
Zia membuka matanya perlahan lahan,matanya melirik kesegala arah dan berakhir disebelahnya saat ia merasakan kalau ada sesuatu didekatnya.Dan ternyata itu adalah kakak ketiganya yang mungkin tak sengaja tertidur saat menjaganya,Zia mengalihkan pandangannya menatap lurus keatas tepat dilangit langit kamar.Dirinya mengingat ngingat percakapannya beberapa waktu lalu dengan dokter yang memeriksa kondisinya setelah pingsan tadi.
Beberapa waktu lalu___
Dokter yang dihubungi Arga dengan cepat sampai diVilla tempat keluarganya menginap,dan tanpa perlu buang waktu lagi sang dokter segera diminta untuk memeriksa kondisi Zia yang tiba tiba pingsan.
Selama bu dokter memeriksa dan memastikan bagaimana kondisi Zia, semua anggota keluarganya menunggu didepan kamar gadis itu.Meninggalkan hanya sang dokter dan Zia didalam kamar.
Eugh...lenguhan kecil terdengar dari gadis yang pingsan itu.
"Nona muda sudah bangun ternyata" suara perempuan dewasa memasuki indra pendengaran Zia,membuat gadis yang baru sadar itu bertanya tanya siapa yang bersamanya itu.
"Saya adalah dokter yang dipanggil keluarga nona untuk memeriksa kondisi nona yang tiba tiba pingsan"jelas bu dokter memperkenalkan dirinya,saat sadar kalau gadis remaja itu tengah bingung akan siapa dan untuk apa keberadaan dirinya disana.
"Ah dokter ya"gumam Zia agak pelan,
ia melirik tangannya yang sudah terpasang selang infus yang terhubung langsung dengan kantong infus yang tergantung pada tiang khusus disebelah tempat tidurnya.
Zia kembali melihat kearah dokter itu,sang dokter terlihat masih menggunakan stetoscop ditelinganya.
Hal ini membuat gadis itu bisa menebak kalau sang dokter sudah memeriksa kondisinya dan apapun hasilnya sudah dipasti itu akan dilaporkan kepada keluarganya,tentu itu tak boleh terjadi.
"Dokter"panggil Zia.
"Ya nona muda,anda membutuhkan atau merasakan sesuatu?"tanya sang dokter dengan sigap menyauti.
Namun Zia menggeleng dan menatap dokter itu dengan serius serta sedikit aura intimidasi yang jarang dirinya keluarkan,membuat dokter itu sedikit gugup karena itu.
"Anda pasti seorang dokter umum dan juga anda pasti sudah memeriksa kondisi saya bukan?"ujar Zia.
"Iya nona,saya seorang dokter umum dan saya memang sudah memeriksa kondisi nona"jawab dokter itu.
"Jika keluargaku bertanya apa yang terjadi,katakan saja saya hanya kelelahan.Jangan katakan apapun yang anda temukan saat memeriksa kondisi saya tadi,baik kepada keluarga saya maupun orang lain siapapun itu"ujar Zia dengan sengaja berbicara dengan nada datar.
"Tapi nona,kondisi anda ada yang..."
Dokter itu sekejap terdiam dengan pikiran bimbang,apakah ia harus menuruti permintaan gadis remaja ini atau tetap memberitahu kondisi yang mungkin terjadi pada gadis itu kepada keluarga sang gadis.Selain itu secara bersamaan ia juga takut harus berbohong kepada orang yang tengah menunggu diluar kamar ini,
orang itu adalah Tuan Renal dari Keluarga Antara.
"Tidak usah kha...Aww.."perkataan Zia terhenti saat ia merasakan denyutan yang membuatnya kesakitan diarena kepalanya.
"Anda baik baik saja nona?kepala anda terasa sakit?"tanya dokter itu terlihat khawatir dan bergerak hendak memeriksa Zia lagi,namun hal itu segera dihentikan oleh Zia.
"Tidak usah dokter,saya minta tolong ambilkan botol obat saya saja disana"ucap Zia meminta tolong sambil menunjuk kearah laci nakas.
Dokter itu hanya bisa menuruti permintaan gadis itu dengan cara membantu mengambilkan sebuah botol obat didalam laci nakas,dalam hati dirinya langsung benar benar paham dengan kondisi pasiennya itu saat melihat jenis dan nama obat yang tertera pada botol yang diambilnya.
Zia langsung menelan beberapa butir pil sekaligus dibantu dengan air putih yang selalu tersedia dikamarnya,setelah itu ia meminta tolong lagi kepada dokter itu untuk menyimpankannya kembali.
"Salah satu efek obat ini akan membuat saya mengantuk,sepertinya anda sebagai dokter paham akan hal itu"ujar Zia.
"Anda boleh keluar dan saat diluar katakan saja seperti yang saya minta tadi dan tidak usah khawatir dengan kekuasaan papa saya,saya bisa menjamin anda tidak akan terkena masalah apapun.Dan tidak usah khawatir dengan kondisi saya,saya sudah punya dokter ahli untuk memantau saya"lanjut Zia yang bisa menebak apa yang ada dipikiran Dokter yang dipanggil keluarganya itu.
"Baik nona,saya mengerti.Kalau begitu saya permisi,dan selamat beristirahat"ucap sang dokter pamit meninggalkan kamar.
"Hm,terimakasih sudah mau diajak kerja sama dokter"ucap Zia yang tentunya tak lupa berterima kasih.
"Baik nona muda,sama sama"
Tanpa sadar Zia melamun mengingat hal itu,membuatnya tak sadar kalau Lyn kakaknya sudah terbangun sejak semenit yang lalu.
"Ada ya orang pingsan,saat sadar malah melamun?"suara dingin dan datar khas dari sang kakak barulah menyadarkannya dari lamunan.
"Kakak sudah bangun?"tanya Zia langsung,tak lupa memasang senyuman khasnya.
"Sudah,bagaimana kondisimu?"tanya kak Lyn setelah menjawab peetanyaan dari Zia.
"Sedikit lebih baik"jawab Zia seadanya.