
Zia melempar ponselnya dengan asal diatas tempat tidurnya,disusul dirinya.Dengan masih menggunakan dress yang ia pakai malam itu untuk makan malam bersama keluarganya, gadis itu diam berbaring telentang sambil menatap kearah langit langit kamarnya.Kabar baru yang ia dapat dari Juna tiba tiba menambah beban pikirannya yang sudah banyak dari awal,Zia kemudian memejamkan matanya.Kepalanya tiba tiba sakit, dadanya mulai terasa nyeri,dan ia mulai merasa mual.Cks sepertinya ia tidak akan bisa tidur nyenyak lagi malam ini,nampaknya penyakitnya kambuh lagi.
Dengan memaksakan kaki dan badannya yang terasa nyeri,gadis itu beranjak dari atas kasur untuk meminum obat miliknya yang ia simpan didalam laci nakas dibantu dengan segelas air putih.Semua pil yang selalu diminumnya itu memang bukan berjenis obat yang akan menyembuhkan penyakitnya,melainkan hanya pil yang akan mengurangi semua rasa sakit yang ia rasakan saat gejala penyakitnya datang sewaktu waktu.Hal itu karena Zia memang sudah berhenti melakukan pengobatan ataupun mengonsumsi semua bentuk obat yang bertujuan untuk penyembuhannya,sejak kanker darah pada tubuhnya sudah mencapai stadium akhir.Dan efek semua pill itu tidak langsung bisa menghilangkan semua rasa sakit itu dalam sekejab saja,melainkan perlahan mengurangi rasa sakit saja.
Setelah merasa efek pil yang diminum sudah mulai bereaksi pada tubuhnya, Zia langsung beranjak kekamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus ganti baju.Mau bagaimanapun, setidaknya ia harus mengistirahatkan tubuh dan pikirannya dulu meski mungkin akan susah.
Pagi__
Zia berjalan mendekat ke meja makan untuk melakukan kegiatan rutin setiap pagi sejak ia tinggal bersama keluarganya yaitu untuk sarapan bersama,namun terlihat ada sedikit berbeda dengan penampilan anggota termuda keluarga Antara itu.Zia terlihat tidak memakai Almamater dilapisan luar seragam sekolahnya melainkan sebuah hodie berbahan cukup tebal berwarna Navy,sedangkan Almamaternya hanya ia tenteng disalah satu tangannya saja.
"Loh Almamaternya kenapa gak dipake sayang,malah pake hodie gitu?"tanya tuan Renal yang menjadi orang pertama yang menyadari penampilan berbeda putri bungsunya itu.
"Gak kenapa napa pa,cuma Zia sedikit kedinginan aja pagi ini"jawab Zia yang bergerak duduk dikursi kosong disebelah Liona sama seperti biasanya.
"Dingin?gak salah lo dek,cuaca pagi ini hangat loh"ujar Liona mengomentari jawaban dari sang adik, sedangkan Zia hanya mengangkat kedua bahunya saja memilih untuk memulai sarapan tanpa menyauti perkataan saudarinya itu.Moodnya sedang tak mendukung untuk bicara banyak pagi ini,ekpresinya bahkan tak secerah biasanya.
Liona menyergit karena tidak me dapat respon atau sautan dari adiknya itu,ia menoleh dan memperhatikan prnampilan Zia dengan seksama.Kulit putih gadis itu terlihat sedikit memucat,apalagi dibagian wajah adiknya itu yang jelas terlihat apalagi Zia menggunakan bedak yang tipis.Warna liptin yang digunakan sang adik juga sedikit lebih cerah dari biasanya, Liona merasa ada yang tidak beres.
"Panas,lo sakit dek?"
Perkataan Liona langsung mengalihkan perhatian orang tua dan kakak tertuanya yang sudah ada dimeja makan.
"Benarkah?"tanya Sela merespon perkataan putri ketiganya,wanita itu langsung berdiri dari tempat duduknya kemudian segera menghampiri putri bungsunya.
Sela langsung meletakkan punggung telapak tangannya kepada kening sibungsu untuk memastikan perkataan putri ketiganya benar.
"Yaampun sayang,badan kamu panas banget.Gak usah masuk sekolah ya, istirahat dirumah dulu"wanita itu.
Zia langsung spontan menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar perkataan sang mami
"No mami,Zia mau sekolah buat ujian.
Zia gak papa kok,itu cuma panas mungkin karena kecapeaan gara gara Zia bergadang tadi malam"ujar Zia dengan cepat menolak.