One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 30



"Kalau Zia berapa?"tanya Geral kali ini pada sang keponakan.


"Sembilan Puluh"jawab Zia.


HAH!suara kaget dari anggota keluarganya terdengar saat itu juga.


"Kenapa,ada yang salah?"tanya Zia dengan polosnya melibat kearah hampir semua anggota keluarganya.


Pletak "Aduh..."Zia meringis kesakitan sambil mengusap keningnya karena Liona menyentil kepalanya Zia dengan lumayan kencang.


"Sembilan puluh lo bilang rendah hah?!matematika loh Zia,matematika!


Itu lo dapat istilah rendah itu dari mananya?plis deh jangan bikin gue pengen buang lo ke sungai Amazon"ujar Liona pada Zia,gadis itu terlihat menggeram dan menahan kesal dengan perilaku adiknya itu.


"Sabar sayang,ingat dia keponakan kamu"ujar Geral mengusap punggung Nada sang istri.


"Zia,untung aja tante inget kalau kamu itu keponakan tante kalau enggak mungkin emosi tante udah meledak loh"ujar Nada pada Zia keponakannya sambil tersenyum paksa.


"Bagus deh tan"saut Zia dengan tenangnya,kemudian meminum sisa jus buah miliknya sampai habis.Tampa mempedulikan beberapa pasang mata menatapnya dengan kesal.


*Sabar Na,dia keponakan lo baru ketemu juga jadi lo harus sabar sama tingkah keponakan lo ini*ucap Nada dalam hatinya.


"Zia"ujar Geral memanggil nama sang keponakan.


"Ya ada apa paman?"saut Zia.


"Gimana rasanya tinggal di AS,pasti serukan?"tanya Geral.


Zia menganggukkan kepalanya singkat


"Lumayan seru sih paman soalnya suasana disana lebih nyaman,tenang dibanding disini.Kehidupan pribadi disana juga cukup terjaga privasinya,orang orang disana gak ada yang terlalu kepo kayak orang disini"jawab Zia menjelaskan sedikit pendapatnya tentang tinggal di AS.


"Kalau soal privasi pribadi sih,paman akuin diluar sana emang cukup nyaman bagi kita"ujar geral.


"Paman Geral sama tante Nada sendiri,tinggal di Australia kan?di kota mana?"tanya Zia,kali ini ia yang mengajukan pertanyaan pada paman dan tantenya itu.


"Tante sama paman tinggal di Sydney"jawab tantenya.


"Aku tidak tahu kalau aku punya paman dan bibi yang tinggal disana,


padahal dua tahun terakhir Zia lumayan sering melakukan perjalan buat keperluan bisnis ke sana"ujar Zia pada paman dan bibinya.


"Benarkah?"tanya sang paman


"Hmm kalau Zia taukan,Zia bisa sekalian mampir ditempat kalian"lanjut Zia.


"Yah sayang sekali,tapi gak papa deh soalnya sekarang kita udah ketemu"ujar Nada pada keponakannya.


"Oh iya ngomong ngomong soal bisnis,paman dengar kalau kamu udah bisa memegang kendali perusahaan mendiang mama mu.Kamu hebat sekali masih muda udah bisa memegang perusahaan sebesar itu"puji Geral.


"Pujian paman terlalu berlebihan,Zia memang sudah memegang penuh perusahaan mama tapi Zia gak bisa ngurus sendirian kok masih harus dibantu sama beberapa orang kepercayaan"ujar Zia.


"Pujian pamanmu gak berlebihan kok buat kamu yang masih muda tapi udah bisa bekerja sebaik itu"ujar Nada yang mengetahui keponakannya itu merasa tidak pantas dipuji seperti itu padahal mah pantas sekali.


Begitulah seterusnya sampai acara makan malam itu selesai,dimeja itu lebih sering dipenuhi oleh percakapan Zia dengan paman dan bibinya itu.Sedangkan anggota keluarga Antara yang lain entah kenapa lebih banyak diam dan bertindak sebagai pendengar dari percakapan tiga orang itu saja.


Sedangkan ketiga orang itu terlihat tidak menyadari hal itu saking asiknya dengan obrolan obrolan mereka,bahkan paman dan bibi Zia terlihat beberapa kali tertawa karena kadang kadang tingkah dan ucapan Zia terlihat lucu.


