
Malam sudah menunjukkan jam dua belas lebih,waktu waktu seperti ini biasanya kebanyakan orang sudah mulai terlelap dalam istirahat malam.Terlebih bagi mereka yang punya kesibukan padat pada esok harinya.
Namun lain halnya dengan Neta,ya sahabat baiknya Zia itu malahan tengah duduk bermenung dipinggir kolam renang dirumahnya.Kedua kaki gadis itu juga sengaja dimasukkan kedalam air kolam renang,Neta duduk diam menatap kearah dalam kolam renang sambil disalah satu tangannya terlihat menggenggam botol obat kecil.Entah obat apa itu.
"Kondisi kesehatan Zia semakin menurun,ini terlihat sangat jelas"
"Maaf tapi saya harus menyampaikan ini.Tapi jika terus seperti ini, hanya tersisa tiga bulan-an bagi Zia untuk bisa beraktivitas normal.Lebih dari itu,sepertinya Zia harus menjalani prosedur perawatan intensif dirumah sakit alias rawat inap"
"Itu berarti waktuku semakin menipis ya dok?"
"Dek jangan seperti itu"
"Aku cuma nanya kak,dokter tinggal jawab aja yang jujur"
"Maaf namun sepertinya kita semua tahu jawabannya.Tapi jangan berkecil hati,kita akan berjuang sampai akhir"
Potongan percakapan yang Neta dengar sore tadi saat datang menjenguk Zia bersama Rena,ya dirinya dan Rena mendengar sayup sayup potongan percakapan itu dari luar kamar rawat Zia saat hendak masuk kedalam.
Neta dan Rena memutuskan untuk menunda masuk kedalam dan lebih memilih mendengarkan percakapan yang sayup terdengar itu dari balik pintu yang sudah sedikit mereka buka, mereka masuk kedalam ruangan seolah olah tak tau apapun disaat penjelasan dokter yang merupakan mamanya Rena selesai.
Tak ada yang tau mungkin kecuali Rena,kalau Neta memasuki ruangan dengan menahan supaya air matanya tak keluar barang setetes-pun dab langsung menghadiahi Zia sebuah pelukan.Neta sengaja tak mau menunjukkan tangis atau air mata berlebih kepada Zia supaya kondisi batin sahabatnya itu tak semakin tertekan dan merasa bersalah karena membuatnya menangis akan kondisi Zia.Dengan pengaturan ekpresi dan tingkah yang sempurna,Neta berhasil menyembunyikan kesedihan dan rasa khawatir yang mendalam dari Zia.
Efeknya?saat sesampai dirumah,Neta langsung menangis sejadi jadinya didalam kamar mandi sambil mengguyur dirinya dengan air dingin yang mengalir dari shower guna menenangkan dirinya agar tak lepas kendali melakukan hal hal yang dapat membahayakan.Kalian masih ingat tentang gangguan depresi yang dialami oleh Neta beberapa tahun belakangankan,meskipun kini dirinya bisa dinyatakan hampir pulih dan jauh lebih baik.Namun kondisi itu bisa jadi waktu waktu yang rentan baginya,Neta tahu itu makanya dia mencari cara untuk melampiaskan kesedihannya tanpa perlu merusak atau menyakiti diri sendiri.
Tubuh Neta sedikit memberikan reaksi tersentak akibat kaget saat merasakan sebuah pelukan hangat dari belakang.Kepala gadis itu langsung menoleh melihat serta memastikan siapa yang berani memeluknya tanpa izin,ternyata itu adalah mamanya.
"Mama,kok mama disini bukannya tidur?"ucap gadis itu bersuara.
"Mama udah tidur tadi tapi kebangun mau minum,makanya turun kedapur karena dikamar gak ada air putih.
Eh pas mama mau balik kekamar,mama ngeliat anak gadis mama bengong duduk sendirian ditepi kolam renang.
Makanya mama samperin"jelas sang mama,kini wanita paruh baya itu bergeser duduk disebelah putrinya tanpa melepaskan pelukan yang dirinya berikan.
