
Gia saat ini sedang berdiri didekat pintu lobi perusahaan ayahnya,gadis itu tengah menunggu Jevan kekasihnya yang berjanji akan menjemputnya disana.Kabar terakhir yang dikirim pria itu mengatakan kalau dirinya sudah hampir sampai,oleh sebab itulah kenapa Gia memilih menunggu Jevan disana.
Tit...tit...tit...akhirnya yang ditunggu tunggu tiba,itu adalah suara klakson mobil milik Jevan.
Mobil pria itu berhenti tepat didepan Gia berdiri,kaca mobil terlihat menurun menampilkan sosok laki laki dengan senyuman manis.
Jevan turun dari dalam mobil kemudian langsung bergerak membukakan pintu agar kekasihnya bisa masuk kedalam mobil.
"Silahkan masuk cantik"ujar Pria itu mempersilahkan Gia
"Terima kasih"ucap Gia kepada Jevan,perempuan itu masuk kedalam mobil.
"Sama sama"balas Jevan menutup pintu mobil tempat Gia masuk kemudian kembali masuk kedalam mobil melalui pintu mobil bagian kursi pengemudi.
Setelah memastikan dirinya dan Gia sudah memasang seatbel,barulah Jevan mulai menjalankan kembali mobilnya meninggalkan area depan gedung perusahaan.
"Maaf aku datang sedikit terlambat,
tadi temanku memintaku untuk tinggal lebih lama"ujar Jevan meminta maaf kepada Gia.
"Tak masalah,aku juga baru menyelesaikan pekerjaanku hari ini"saut Gia.
"Ngomong-ngomong,bagaimana keadaan temanmu dan istrinya itu?"tanya Gia.
"Keadaan temanku dan istrinya tadi terlihat baik,hanya saja temanku itu sedikit gugup dan khawatir tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk putrinya yang baru lahir.Makanya temanku itu memintaku untuk tinggal lebih lama tadi,ia sepertinya membutuhkan tempat curhat"jawab Jevan.
"Baguslah jika baik baik saja,aku cukup senang untuk itu"komen Gia.
"Em kau tau,tadi saat dirumah sakit aku bertemu dengan siapa selain dengan temanku itu?"ujar Jevan,pria itu masih tetap mengemudikan mobil dengan baik.
"Siapa?"tanya Gia.
"Dengan adik bungsumu,aku melihatnya keluar dari bagian apoteker rumah sakit"jawab Jevan,Kening Gia sedikit menyergit mendengar hal itu.
*Untuk apa anak itu disana?*batin Gia bertanya karena merasa sedikit penasaran,namun ia gengsi untuk bertanya kepada kekasihnya.Padahal ia yakin kalau Jevan pasti sempat berbincang dengan saudarinya itu.
"Kami sempat sedikit berbincang,Zia bilang dia kerumah sakit untuk melakukan ChekUp kesehatan rutin untuk memastikan dia tetap sehat.
Dan soal dia keluar dari bagian apotik rumah sakit,itu karena ia hendak menebus beberapa vitamin.Jadi tak usah khawatir"ujar Jevan menjelaskan akan keberadaan adik kekasihnya itu dirumah sakit,ia yakin kalau kekasihnya itu ingin tahu hal itu.
"Untuk apa aku khawatir dan untuk apa kamu menjelaskan hal itu,itu bukan urusanku dan tak penting juga bagiku"ujar Gia sedikit ketus.
"Baiklah itu memang tidak penting bagimu,tapi aku hanya memberitahu hal ini karena kamu kakaknya"ujar Jevan,ia sangat faham sekali bagaimana sifat sang kekasih kepada Zia.
"Tapi aku ada sedikit pertanyaan dan mungkin juga permintaan"ujar Jevan kepada Gia.
"Memang masih ada kaitannya dengan Zia,tapi jangan marah seperti itu. Aku hanya ingin memastikan sesuatu sayangku"ujar Jevan,Pipi Gia langsung memanas saat Jevan memanggilnya dengan sayangku.Tak mau Jevan melihat pipinya yang mulai merona,perempuan itu memalingkan wajahnya menghadap kearah jendela.
"Apa itu?"tanya Gia terdengar ketus.
