One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 51



"Rajin amat lo setiap sore kesana"komen Neta.


"Kayak gak punya kerjaan aja"lanjut Neta.


"Lo bisa komen gitu karena belum tau sih gimana asiknya itu cafe favorit gue,apalagi kalau nimmatin sore hari dimusim gugur beh mantap banget"jelas Zia dengan mata yang bersinar sinar memuji tempat favoritnya itu.


"Alay juga lo"ujar Neta membuat Zia mendelik.


"Gue bukan alay,kalau lo gak percaya suatu saat nanti lo kesana aja.Rasain gimana,entar gue kasih alamatnya"ujar Zia kepada Neta.


"Boleh tapi bareng lo ya?"saut Neta langsung membuat Zia terdiam sejenak.


"Boleh kalau gue masih sempat"balas Zia sambil tersenyum menatap kearah danau,Neta ikut memandangi kearah danau buatan ditengah taman itu,ia paham maksud kata Kalau sempat yang dimaksud sahabatnya itu.


"Zia"panggil Neta tanpa melihat kearah sang sahabat.


"Hm ya?"saut Zia.


"Waktu lo masih lamakan?"tanya Neta terdengar lirih,suasana diantara kedua sahabat itu juga mendadak menjadi sendu.


"Satu tahun mungkin,itu harapan waktu terlama untuk gue bisa bertahan sejauh ini"jawab Zia pelan namun masih bisa didengar jelas oleh Neta.


"Sesingkat itu ya?"tanya Neta lagi.


"Gak sesingkat yang lo bayangin kok,satu tahun itu lama bagi gue dan menurut gue itu lebih dari cukup untuk menikmati sisa hidup yang ingin gue harapin"ujar Zia.


"Kenapa lo gak kasih tau keluarga lo aja soal kondisi lo,mungkin dengan itu semua yang..."


"Semua yang gue harapin bakal terwujud maksud lo?"belum lagi Neta selesai bicara tapi sudah terpotong oleh Zia.


"Gue gak mau kayak gitu Ta,gue gak mau mereka nerima gue cuma rasa simpati dan kasian sesama manusia,  yang gue pengen mereka nerima gue sebagai seorang anggota keluarga yang memang tulus mereka terima dari hati mereka sendiri tanpa rasa kasian.Itu yang gue mau dan jujur gue jug gak terlalu berharap bisa ngewujutin itu sampai waktu gue berakhir,tapi gue bakalan coba meskipun ada kemungkinan untuk gagal"jelas Zia.


Neta diam mendengar penjelasan Zia itu,ia sudah mengetahui dan mendengar bagaimana rumitnya posisi Zia didalam lingkup keluarga sahabatnya.Sahabatnya itu mencenceritakan semuanya padanya tentang alasan gadis itu memilih pindah kesini meninggalkan kehidupannya yang dulu dan tentang seberapa parahnya sakit yang diderita oleh sang sahabat,jujur saja setelah mengetahui semua itu membuat Neta ingin menangis sekaligus kasian dengan sang sahabat.


"Lo pasti berhasil kok Zi,gue yakin hal itu meskipun butuh waktu agak lama tapi gue yakin suatu saat nanti semua yang lo inginin bakalan terwujud.Dan tentunya sebagai sahabat lo yang paling baik,gue bakal jadi yang terdepan mendukung lo"ujar Neta berusaha meningkatkan harapan dan kepercayaan Zia.


"Makasih Ta"ucap Zia mendengar perkataan panjang Neta.


"Gak masalah"


"Dan soal kondisi lo,lo yakin gak bakal terusin prosedur pengobatan lo atau enggak coba terapi gitu?"tanya Neta.


"Gak Ta,gue mau jujur sama lo kalau gue udah capek bertahun tahun buat ngelakuin itu semua.Dan buktinya sekarang bukannya sembuh atau berkurang,penyakit sialan ini malah tambah ngebut aja didalam tubuh gue"jawab Zia.


