
"Gak pernahkan,jadi jangan terlalu dekat dengan dia karena belum tentu gadis itu anggap kamu maupun kita semua keluarganya Lio"ujar Gia,kemudian putri sulung keluarga Antara itu langsung pergi meninggalkan meja makan.
Meninggalkan semua anggota keluarnya yang terdiam dalam pikiran masing masing,sepertinya karena kata kata yang gadis itu ucapkan tadi.
"Kenapa semuanya membuatku kesal,
terutama anak pengganggu itu"gumam Gia berjalan dan memasuki mobil miliknya,gadis itu hendak berangkat ke kampus.
DIsisi lain Zia sudah sampai disekolah atau mungkin lebih tepatnya saat ini gadis itu sedang berada di atap gedung sekolahnya,
ia tadi berbohong pada keluarnya berkata kalau ia mempunyai urusan lain sebelum ke sekolah namun nyatanya itu semua tidaklah benar.
Zia memilih untuk berangkat duluan karena dua alasan yaitu yang pertama karena ia ingin ketempat ini terlebih dahulu sebelum sekolah mulai ramai oleh murid murid,alasan kedua karena Zia merasa sedikit tidak nyaman akan pandangan dua pasang mata yang tertuju kearahnya saat dimeja makan tadi.
Hah Zia menghela nafasnya pelan,pandangannya lurus ke depan memandang rupa area lingkungan sekolah milik keluarga Antara dari pinggir beton pembatas atap gedung sekolah.Hampir semua sudut sekolah dapat terlihat dari tempatnya ini,menurutnya area sekolah ini cukup cukup luas.
Zia berbalik dan pandangannya langsung tertuju pada bangku usang yang letaknya tak jauh dari tempatnya berada saat ini,di atasnya tergeletak satu botol air mineral kemasan yang isinya tinggal setengahnya saja dan juga satu botol kaca kecil transparan berisi beberapa butir pil didalamnya.Zia berjalan mendekat kearah kursi usang itu dan segera meraih botol obat itu
"Hanya tersisa beberapa butir lagi,kayaknya gue harus segera beli lagi"gumamnya pelan,kemudian menyimpannya kedalam saku rok miliknya.
Zia mengambil ponsel disaku almamaternya,ia hendak menghubungi seseorang saat ini.
"Halo"sapa orang yang ia hubungi.
"Halo kak Teo"ujar Zia
"Ada apa dek,tumben nelpon gue pagi pagi gini?"tanya Teo dari seberang sana.Kalian masih ingat Teo salah satu orang kepercayaannya Zia di perusahaan gadis itu.
"Kak bisa tolongin gue gak?"ujar Zia bukannya menjawab malah bertanya balik.
"Bisa,mau minta tolong apa?"tanya Teo
"Tolong cariin gue dokter dong,jangan tanya buat apa pasti udah tau"ujar Zia.
"Oh soal itu,oke biar gue cariin.
Tunggu kabar aja dari gue segera"saut Teo setuju untuk menolong Zia.
"Makasih,kalau gitu gue tutup dulu ya lagi disekolah nih"ujar Zia.
"Oke,gue juga mau berangkat kerja.
Gawat kalau gue telat,gaji gue bisa gak dikasih sama atasan"ujar Teo terdengar sedikit menyindir.
"Mana mungkin,bos lo kan orangnya baik,cantik,dan rajin menabung kak.Jadi gak mungkin gak dikasih"saut Zia
"Ye malah muji diri sendiri"ujar Teo.
"Bukan muji tapi kenyataan itu mah"ucap Zia
Setelah itu gadis remaja itu langsung mematikan penggilan itu,tanpa karena ia yakin kalau gak dimatiin bisa bisa malah makin panjang omongan mereka.
Zia memasuki kelasnya yang sudah ramai dan langsung menuju ke arah tempat duduknya dan Neta.
"Pagi Neta"sapa nya pada sang sahabat.
"Pagi juga Zia"sapa balik Neta menoleh sebentar kearahnya kemudian sahabat sekaligus teman sebangkunya itu langsung fokus pada kepada buku tulis di atas mejanya,Neta tampak sedang berfikir serius sambil mengetuk ngetuk meja dengan pulpen ditangannya sesekali.
"Lo lagi ngapain sih ta?serius banget keliatannya"tanya Zia pada Neta disebelahnya,gadis itu sudah duduk di kursinya.
"Gue lagi buat tugas MTK nih,gue lupa kalau dikumpul hari ini.Mana susah lagi,gak ngerti gue"jawab Neta yang terlihat berfikir keras menatap deretan soal matematika dibuku tugasnya.
"Btw lo gak ngerjain?nanti dihukum loh kalau gak ngerjain,guru killer soalnya yang ngajar mapel ini"tanya Neta pada Zia yang terlihat tenang tenang saja.
"Gue?tugas gue mah udah selesai dari kemarin,mau gue kasih liat gak"ujar Zia menawarkan dengan sukarela kepada sahabatnya itu untuk mencontoh tugasnya.Ia mengambil buku tugasnya didalam laci dan menyodorkannya ke depan sang sahabat.
"Serius udah selesai?"tanya Neta segera meraih buku tugas Zia tersebut,memastikan apakah temannya itu memang benar sudah selesai dan ternyata memang sudah selesai semua.
"Wah,kalau gitu gue liat yak"ujar Neta langsung dengan secepat kilat menyalin semua deretan angka yang tertera dibuku tugas Zia itu ke dalam buku tugas miliknya.
"WOI!ADA YANG TUGASNYA UDAH SELESAI BELUM?GUE LIAT DONG"teriak salah seorang murid cowok teman sekelas Zia dan Neta dari sisi lain kelas.
"LIAT TUGAS GUE AJA SINI"ujar Zia sambil berteriak pada teman sekelasnya itu
Tanpa tunggu lama teman kelasnya itu langsung mendekat kearah meja Zia dan Neta,bukan hanya anak itu aja tapi teman sekelas Zia yang lain juga ikut datang mendekat meminta jawaban juga.
"Serius Zi,boleh liat tugas lo?tanya murid cowok tadi pada Zia.
"Kita juga mau liat dong Zi"ujar salah satu murid mewakili teman teman sekelas yang lain,yang ingin melihat jawaban tugas Zia juga.
"Boleh,salin aja gak papa asal jangan ketahuan guru,tapi salah satu diantara kalian foto aja trus kirim ke grup kelas soalnya Neta masih nyalin tugas gue"ujar Zia pada semua teman kelasnya itu.
"Oke kalau gitu gue yang foto aja"ujar murid cowok yang tadi.
"Ta pinjem buku Zia bentar dong"ujar anak itu.
"Nih foto cepet,jangan lama lama"ujar Neta menyerahkan buku tugas Zia.
"Iya"ujar anak itu,segera memfoto buku tugas Zia setelah itu langsung dikirim ke Grup,tentunya grup kelas tanpa ada guru didalamnya.
"Cek di grup,Zia tanks ya"ujar murid itu.
"Makasih juga Zia"ucap murid yang lain.
"Iya untung ada lo Zi,kalau enggak gawat kita"ujar yang lainnya.
"Sama-sama,yau dah sana gak usah banyak omong.Mendingan sana salin cepet keburu masuk entar"ujar Zia pada teman temannya.
Mendengar perkataan Zia itu,hampir secara bersamaan semua yang berdiri mengelilingi meja Zia dan Neta tadi langsung kembali ke mejanya masing masing bergegas menyalin jawaban tugas dari Zia yang sudah dikirim melalui grup kelas.