Jevan tersenyum melihat kekasihnya itu salting akibat panggilannya tadi,tapi pria itu memilih tak membahas hal itu karena ia tahu sifat gengsi kekasihnya itu setinggi langit.
"Tadi Zia bukan hanya menebus vitamin tapi juga obat tidur,saat aku bertanya apakah ada anggota keluarga yang mengetahui kalau ia meminum obat itu?Zia menjawab kalau kamu tahu.Apa benar kamu tahu soal itu?"tanya Jevan kepada Gia.
"Ya aku memang tahu soal itu, kemarin"jawab Gia membenarkan jawaban Zia.
"Ooh baguslah,itu artinya adikmu tidak berbohong kepadaku tadi"ujar Jevan.
"Itu tadi pertanyaanku sekarang tinggal permintaanku yang belum,
Aku ingin memintan kamu untuk memberi Zia supaya jangan tidak mengonsumsi obat tidur terlalu sering.Itu dapat mengakibatkan efek jangka panjang untuknya,terlebih dia masih sangat muda.Sebenarnya aku sudah memberitahunya soal hal itu tadi tapi aku takut dia tidak mengindahkan perkataanku itu,namun jika kau yang mengatakannya pasti Zia akan mendengarkan"ujar Jevan panjang lebar,sedangkan Gia hanya menyimak sejak tadi.
"Kamu maukan?"tanya Jevan sambil menoleh kearah sang kekasih.
"Loh muka kamu kok kayak kesel gitu?"tanya Jevan melihat raut wajah kekasihnya yang tampak kesal terhadapnya.
"Kamu kok keliatan peduli banget sih sama anak itu,jangan bilang kamu sebenarnya suka sama dia"tuduh Gia, perempuan itu merasa kesal mendengar sang kekasih yang terlihat sangat peduli dan perhatian terhadap saudarinya itu.
Hahaha....suara tawa Jevan langsung pecah mendengar perkataan kekasihnya,laki laki itu bisa menebak kalau sang kekasih tengah merasa cemburu.
"Kenapa kamu ketawa?jadi bener kamu naksir sama anak itu?yaudah pacaran aja sana ama dia"ujar Gia dengan kesal.
"Eh jangan marah dong sayang,kamu gak usah cemburu gitu"
"Siapa yang cemburu?aku gak cemburu!"seru Gia memotong perkataan sang kekasih.
Menyadari kalau kekasihnya itu sudah mulai mengamuk,Jevan mengulurkan sebelah tangannya mengusap pucuk kepala sang kekasih sedangkan tangan satunya masih tetap mengendalikan setir kemudi.
"Aku memang perhatian dan peduli sama Zia adik kamu tapi itu bukan berarti aku suka atau tertarik sama dia,Kamu satu satunya perempuan selain ibu dan kakak aku yang paling aku sayangi dan cintai.
Aku tadi ngomong kayak gitu karena aku udah anggap Zia itu adik aku sendiri,jadi wajar dong seorang kakak khawatir sama adiknya sendiri.
Apalagi Zia itu baik banget sama aku,adik kamu itu banyak banget ngasih efort buat aku sampai bisa jadiin kamu kekasih aku seperti sekarang ini"jelas Jevan kepada Gia, supaya kekasihnya itu tidak berfikir hal yang aneh aneh.Jevan melirik kearah Gia yang tidak memberi respon apapun,ia kemudian melanjutkan perkataannya.
"Aku juga tahu pasti segimana gak sukanya kamu terhadap adik bungsu kamu itu dari dulu bahkan sampai sekarang,tapi bukannya orang pernah bilang kalau hubungan yang gak bisa dipisahin itu adalah hubungan darah antar manusia.Jadi sebesar apapun benci atau ketidak sukaan kamu terhadap Zia,aku harap kamu setidaknya memiliki sedikit rasa simpati terhadapnya.Kalau gak bisa memberikan simpati sebagai saudari sedarah,setidaknya beri dia simpati sebagai sesama manusia"ujar Jevan Setelah mengatakan hal panjang itu, laki laki itu memilih untuk fokus pada kemudi mobilnya saja.
Dikursi sebelah,terdapat Gia yang sedikit tertegun mendengar perkataan kekasihnya itu.Perempuan itu memilih kembali menatap kearah jendela mobil saja.