"Gue udah putusin kalau gue gak bakal lakuin semua itu lagi,gue mau ngerasain hidup normal meski sebentar aja Ta.Jadi gue berharap semoga lo sebagai bisa terima keputusan gue ini"lanjut Zia.


"Gue bakal terima semua keputusan lo kok tenang aja,meski sebenarnya gue gak mau kehilangan lo.Tapi hidup lo tetap lo yang jalanin dan cuma lo yang bisa rasain,gue gak bisa maksa sesuatu yang gak ingin lo lakuin lagi"ujar Neta.


"Gak usah makasih segala,btw gue juga ngerasa bis ketemu sahabat kayak lo"balas Neta.


"Dan Zi,gue bakal bikin lo bisa ngerasain hidup normal yang lo mau itu.Tenang aja dan percaya sama gue"lanjut Neta,ia menoleh kearah Zia dan Zia juga menatapnya balik.


Keduanya sama sama tersenyum kemudian kembali menikmati suasana taman yang mulai menggelap.


Tap...tap...tap...Zia melangkahkan kakinya memasuki kediaman keluarganya,setelah selesai pergi ketaman tadi dengan Neta.Zia mengantar pulang sahabatnya itu kemudian langsung bergerak pulang,tadi ia sempat mampir sebentar disuatu tempat.


"Kamu dari mana dek"suara Liona sang kakak langsung menyambutnya.


Liona terlihat duduk disofa dengan melipat kedua tangannya kedepan dengan memasang muka sedikit judes,menatap kearahnya.


"Lo nanya gue Lio?"tanya Zia menunjuk dirinya sendiri,berpura pura tak tahu kalau pertanyaan sang kakak tadi ditujukan untuknya.


"Siapa lagi sih Zia,yang ada disinikan cuma lo sama gue aja dan kalau gue udah panggil pake kata dek


itu artinya emang lo"jawab Liona.


"Ooh gitu ya,gue tadi habis pergi jalan jalan sama Neta"ujar Zia memberi tau dirinya habis darimana.


"Jalan jalan?kok lo gak ngajak kakak sih dek,padahal kakak hampir gila karena bosen seharian dirumah terus"ujar Liona.


"Mana gue tau kalau kakak pengen ikut,lagian tadi gue sama Neta juga perginya juga dadakan"saut Zia


"Tau ah,pokoknya kakak kesel sama lo"ujar Liona.


Zia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kekanak kanakan kakak termudanya itu


"Gak usah ngambek kek bocah lo kak,nih gue bawain lo sushi"ujar Zia mengangkat satu kantong plastik berisi satu kotak sushi kesukaan Liona.


"Itu kalau lo mau kalau enggak,gue kasih bik Muti aja"ujar Zia hendak melangkah pergi.


"Eh mau dong,sini"ujar Liona langsung mengambil alih kantong plastik yang ditangan Zia itu,mata gadis itu berbinar melihat sushi favoritnya didalam sana.


"Masih kesel sama gue gak nih"tanya Zia.


"Enggak,kakak gak jadi kesel sama lo"jawab Liona dengan fokusnya yang masih pada sushi ditangannya.


"Sana bersih bersih kekamar,habis dari luar pasti banyak debu dan kuman nempel.Kakak mau menikmati sushi ini dulu"ujar Liona langsung beranjak dari sama menuju kearah meja makan.


Zia kembali menggelengkan kepala


"Untung gue terlahir kaya,jadi gampang nyogok kakak yang seleranya rada mahal buat kantong pelajar" gumam Zia sebelum akhirnya pergi menuju ke kamarnya untuk bersih bersih seperti yang kakaknya suruh tadi.


Liona meninggalkan Zia sendirian didaerah ruang tamu menuju kearah meja makan,ia sudah tidak sabar menyantap makanan kesukaannya yaitu Sushi yang dibawakan sang adik.Tak peduli itu sogokan atau apa yang penting ia saat inu merasa sangat senang.