembali pesan apa yang tertera disana sekali lagi untuk memastikan tadi dirinya tak salah baca.


Melihat Zia yang lengah,Liona dengan langkah perlahan mendekat kembali dan Hap..ponsel itu berhasil dirinya ambil dari tangan Liona.


"Lio!"seru Zia menyadari ponsel ditangannya telah berpindah tangan,


gadis itu berusaha merebut ponselnya kembali dari Liona namun Liona dengan gesit menghindar lalu berlari menjauh dari sana membawa kabur ponsel milik adiknya.


Menyadari ponselnya dibawa lari,Zia tentu tidak tinggal diam saja.Gadis itu ikut berlari mengejar Liona,dan terjadilah aksi kejar kejaran kedua saudari itu.


"Liona!Zia!Jangan Berlarian Seperti Itu Nak,Nanti Kalian Jatuh!"seru tuan Renal kepada dua putri termudanya itu.


"Hais dari mana kejahilan anak kelima-ku itu berasal?"gumam Laki laki paruh baya itu,melihati kedua putrinya itu.


"Tentu saja darimu Pa,apa kamu tidak sadar akan hal itu?"saut sang istri disebelahnya.