
"Kalau gitu kak Teo,Zia gue sama Raka pamit pulang dulu ya"pamit Neta
"Eh tunggu"pinta Zia
"Kenapa Zi?"tanya Neta.
"Eh!buat lo yang cowok gue gak tau nama lo,tolong anterin sahabat gue sampai rumahnya dengan baik dan gak lecet sedikitpun"pesan Zia ke Raka.
"Oke,and btw nama gue Raka"ujar Raka langsung keluar dari ruang rawat Zia.
"Bai Neta"ucap Zia melambaikan tangannya kepada sang sahabat.
"Lo dulu istirahat sekarang,bentar lagi perawat bakal datang bawain lo obat sama makanan"ujar Teo kepada Zia setelah sahabat gadis itu dan juga Raka sudah pulang.
"Oke"saut Zia langsung membaringkan dirinya kembali di atas kasur.
~Di rumah keluarga Antara~
Saat ini hampir semua anggota keluarga Antara sedang berkumpul bersama diruang keluarga,yang tidak ikut berkumpul disana hanya Zia yang kita semua sudah tau alasannya serta Lyn yang lebih memilih berdiam diri di kamarnya dari pada berkumpul dengan kedua orang tua dan saudara serta saudarinya yang lain.
"Ma pa Zia mana,kok dari tadi sejak Arga pulang belum pernah keliatan dianya?"tanya Arga tak melihat keberadaan sang adik bungsu dari tadi.
"Nah iya juga,papa juga belum liat adik mu itu dari tadi Ga.Zia kemana emang Mi,Waktu makan malam tadi juga dia gak ada?"tanya Renal bertanya pada sang istri.
"Zia malam ini izin gak pulang"jawab Sela.
"Kenapa Ma?"tanya Liona
"Palingan juga kelayapan gak jelas"gumam Gia pelan.
"Huss..kakak ngomong apa sih"ujar Sela yang masih bisa mendengar omongan putri sulungnya itu.
"Tadi sore salah satu orang perusahaannya Zia nelpon namanya Teo,dia bilang Zia ada urusan mendadak berkaitan perusahaan yang harus segera diselesaikan.Jadi yang namanya Teo itu bilang kalau Zia minta tolong ke dia buat hubungin orang rumah ngasih tau ini,soalnya Zia gak bakal sempat pegang atau buka Hp sebelum urusannya selesai" jelas Sela kepada suami dan anak anaknya.
"Semendesak apa trus sesibuk apa ya Zia sampai gak bisa untuk sekedar pegang Hp bentaran aja?"tanya Liona kepada dirinya sendiri.
"Ya pasti mendesak banget Lio,nanti kalau kamu jadi orang bisnis.Pasti tau rasanya gimana"ujar Arga kepada Liona.
"Gitu ya"saut Liona.
"Iya sayang"ujar Sela kepada putrinya itu.
"Baiklah kalau begitu,bagaimana dengan Lyn dimana dia?kenapa tidak ikut kumpul disini?"tanya Renal kali ini bertanya keberadaan anak ketiganya itu.
"Lyn ada dikamar nya,kayaknya lagi banyak tugas makanya gak ikut kumpul disini pa"jawab Sela.
"Lyn mah ada atau enggaknya tugas pasti jarang ikut ngumpul keluarga,selalu lebih suka menyendiri didalam kamarnya sehabis pulang dari kampus atau bahkan hari libur"ujar Gia mengomentari sifat sang adik.
"Kenapa gak disamperin aja ke kamar kakak kamu Lio?"tanya Sela.
"Itu mah namanya bunuh diri ma,mana berani aku mengusik daerah teritorial beruang kutub itu"jawab Liona
"Kamu ini ada ada aja,masa takut buat masuk ke kamar kakak kamu sendiri"ujar Renal
"Jangankan Lio Ma,Arga yang notabenya kakak tertuanya Lyn aja gak berani ngusik ketenangan wilayah adik Arga yang satu itu"ujar si sulung Arga.
