One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 107



Zia tengah bercermin dikaca miliknya,gadis itu terlihat sedang berusaha keras untuk memasang dasi sekolah miliknya.Entah pikiran dari mana tapi sejak tadi sudah terhitung hampir sepuluh menit anak itu berusaha memasang dasi itu dikerah seragamnya tapi tak bisa,Zia sampai menggeram frustasi.


"Ah udahlah,gak bisa pasang dasi juga gak bakal bikin hidup gue jatuh miskin"geram gadis itu akhirnya menyerah akan usahanya pada dasi itu.


Zia berbalik meninggalkan cermin itu menuju kearah meja belajarnya untuk mengambil tas sekolahnya,saat tangannya sudah akan mengambil tas miliknya namun matanya langsung menangkap sebuah kotak asing diatas meja belajarnya.


"Ini kotak siapa?kok mirip kado ya?" gumam Zia bertanya tanya,ia mengurungkan niatnya untuk mengambil tas sekolahnya dan memilih meraih kotak itu.


"To Zia Antara,berarti untuk gue dong"ujar gadis itu setelah membaca kartu ucapan kecil diatas kotak itu.


Zia membolak balik kotak berukuran kecil itu dengan penuh selidik dan dalam hati ia menjadi penasaran akan isinya,tak mau tambah penasaran akhirnya Zia membuka kotak itu.


"Wah jam tangan"komentar Zia pertama kali setelah melihat isi kotak itu yang ternyata sebuah jam tangan,mata gadis itu langsung berbinar karena menyukai jam tangan itu.


Zia menemukan kembali menemukan kartu ucapan kecil yang terselip didalam kotak hadiah itu,ia membacanya guna mencari tahu siapa yang memberikan hadiah ini padanya.


Selamat ulang tahun,pakai itu kalau suka atau buang kalau tidak.


From:Lyn


"Benarkah ini dari kak Lyn,sungguh sulit dipercaya"ujar Zia setelah membaca kartu ucapan itu,gadis itu saat ini merasa sangat senang bahkan saking senangnya Zia sampai melompat lompat sambil memeluk hadiah yang baru ia dapatkan itu.


Tak pakai kata lama lagi,Zia langsung memakai jam tangan itu ditangan kirinya.Jam itu terlihat sangat pas dipergelangan tangannya, ia segera meraih tasnya kemudian pergi keluar dari kamarnya dengan perasaan yang sangat bahagia sekali.


*Gue kira keberuntungan gue udah habis semalam,tau taunya enggak ternyata*batin Zia.


"Pagi semuanya"ujar Zia menyapa semua kakak kakaknya yang sudah tiba dimeja makan terlebih dahulu dari pada dirinya,ekspresi gadis itu terlihat sangat cerah sekali.Secerah mentari pagi yang menyinari hari ini.


"Pagi dek,ayo duduk sini trus sarapan"ajak kak Arga kepada Zia.


"Iya kak"jawab Zia langsung duduk disebelah Liona,sebelum itu ia sempatkan untuk melirik kearah kakak ketiganya.


Liona melirik kearah Zia yang duduk disebelahnya namun tak lama keningnya menyergit heran saat melihat saudarinya itu yang sejak tiba diruang makan terlihat sangat berseri seri,ia kembali memerhatikan adiknya itu dengan seksama sampai indra penglihatannya menangkap benda asing yang melingkar dipergelangan tangan kiri Zia.


"Dek,lo baru beli jam tangan baru ya?"tanya Liona kepada Zia.


Zia langsung menoleh kearah Liona kemudian melihat kearah jam tangannya,pertanyaan Liona itu juga mengambil atensi ketiga kakak dari dua gadis itu.


"Enggak kok"jawab Zia sambil menggelengkan kepalanya pelan


"Ini gue dapat dari seseorang sebagai hadiah ulang tahu,gimana cocok gak Lio?"lanjut Zia menunjukkan jam dipergelangan tangannya kepada Liona.


"Bagus dek,cocok kalau lo yang pake"ujar Liona.


"Siapa yang kasih kamu hadiah itu dek?"tanya Arga.


