One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 191



"Zia.."panggil cowok itu.


"Semua bukti udah lo liatkan"ujar Zia.


"Gue udah bilang dari awal sama lo Ken,kalau gue gak mungkin tertarik apalagi berima lo.Tapi lo ngeyel dan keras kepala,jadi jangan anggap gue jahat dengan apa yang terjadi sekarang"lanjut Zia,setelah itu ia langsung berbalik dan melangkah meninggalkan lapangan itu dengan disusul Neta dari belakang.


Zia melangkah dengan cepat sehingga Neta sahabatnya sedikit kesulitan karena itu,gadis itu bukan berjalan untuk keparkiran melainkan kembali memasuki area gedung utama sekolahan dengan telapak tangan yang menutupi hidung.Neta yang awalnya sedikit bingung sahabatnya itu hendak kemana,akhirnya langsung tahu setelah melihat tempat apa yang Zia masuki.


Toilet Siswi


Rupanya sahabatnya itu terlihat berjalan buru buru tadi karena hendak ingin ketoilet,Neta-pun menyusul masuk kedalam.


"Ya ampun Zia,lo mimisan?"tanya Neta seketika panik bahkan suaranya cukup keras karenanya,melihat Zia yang sibuk membasuh hidungnya yang terlihat mengeluarkan darah diwastafel didalam toilet.


"Jangan teriak Ta,nanti ada yang denger"ujar Zia yang masih sempat memperingati sang sahabat,padahal mimisan yang ia alami belum berhenti.


"Ada tisu Ta?"lanjutnya.


"Sorry Zi,gue panik"ucap Neta


"Tisu,gue ada kok bentar"lanjutnya,


Neta langsung mengeluarkan sebungkus tisu dari dalam tasnya kemudian membuka bungkusnya lalu meletakkannya dipinggiran wastafel.


Tak berhenti disit,Neta juga dengan cepat mengirimkan pesan kepada seseorang melalui salah satu aplikasi bertukar pesan dihpnya.


Setelah beberapa menit,akhirnya darah yang keluar dari hidung Zia berhenti mengalir.Zia juga sudah membersihkan hidung dan tangannya menggunakan air kran diwastafel, gadis itu mengeringkan area wajah dan tangannya yang basah dengan tisu yang diberikan oleh sahabatnya barusan.Zia menatap cermin,terlihat jelas dari pantulan cermin kalau kulit wajah dan bibirnya terlihat cukup pucat.


"Mau gue bantuin tutupin muka lo pake bedak sama liptin gak Zi,biar nanti pas keluar dari sini gak terlalu jadi pusat perhatian wajah pucat lo itu?"tanya Neta,yang paham dengan apa yang tengah dipikirkan dan diperhatikan oleh sahabatnya itu saat bercermin.


"Boleh deh,tapi emang lo bawa?"saut Zia pelan.


"Gue lo tanyain masalah begituan,ya jelas pasti bawalah"ujar Neta,dengan segera ia mengeluarkan bedak dan liptin yang hampir selalu tersedia didalam tasnya setiap saat.


Tak sampai disitu,Neta juga membantu mengaplikasikan bedak dan liptin itu pada wajah dan bibir sang sahabat. Sedangkan Zia?bungsu Antara itu cuma diam bersandar diwastefel menunggu Neta menyelesaikan pekerjaan pada wajahnya,jujur saja badannya terasa lemas paska mimisan tadi.


"Udah?"tanya Zia setelah melihat Neta yang terlihat menyimpan bedak dan liptin kembali kedalam tasnya.


"Udah,lo gimana?masih kuat jalan buat keparkirankan?"saut Neta yang tampak masih khawatir kepada Zia.


Kriet...pintu toilet Siswi terbuka dan nampak Zia serta Neta yang keluar dari dalam sana.


"Kalian berdua kok lama?"sebuah suara yang terdengar sedikit berat langsung mengagegkan keduanya.


"Eh Ya ampun,kaget"ucap Neta yang keget.


"Woi Ka,siapa yang nyuruh lo berdiri disini?bikin kaget aja tau gak?" tanya gadis itu sedikit ngegas, setelah melihat siapa pelaku yang membuat kaget itu.


"Kan lo yang nyuruh gue kesini Neta" jawab Raka yang ternyata menjadi pelaku yang membuat kedua gadis cantik itu kaget.


"Kapan dan ngapain lo nyuruh dia kesini Ta?"tanya Zia sedikit berbisik.


"Gue minta dia kesini tadi,jaga jaga aja takut lo kenapa napa.Gue-kan mana kuat nolonhin lo sendirian, kalau bener kenapa napa"jelas Neta kepada Zia sekaligus Raka.


"Sorry Rak,ngelepotin"ucap Neta meminta maaf kepada Raka.


"Hm,no problem.Sekarang mending kalian pulang,anak anak yang lain udah pada pulang"saut Raka.


Zia dan Neta-pun mengangguk dan mulai berjalan menjauh dari area toilet murid,tapi baru beberapa langkah Zia sudah oleng dan hampir terjatuh.


Hap...untung saja Neta dan Raka yang kebetulan berjalan disamping kiri dan kanannya mempunyai refleks yang bagus,kedua orang itu dengan sigap menahan dan memegangi kedua bahu Zia supaya tidak terjatuh.


"Lo gak papa Zi?"tanya Neta kembali mengkhatirkan kondisi Zia.


"Kaki sama tubuh gue kok mendadak lemes banget ya?"saut Zia pelan hampir berbisik.


"Ka,tolong ya"pinta Neta melihat kearah Raka.


"Oke"saut Raka mengerti maksud Neta, ketua OSIS Hantara itu langsung mengangkat Zia dan membawanya kegendongannya.


"Bisa gak?"tanya Neta memastikan apakah Raka bisa.


"Bisa,yuk"saut Raka.


Raka-pun mulai melangkah sedikit perlahan sambil membawa Zia yang sudah lemah digendongannya,sedangkan Neta dengan setia berjalan disebelah Raka guna memerhatikan kondisi Zia.