One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 46



~Malam harinya~


Seluruh anggota keluarga Antara baru saja menyelesaikan makan malam mereka,namun setelah itu mereka tidak langsung bubar begitu saja sebelum makan tadi Renal selaku kepala keluarga mengintruksikan supaya semuanya tetap dimeja makan saat siapapun sudah selesai makan karena ada yang hendak pria itu dan istrinya sampaikan kepada kelima anak mereka.


Renal menatap seluruh anggota keluarganya memastikan semuanya sudah benar benar selesai makan atau belum,pandangannya berakhir pada putru bungsunya.


"Zia bagaimana keadaanmu?"ujar Renal membuat putrinya itu menoleh kearahnya.


"Papa dengar dari mamimu,kamu demam sepulang kerumah tadi"lanjut Renal.


"Zia udah gak papakok Pa"jawab Zia kepada papanya.


"Ingat pesan papa beberapa waktu yang lalu,jangan terlalu lelah bekerja sampai membuatmu sakit"ujar Renal.


"Baik Pa,tenang saja"saut Zia mengiyakan pesan sang papa,


Renal menganggukkan kepalanya setelah itu ia beralih menatapa kearah anak anaknya yang lain.


"Ada yang ingin papa bicatakan dengan kalian semua"ujar tuan Antara alias Renal kepada seluruh putra dan putrinya.


"Apa yang ingin papa bicarakan kepada kami?"tanya Arga kepada papanya.


"Apapun yang ingin papa bicarakan kuharap itu bukan kabar buruk seperti terakhir kali"ujar Gia menatap tajam sambil tersenyum miring kearah Zia yang tepat duduk dihadapannya,Zia tau itu namun ia berpura pura tidak menyadari hal itu dan berusaha bersikap biasa saja.


"Apa maksudmu Gia?"tanya Renal kepada putri sulungnya itu.


"Tidak apa,cepat katakan apa yang ingin papa katakan.Lyn pasti sedang banyak tugas sekarang yang harus dikerjakan"jawab Gia membuat Lyn disebelahnya mendelik kesal namanya dijadikan kambing hitam oleh sang kakak.


"Baiklah papa ingin menvatakan kalau papa akan pergi ke Australia besok,bukan hanya papa tapi mama kalian juga akan ikut"ujar Renal.


"Kok mama juga ikut sih pa?"tanya Liona seperti sangat tidak rela saat papanya mengatakan kalau mamanya ikut.


"Mama harus ikut untuk menemani papa kalian disana karena papa akan berada disana dalam waktu yang cukup lama"ujar Sela kepada anak anaknya.


"Emangnya berapa lama ma?"tanya Liona


"Tiga bulan"jawab Renal dan Sela serentak membuat anak anak mereka menganga mendengarnya.


"Kenapa papa sama mama gak pindah sekalian aja disana"ujar Arga saking kagetnya.


"Tau tuh"ujar Liona menyetujui perkataan kakak laki lakinya itu.


"Ya mau gimana lagi pekerjaan ini adalah tanggung jawab papa dan papa harus kesana menyelesaikannya"ujar Renal.


"Papa sebenarnya bisa saja menuruh salah satu diantara Arga maupun Gia tapi tak bisa karena mereka masih harus menyelelesaikan kuliah mereka yang sedang dalam tahap pengerjaan skripsi"lanjut Renal menjelaskannya kepada anak anaknya.


"Kalau begitu tidak apa apakok Ma Pa,biar Arga dan Gia yang mengawasi serta menjaga adik adik disini"jawab Arga sebagai yang tertua mewakili para saudarinya.


"Ya,papa dan mama selesaikan semua urusan kalian sampai beres.Biar yang lain kita yang jaga"saut Gia.


"Baguslah kalau begitu,untuk Arga dan Gia kami sebagai orang tua kalian menaruh kepercayaan besar kepada kalian berdua sebagai yang tertua untuk bisa menjaga adik adik kalian"pesan Sela kepada anak tertua kembarnya itu,sikembar langsung menganggukan kepala mereka mengiyakan.