"Ada deh,seseorang yang penting tapi Zia gak bisa sebutin namanya"jawab Zia yang membuat kak Arga dan Liona menjadi penasaran.


Disisi lain seseorang yang tampak acuh dan fokus didunianya sendiri tersenyum dalam hati saat mendengar jawaban sibungsu itu,ujung matanya melirik seolah olah tak acuh pada pergelangan tangan kiri Zia.


"Tapi kakak kira kamu yang beli,trus keliatannya ini jam tangan harganya lumayan mahal deh"komen Liona setelah memperhatikan detail jam tangan adiknya itu.


"Keliatannya emang rada mahal sih Lio,gue kalau beli sendiri juga bakal mikir mikir dulu kalau harganya mahal"ujar Zia.


"Sayang uangnya"jawab Zia yang membuat Liona spontan memutar mata malas mendengarnya.


"Kenapa mutar bola mata gitu?"tanya Zia polos melihat reaksi Liona.


*Ngeluarin uang beli jam tangan sebiji dibilang sayang uangnya, kemarin beliin anak orang motor sama mobil gak sayang juga uangnya? Untung kemarin gue terlanjur janji sama nih bocah,supaya gak kompor* batin Liona.


"Eh ngomong ngomong soal hadiah ultah,kakak udah siapin hadiah istimewa lo dek"ujar Liona.


"Kalau itu kakak juga udah siapin"ujar kak Arga gak mau ketinggalan.


Kak Arga dan Liona kompak melihat kearah dua saudari mereka yang lain yang sejak tadi hanya diam saja,tak bergabung dalam pembicaraan.


"Nanti gue kasih"ujar kak Gia setengah malas menyauti.


Sedangkan Lyn hanya diam saja bersikap tak peduli,gadis itu terus memakan sarapannya sambil memasang muka dingin nan datar.


"Oh ya mana hadiahnya Lio"pinta Zia dengan semangat seperti anak kecil mendengar kata hadiah.


"Nanti pulang sekolah gue kasih,jadi pulang sekolah lo harus langsung balik dek.Jangan pergi atau mampir kemana mana dulu"jawab Liona ke Zia.


"Kakak juga nanti pas habis pulang kerja,kak Arga kasih sama kamu"ujar Arga.


"Oke,Zia tunggu nanti"saut Zia menganguk anggukkan kepalanya.


Kriet...suara kursi digeser kemudian gadis yang sebelumnya duduk disana terlihat berdiri


"Aku Selesai,sampai jumpa"ujar Lyn hanya berucap empat kata saja kemudian langsung meninggalkan keempat saudara dan saudarinya yang terlihat sudah cukup biasa dengan sikapnya itu.


Kriet...suara kursi digeser kembali terdengar,kali ini bersumber dari Zia


"Aku juga udah selesai sarapan kak, Zia pamit berangkat kesekolah dulu"ujar Zia berpamitan untuk pergi kesekolah.


"Cepet amat selesainya,kamu gak nungguin kakak aja biar berangkatnya bareng?"tanya Liona ke Zia.


"Gue gak bisa makan banyak kalau pagi Lio,lagian gue harus pergi duluan soalnya hari ini jadwal gue piket"jawab Zia.


"Oh yaudah deh,kalau hari ini ada jadwal piket"saut Liona mengerti.


"Sampai jumpa nanti semua"ucap Zia kemudian pergi meninggalkan meja makan.


Sekeluar dari area ruang makan,Zia langsung berlari cepat menuju keluar.Gadis itu berlari karena ingin menyusul Lyn kakaknya,sebelum sang kakak berangkat kekampus.


Senyuman langsung terbit dibibir Zia setelah melihat kakaknya masih berada digarasi dan belum berangkat


"Kak Lyn"panggil gadis itu menghampiri sang kakak.


Kak Lyn yang tadinya berniat masuk kedalam mobil langsung berhenti setelah ada yang memanggil namanya, ia langsung bisa melihat Zia yang berlari cepat kearahnya dan berhenti tepat dihadapannya dengan nafas yang terlihat terengah-engah.


"Hah hah un-untung a-aja ka-kak be-lum b-berangkat hah hah hah"ujar Zia dengan nafas yang masih terengah engah.