"Kayaknya di rumah ini emang gak ada yang berani ngusik ketenangannya kak Lyn deh,palingan mentok mentok kak Gia doang"ujar Liona
"Kalian maklumin aja,lagian kita semua tau sifat saudari kalian yang satu itu kek gimana.Lyn kan emang gak suka banyak bicara anaknya,lagi pula sebagai mahasiswa kedokteran Lyn pasti sibuk banget sama tugas tugasnya yang bikin mumet kepala.Jadi kalau saudari kalian itu pulang ke rumah langsung masuk kamar,itu pasti buat istirahat dari semua kegiatan dia yang melelahkan"ujar Renal sebagai kepala keluarga sekaligus papa bagi anak anaknya meminta anak anaknya yang lain untuk memaklumi sifat saudari mereka itu.
~Kamar Lyn~
Gadis yang menjadi salah satu topik pembahasan keluarganya itu saat ini sedang berdiam diri di balkon kamarnya sambil menatap kearah langit yang ditaburi bintang yang cukup banyak untuk mendampingi sang rembulan,dia adalah Lyn.
Lyn lebih memilih melakukan kegiatannya saat ini dari pada berkumpul dengan orang tua beserta kedua kakak dan adiknya,menurutnya itu akan membosankan karena pasti ia hanya akan menjadi pendengar percakapan antar anggota keluarganya itu.Lagi pula menikmati pemandangan langit malam yang cerah seperti saat ini lebih menarik dari apapun,bahkan Lyn rela menunda mengerjakan tugas tugas kuliahnya yang menumpuk di atas meja belajarnya supaya tak ketinggalan menikmati langit malam.
Memandangi langit malam seperti ini selalu Lyn lakukan saat dirinya sedang mempunyai banyak pikiran atau tengah merindukan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya,namun sudah lama pergi.
*Aku merindukannya*Lyn berujar dalam hatinya.
Ditempat lain seorang gadis lain tampak melakukan kegiatan yang sama dengan Lyn si gadis dingin dari keluarga Antara itu.
Dengan masih berbalut baju khas pasien rumah sakit gadis lain itu asik memandang suasana langit malam sambil duduk sendirian di kursi yang berada di taman rumah sakit tempatnya dirawat saat ini,udara dingim malam hari yang berhembus dan mampu membuat seseorang menggigilpun sama sekali tak bisa mengusik gadis.
"Nona Zia ternyata anda disini,saya mencari anda dari tadi"suara seorang perawat menghapiri pasien yang dicarinya sejak tadi karena menghilang dari kamar rawat.
"Langit malam hari ini sangat cerah dan banyak bintang bertaburan disana,apa nona sedang menikmati pemandangan itu?"tanya sang perawat memilih duduk disamping pasien mudanya itu,tak lupa perawat itu memakaikan selimut untuk menghangatkan tubuh pasiennya itu.
Sedangkan sang pasien masih sangat fokus pada kegiatannya dari tadi.
"Nona Zia tau?orang orang bilang kalau orang yang sudah tiada akan menjelma menjadi bintang,alasannya supaya jika ada yang merindukannya maka orang itu bisa melepas kerinduan dengan melihat bintang"jelas sang perawat pada pasiennya.
"Benarkah?"tanya Zia langsung melihat kearah perawat itu.
"Benar atau tidaknya itu tergantung kepercayaan masing masing,tapi banyak orang yang merasa itu berhasil"jawab sang perawat.
"Apa nona sedang merindukan seseorang?"tanya perawat yang membuat pasien mudanya itu langsung menganggukkan kepala.
"Ya,aku memang tengah merindukan seseorang"jawab Zia
"Siapa kalau boleh tau?"tanya perwat itu lagi
"Kakak perawat,aku sedang merindukan mamaku"jawab Zia kembali menatap langit.