"Dan untuk Lyn,Lio,sama Zia juga,dengarkan kedua kakak kalian jangan bandel.Dan kalau ada apa apa laporkan kepada mereka,kalian mengerti?"ujar Sela kali ini kepada tiga putri termuda mereka.


"Baiklah ma"jawab Liona sedangkan Zia dan Lyn hanya memberikan anggukan sebagai respon saja.


"Papa dan mama kalian akan berangkat besok pagi jadi besok Lio dan Zia akan libur sekolah dulu begitu juga dengan yang lain"ujar Renal.


"Baik Pa"jawab mereka serentak.


"Kalau begitu kalian boleh pergi kekamar masing masing sekarang, selamat istirahat"ucap Renal meninggalkan meja makan bersama sang istri disusul anak anak mereka satu persatu.


Zia beserta Liona berjalan beriringan untuk menuju kekamar mereka masing masing,saat sampai didepan kamarnya Zia menghentikan langkahnya sedangkan begitu juga dengan Liona dimana letak kamarnya persis dihadapan kamar Zia.


"Lio bisa bicara sebentar?"tanya Zia kepada Liona yang hendak memasuki kamar tidur sendiri.


"Ada apa Zia,kamu mau bicarain apa sama kakak?"tanya Liona kepada adiknya itu.


"Lo ngasih nomor hp gue ke Ken?"tanya Zia terlihat serius.


"Em itu,iya kakak yang kasih.Gak apa apakan?soalnya tadi pas disekolah Ken minta no.kamu dan kakak gak enak nolaknya,jadi kakak kasih deh"jawab Liona.


"Kali ini gak papa,tapi lain kali jangan kasih no.gue kesiapapun tanpa izin.No.hp itu termasuk privasi buat gue"ujar Zia kepada Liona,setelah itu ia langsung masuk kedalam kamarnya meninggalkan saudarinya yang langsung khawatir kalau dia marah.


"Eh Zia!kamu marah sama kakak?"ujar Liona memanggil nama Zia tapi sudah terlambat,karena Zia sudah menutup pintu kamarnya.


"Waduh bener kata Rena,Zia bakal marah sama gue"ujar Liona,dalam hati ia merutuki kebodohannya karena sembarangan memberikan nomor hp adiknya itu tanpa izin dulu.


Liona langsung masuk kedalam kamarnya,ia akan segera menghubungi sahabatnya itu menanyakan apa yang sebaiknya ia lakukan sekarang.


Setelah memasuki kamarnya Zia langsung berjalan kearah nakas mengambil segelas air putih lalu berjalan menuju kemeja belajarnya dan duduk disana,ia mengeluarkan botol tempat pil obatnya mengeluarkan beberapa butir kemudian langsung meneguknya dengan bantuan air putih tadi.


"Huf...entah berapa lama lagi gue bertahan,tapi tujuan gue pulang kesni masih tetap aja abu abu"gumam Zia pelan sambil menatap botol obat yang tergeletak dimeja belajarnya saat ini.Zia menggelengkan kepalanya menghilangkan pikiran pikiran aneh yang mengganggunya.


"Ingat Zia lo harus tetap tenang,lo gak boleh punya banyak beban pikiran kalau lo mau hidup tenang"ujar Zia kepada dirinya sendiri.


Setelah itu ia membuka laptop yang berada diatas meja belajarnya lalu menyalakannya,Zia memutuskan untuk mengerjakan dan memeriksa pekerjaan perusahaannya yang baru saja dikirim oleh Teo orang kepercayaannya itu melalui Email.Satu persatu Email perusahan dia buka untuk memeriksa apakah semuanya sudah berjalan sesui dan Zia juga memperbaiki jika ada bagian yang masih belum sesuai dari yang seharusnya,beruntung ia sudah sangat biasa melakukan ini kalau tidak bisa bisa laptop didepannya itu melayang ia lempar.Akibat banyaknya berkas Email yang ia terima,dan semua itu tentunya harus ia kerjakan,periksa,dan suruh revisi kepada karyawan yang bertugas jika ada yang salah.