Sinar matahari terlihat sangat cerah dan leluasa terpancar tanpa penghalang menyinari permukaan bumi,


Zia menuruni tangga satu persatu dengan wajah yang terlihat sangat cerah dan penuh semangat.


Ia langsung menuju kearah meja makan untuk sarapan bersama anggota keluarganya,terlihat juga tas ransel di punggungnya.


"Pagi"balas keluarganya-sang kakak Gia dan Lyn.


"Kamu keliatan semangat sekali pagi ini,apa ada yang membuatmu senang Zia"tanya sang kakak pertamanya Arga.


"Gak ada alasan apa apa kok kak Arga,mood Zia pagi ini memang sangat bagus entah kenapa Zia juga gak tau"jawab Zia sambil tersenyum manis pada sang kakak pertama sejenak kemudian mulai menyantap menu sarapan yang sudah diambilkan oleh maminya ke dalam piringĀ  dihadapannya.


"Benarkah?bagus deh kalau begitu"ujar Arga pada adik bungsunya.


"Liona,kemarin sore tim basket sekolah Hantara sudah kembali dari pertandingan mereka diluar kota.Papa dengar mereka berhasil meraih juara pertama lagi ya?"tanya Renal pada putri ketiganya.


"Iya pa,kata sahabat Liona sih seperti itu dan sepertinya hari ini mereka sudah hadir disekolah kembali"jawab Liona.


"Wah bagus kalau gitu,nanti tolong sampaikan ucapan selamat untuk mereka dari papa"pinta Renal.


"Iya pa,nanti Leo sampaikan"saut Liona mengiyakan permintaan sang papa.


"Emangnya Lio kenal sama tim basket sekolah kita?"tanya Zia penasaran pada sang kakak.


"Pasti kakak kamu kenal apa lagi sama kapten tim putra,kakakmu kan berada di yang satu kelas kayak kapten tim yang putra.Benerkan Lio?"bukan Liona yang menjawab melainkan maminya yang menjawab.


"Bener yang dibilang mama,aku satu kelas sama kapten putra sama satu temennya yang lain"ujar Liona membenarkan jawaban sang mama.


"Ooh"komen Zia,kemudian melanjutkan kegiatan sarapannya.


"Reaksi kamu cuma itu?"tanya Liona pada adiknya itu.


"Iya,gue kan cuma pengen tau aja"ujar Zia pada Liona


"Zia udah selesai sarapan,ma pa sama kakak kakak.Zia berangkat sekolah dulu ya"lanjut Zia beranjak dari tempat duduknya kemudian memakai tas sekolahnya dipunggung.


"Iya sayang,hati hati bawa mobilnya"ujar Sera maminya


"Gak tungguin kakak dulu Zi,biar berangka nya bareng?"tanya Liona pada Zia.


"Gak deh Lio gue buru buru soalnya,


mau mampir ketempat lain dulu soalnya"jawab Zia


"Mampir kemana emang dek?"tanya Arga


"Ada deh,bai semuanya"ujar Zia dan langsung pergi meninggalkan meja makan.


"Ma pa,Zia kok keliatannya sibuk banget sih?"tanya Liona pada kedua orang tuanya.


"Ya wajar sayang kalau Zia sibuk,diakan gak cuma harus sekolah aja tapi juga harus ngurus perusahaannya juga"jelas Renal pada putrinya itu.


"Iya sih Lio tau,tapi gak mungkin sesibuk itu kan"saut Liona.


"Biarin aja sih dek,Kamu cuma buang buang waktu ngurusin hidup orang asing"ujar Gia pada Liona.


"Gia jangan seperti itu,Kalau adik kamu Zia denger gimana"ujar Renal menegur putri sulungnya itu.


"Biarin lah pa,dan dia juga bukan adik Gia tapi dia cuma orang asing" jawab Gia dengan entengnya.


"Ih kak Gia jangan gitu,Zia itu bukan orang asing tapi adiknya Lio tau"ujar Liona tak terima dengan ucapan kakaknya itu.


"Emang kamu pernah dianggap kakaknya?"tanya Gia.


Liona langsung terdiam,melihat adiknya itu terdiam akibat pertanyaannya itu Gia tersenyum sinis.


"Gak pernahkan,jadi jangan terlalu dekat dengan dia karena belum tentu gadis itu anggap kamu maupun kita semua keluarganya Lio"ujar Gia,kemudian putri sulung keluarga Antara itu langsung pergi meninggalkan meja makan.