"Kamu ada masalah sayang?"tanya sang mama,namun Neta menggeleng menyatakan tidak ada.Namun mamanya Neta tentu tak akan percaya akan hal itu,bertahun tahun mencoba memahami sifat sang putri sejak putrinya itu didiaknosa mengalami depresi diusia muda.Salah satu yang wanita itu sadari sejak itu adalah kalau sang anak perempuannya itu memiliki kesulitan untuk berbagi masalah dengan siapapun termasuk dirinya dan sang suami.
"Kamu gak usah bohong sama mama,
mama tau kok Neta sedang ada masalah.Ayo bagi sama mama,walau sedikit"ujar mamanya Neta kepada Neta.
"Neta takut ma"suara remaja itu terdengar pelan namun masih bisa didengar.
"Takut kenapa?ada yang mau nyakitin kamu?"
"Bukan,Neta takut sahabatnya Neta ninggalin Neta"
"Sahabat baik yang sering kamu ceritain dan yang pernah mampir kerumah juga kata bibik?"
"Loh memangnya sahabat kamu itu mau pergi kemana sampai kamu takut begini?mau pindah sekolah"
Neta menggelengkan kepalanya lalu berkata
"Neta takut sahabat Neta ninggalin Neta pergi selamanya,dia sakit"
Wanita paruh baya yang mendengar perkataan putrinya itu langsung bertanya kembali
"Teman kamu sakit apa emang?parah?"
"Kanker darah,udah stadium akhir.
dokternya dulu diUS pernah bilang harapan hidupnya kemungkinan cuma 1 tahun aja,dan tadi dokter lain bilang sahabatnya Neta kondisinya semakin menurun.Neta takut"Neta mencurahkan penyebab ketakutannya itu kepada mamanya.
Sang mama yang sempat tertegun sejenak mengetahui kondisi buruk dari sahabat putrinya itu hanya bisa mengelus lembut rambut putrinya untuk menenangkan,kini ia bisa menerka seberapa besar ketakutan yang dirasakan putri tunggalnya itu.
Wanita itu melepaskan pelukannya sejenak lalu menatap tepat kekedua mata putrinya lalu tersenyum hangat
"Kamu jangan khawatir,cukup doa-in dan beri dukungan buat sahabatmu itu aja.Ingat kalau jika seseorang datang,maka dia juga harus pergi"
"Tapi Neta gak mau ditinggal,dia sahabat Neta satu satunya"ujar Neta menatap mamanya dengan tatapan berkaca kaca.
"Mama tau,tapi seperti yang mama bilang barusan tentang jika seseorang datang maka akan ada waktunya dia harus pergi.Kita sebagai manusia gak bisa melawan takdir itu,tapi kita bisa memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin dengan seseorang yang kita khawatirkan akan pergi itu"ujar mamanya Neta.Mendengar perkataan sang mama,Neta hanya menunduk kebawah saja.
Wanita paruh baya itu menatap sang putri tunggal yang menundukkan kepala kebawah,penglihatannya beralih pada botol kecil yang dia ketahui pasti adalah berisi obat yang dulu dikonsumsi oleh putrinya itu untuk menanggulangi depresi yang dialami.
"Kamu minum obat itu lagi sayang?" tanya wanita itu.
"Belum tapi gak tau nanti,Neta sengaja nemuin kak Ilen sebelum pulang tadi.Minta dibuatin obat dengan dosis rendah buat jaga jaga aja,Neta takut gak kekontrol nanti kalau dapat kabar buruk lagi.Gak papakan ma?"ujar Neta,ia menatap mamanya menunggu respon wanita paruh baya itu.
"Gak papa kok,mama paham dan papa-mu juga akan paham saat tau.Tapi di- usahain jangan sampai ketergantungan lagi ya"ujar sang mama.
"Iya ma,mama tenang aja.Neta usahain kok"ujar Neta.
"Yasudah ayo masuk kedalam,kamu harus tidur.Besok juga harus berangkat kesekolahkan?"mamanya Neta.
"Iya ma"Zia
"Mau mama temenin bobo gak?"tawar mamanya Neta.
"Boleh?"Zia.
"Boleh dong masa gak boleh,ayok" mamanya Neta.
Akhirnya anak dan mama itu masuk kedalam rumah kembali,mereka akan bersitirahat.Dan sesuai apa yang dikatakan sang mama tadi,Neta benar benar ditemani tidur oleh mamanya didalam kamar miliknya.