One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 142



Hari yang selalu dinanti nanti oleh setiap orang,baik anak anak maupun orang dewasa yaitu hari minggu sudah jelas pastinya.Hari dimana hampir setiap orang akan berehat sejenak dari kesibukan mereka disatu minggu sebelumnya,Zia salah satu contoh dari satu dari semua orang yang merasakan hal itu.


Angka pada jam otomatis yang ia letakkan diatas nakas sudah menampilkan pukul delapan lebih,namun gadis pemilik kamar itu terlihat masih betah bergelut dialam mimpi alias masih tidur nyenyak diatas kasur empuknya.


Kondisi tempat tidur maupun posisi tidur Zia sebenarnya bisa diakui cukup rapi,posisi berbaring gadis itu tak jauh berbeda saat gadis itu mulai tidut tadi malam.


Zia berbaring dengan posisi menyamping,kepala masih berada diatas bantal dengan tubuh yang hampir sepenuhnya ditutupi oleh selimut yang hangat nan lembut. Sangat cocok digunakan untuk mencegah tubuh merasa kedinginan akibat dingin dari AC yang dipasang dikamar itu,sorot sinar matahari mulai menyelip disela sela ventilasi balkon dan jendela kamar.


Eugh...gadis itu melenguh pelan, kelopak matanya mulai perlahan lahan terbuka.Zia mengangkat kepalanya sedikit mendongak melihat kearah nakas,ia bermaksud untuk melihat jam.


"08:23"angka yang tertera disana.


Dengan segala rasa malas dan kantuk yang bercampur jadi satu,Zia memaksakan dirinya untuk bangun.


Gadis itu mengubah posisinya yang tadi berbaring menjadi duduk kemudian kedua kakinya mulai terulur turun menjejak lantai,dengan langkah sempoyongan Zia berjalan mendekat kearah jendela kamar dan pintu balkon.Kedua tangannya menyibakkan gorden yang menutupi jendela dan pintu itu kesamping,membiarkan cahaya matahari lolos melalui kaca untuk menerangi kamar itu.


Kelopak kelopak mata Zia langsung secara otomatif mengerjap ngerjap menyesuaikan indera penglihatannya dengan cerahnya cahaya matahari,Zia berbalik dan dengan masih dengan langkah sempoyongan berjalan kearah kamar mandi.Zia hanya sebentar didalam sana karena ia tidak mandi hanya mencuci muka dan menggosok giginya saja,kemudian gadis itu langsung keluar dari dalam kamarnya.


Hoam...Zia menutup mulurnya dengan telapak tangan karena menguap, rupanya meskipun sudah mencuci mukapun kantuk gadis itu masih belum bisa lenyap juga.


Ting...pintu lift terbuka,Zia langsung masuk kedalam lift tersebut kemudian menekan angka no.1 untuk bisa turun kelantai bawah.Ia memang memilih tak menggunakan tangga pagi ini karena selain masih malas bergerak juga matanya masih terasa berat,jadi dari pada bahaya nanti mending naik lift aja.


Tap...tap...tap...suara langkah kaki Zia terdengar seirama mendekat ke meja makan,tanpa memperhatikan keberadaan para kakaknya disana ia langsung duduk dikursinya.


Jika diliahat dari tata makanan untuk sarapan dimeja dan juga piring keempat kakak Zia ini,bisa dipastikan keempatnya sudah selesai sarapan.


"Baru bangun lo?"tanya kak Gia kepada Zia.


"Hu em"jawab Zia sambil menganggukkan kepalanya.


"Udah mandi lo dek?"tanya Liona,Zia menggeleng pelan.


"Pantesan masih pakai piyama tidur, tapi udah cuci muka sama gosok gigikan?"tanya Liona lagi.


Zia hanya menjawabnya dengan anggukan.


Tak lama bik Muti datang dengan memegang nampan kecil dengan kedua tangannya


"Ini sarapannya non,potongan buah segar seperti biasa.Dan ini susunya"ujar bik Muti langsung meletakkan satu mangkuk ukuran sedang berisi berbagai macam buah buahan segar yang sudah dipotong potong dan segelas susu putih diatas meja dihadapan Zia.


"Terima kasih bik"ucap Zia sambil tersenyum.


"Sama sama nona muda,silahkan dinikmati"saut bik Muti ikut tersenyum kepada majikan termudanya itu kemudian beranjak pergi dari sana.


"Buah segar potong lagi,lo gak bosen apa dek makan itu mulu tiap minggu pagi?"tanya Liona melihat menu sarapan adiknya itu.


Setelah mengamati beberapa waktu kebelakang,Liona menemukan satu kebiasaan Zia adalah selalu meminta sarapan buah seperti ini setiap minggu pagi,bukan cuma minggu pagi juga sih tapi hampir setiap waktu ngemil pasti bocah yang satu ini pasti minta hal yang serupa.Apa gak bosen adiknya ini makan buah terus? jarang banget dia liat Zia makan makanan mengandung micin.


"Kenapa emang?ini sehat tau"saut Zia yang mulai memasukkan potongan buah itu kemulutnya.


"Maka dari itu kakak dilahirin sebagai Liona Antara bukan sebagai Zia Antara,jadi kakak gak perlu ngerasa bosen"ujar saut Zia,gadis itu kemudian melanjutkan kegiatan sarapannya.


*Ia juga ya*batin Liona membenarkan perkataan adiknya tadi.


Setelah buah potong didalam mangkok itu mulai habis lebih dari setengahnya,Zia memerhatikan satu persatu penampilan kakak kakaknya, semuanya terlihat menggunakan baju santai dirumah namun ada satu yang terlihat berbeda dan itu adalah Gia kakaknya.Kakak perempuannya yang satu itu terlihat sangat rapi dan tidak seperti orang yang akan bersantai dirumah,Zia terus memerhatikan penampilan kak Gia sampai tak sadar orangnya merasa risih.


"Ngapain lo liatin gue kayak gitu?!"tanya kak Gia tentunya dengan nada kesal andalannya setiap berbicara dengan Zia.


"Kak Gia mau kemana kok rapi banget?


Mau pergi sama ekhem ya?"tanya Zia memasang muka julidnya,ini anak baru bangun udah mancing macan betina ngamuk aja.


"Ekhem siapa?katanya lo pengen pergi jalan jalan sendiri Gi?"tanya Arga langsung.


Kak Gia tentunya langsung menatap tajam kearah Zia,gadis berpiyama itu tentu langsung menelan ludahnya dengan susah payah menyadari kalau dia salah ngomong.Mana tatapan kakaknya itu keliatan lebih tajam dari mulut netizen lagi,rambu petanda bahaya sudah berbunyi nih.


"Heh ayo jawab Gi,kamu mau pergi sama siapa?"tanya kak Arga lagi,kak Gia langsung menoleh kesamping dimana kembarannya itu berada kemudian tersenyum.


"Gue emang mau pergi jalan jalan dan emang gak sendiri tapi sama anak itu"jawab kak Gia langsung menunjuk Zia.


Ukhuk...ukhuk...Zia yang lagi asik memakan buah didalam mulutnya langsung tersedak karena arah tunjuk kakaknya itu mengarah padanya.


Puk puk puk...Liona menepuk nepuk punggung Zia


"Makan pelan pelan dek"ujar gadis itu.


"Hah kapan kakak bilang kita mau pergi jalan jalan hari ini kak?perasaan gak pernah?"ujar Zia heran.


"Satu menit yang lalu,gak usah protes dan gak menerima penolakan" ujar kak Gia sambil menatap tajam dan tersenyum mengerikan kearah Zia.


"Eh iya,selesai sarapan kita berangkat kak"ujar Zia langsung setuju,gak mau cari mati dia tuh sama kakak perempuannya yang lagi mode penyihir menyeramkan dimatanya.


"Wah kak Gia ngajak Zia jalan bareng,udah mulai akur ya?"tanya Liona exaited.


"Gak"jawab kak Gia dan Zia hampir bersamaan.


"Ya...h sayang banget,padahal kalau iya ini pasti kabar gembira buat papa mama pas udah balik nanti"ujar anak keempatnya Renal itu.


"Kakak setuju sama Liona,kapan kalian akur sih?"tanya kak Arga ikut bicara.


"Sampai kak Gia mau nerima Zia lah"jawab Zia.


"Nah kapan kak Gia nerima Zia?"tanya Liona.


"Sampai itu anak pergilah"jawab Kak Gia santai.


"Nah denger tuh yang dibilang kak Gia,jangan harap kita akur sebelum salah satu orang pergi"ujar Zia tenang.