One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 54



Liona bukan tidak peka atau tidak peduli bagaimana interaksi kedua saudarinya itu sejak dulu yang bisa dibilang bukan interaksi yang cocok sebagai saudara tapi lebih terlihat sebagai musuh.Atau lebih tepatnya kakaknyalah yang menganggap adiknya seperti itu,saudari tertuanya itu seperti memiliki dan menyimpan dendam,rasa tak suka,dan mungkin kebencian kepada Zia.


Tapi oleh karena itu muncul sebuah pertanyaan besar dalam pikiran Liona


*Kenapa Gia kakaknya terlibat sangat tidak suka dengan kehadiran Zia?


Apa karena Zia anak dari mami tiri mereka yaitu mami Celin?tapi kenapa sampai segitunya?padahal Arga kakaknya dan bahkan mamanya terlihat sangat menerima Zia tapi kenapa Gia tak bisa?Apakah ada alasan lain?* pertanyaan pertanyaan itu memenuhi pikirannya.


Liona merasa pusing sekaligus bingung memikirkan hal itu,bahkan saking pusingnya ia sampai tak sadar sudah terlelap dalam tidurnya.


~Hari baru~


Matahari sudah terbit dan mulai mengeluarkan sinarnya untuk menerangi dunia,tapi Zia masih terlelap tidur nyenyak diatas kasur empuk miliknya dan belum ada keinginan untuk bangun padahal ia hari ini sudah mulai masuk sekolah lagi setelah dua hari tak masuk.


Drtt...drtt...drtt...suara ponsel Zia berbunyi diatas nakas samping tempat tidurnya,dengan masih membenamkan mukanya kebantal Zia mengulurkan tangannya meraih ponsel miliknya yang terus berbunyi dan mengganggu tidur nyenyaknya.


"Halo"ujarnya mengangkat telepon itu dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Zia!"seru orang yang menelepon memanggil namanya.


"Siapa lo nelpon gue malam malam gini sih,gak tau orang lagi tidur?"ujar Zia mengomeli sipenelepon tanpa melihat nama kontak yang meneleponnya.


"Zia lo masih tidur ya?"tanya si penelepon.


"Tadi ia sekarang enggak!"jawab Zia ketus dengan mata yang masih terpejam.


"Sekarang coba lo bangun trus liat jam dinding dikamar lo"suruh orang itu,dengan perasaan yang sangat malas Zia menuruti perintah orang itu.


Gadis itu bangkit dari posisi tidur tengkurapnya sampai duduk,mata gadis itu merjap merjap menyesuaikan cahaya yang masuk dan langsung melihat kearah jam dinding yang dipasang dikamarnya.


"Baru jam setengah tujuh"ujar Zia.


"ANJIR,SETENGAH TUJUH!"teriaknya sadar kalau dirinya terlambat bangun.


"Mulut lo!"tegur orang yang meneleponnya.


Zia langsung melihat kearah layar ponselnya dan melihat nama kontak yang tertera disana yang ternyata adalah nama sang sahabat yaitu Neta.


"Anjir,ternyata lo yang nelpon Ta"ujarnya.


"Peringatan kedua"tegur Neta kembali.


"Sorry refleks itu"ucap Zia meminta maaf karena tak sengaja mengeluarkan kata umpatan.


"Iya gue maafin"balas Neta.


"Udah sekarang lo gak usah bacot, bangun lo cepat dari kasur lo abis itu mandi trus siap siap cepet.Gue udah mau sampai kerumah lo ni"suruh Neta.


"Ngapain lo kerumah gue pagi pagi gini?"tanya Zia heran.


"Mau jemput lo,kita kesekolah bareng"jawab Neta.


"Bua...tut...tut...tut..."belum lagi Zia selesai bicara tapi teleponnya sudah dimatikan oleh Neta terlebih dahulu.


"Dimatiin"gumam Zia.


Setelah itu tanpa menunggu lama lagi ia meletakkan ponselnya dan segera turun dari atas tempat tidur,dirinya harus cepat untuk mandi dan bersiap siap kesekolah.Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh dan Neta bilang tadi sudah hampir sampai dikediaman keluarganya,jangan sampai sahabatnya itu menunggu lama nanti.


Disisi lain mobil milik Neta yang sedang gadis itu kendarai sedang memasuki gerbang masuk kediaman megah keluarga Antara,meski sempat dicegat dan ditanyai terlebih dahulu oleh penjaga yang berjaga disana untuk apa tujuannya kesana.Setelah Neta memberi tahu kalau dirinya adalah sahabat Zia yang merupakan salah satu majikan para penjaga itu dan tujuannya kesana untuk menjemput sang sahabat untuk pergi kesekolah bersama,akhirnya Neta dan mobilnya itu diberikan akses masuk.


Setelah selesai memarkirkan mobilnya


Neta keluar dari mobilnya dan langsung menuju ke pintu masuk bangunan megah yang merupakan kediaman keluarga Antara,ia memencet bel beberapa kali kemudian diam menunggu ada yang membukakan pintu.


Diruang makan semua anak keluarga Antara-Zia sudah berkumpul dimeja makan untuk sarapan,mendengar ada suara bel berbunyi membuat keempatnya saling pandang dan heran sekaligus bertanya tanya siapa yang datang bertamu diwaktu pagi seperti ini.


Kalian bertiga punya janji untuk menerima tamu pagi ini?"tanya Arga kepada ketiga adiknya yang ada dimeja makan.


"Gak"jawab Lyn singkat.


"Gue Enggak tuh"jawab Gia


"Lio juga bukan"ujar Liona ikut menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu siapa?kakak juga soalnya tak memiliki tamu yang datang hari ini"ujar Arga,semua adiknya kompak mengangkat bahu tak tau.


"Permisi tuan muda,nona-nona"ujar salah satu pelayan datang menghampiri meja makan.


"Ada apa?"tanya Arga kepada pelayan itu.


"Anu tuan,didepan ada sahabatnya nona muda Zia yang datang"lapor pelayan itu.


"Itu anak ternyata"gumam Gia.


"Sahabat bik?cewekkan?"tanya Liona memastikan kalau nama sahabat adiknya yang tertera dipikirannya.


"Iya nona,sahabat nona muda adalah seorang perempuan"jawab pelayan itu sopan.


"Bibik bawa kesini aja bik orangnya"pinta Liona kepada pelayan itu.


"Baik nona"ujar sang pelayan beranjak menjauh dari makan.


"Lio kenal sama sahabatnya Zia?"tanya Arga kepada sang adik.


"Iya kak"jawab Liona.


Diruang tamu,Neta sejak beberapa menit lalu berdiri disana memndang kagum interior bagian dalam kediaman salah satu keluarga terpandang dinegara ini.Neta berdiri karena pelayan yang membukakan pintu tadi untuknya tidak mempersilahkannya duduk,walaupun sebenarnya ia bisa saja mengambil inisiatif untuk duduk disalah satu sofa yang ada diruang tamu itu.Namun ia tak melakukannya karena merasa kurang sopan,masa baru pertama kali bertamu ia sudah bersikap sesukanya.Gaklah!yang ada bisa bisa ia tak diperbolehkan lagi bersahabat dengan Zia.


"nona"pelayan yang tadi kembali lagi menemui Neta.


"Ya bik"saut Neta.


"Nona Liona meminta anda untuk menemuinya dan kakak nona muda Zia yang lain,mari ikuti saya"pinta pelayan itu.


"Baik bik"ujar Neta berjalan mengikuti pelayan itu dari belakang.


"Tuan,nona Gia,nona Lyn,nona Lio,ini sahbatnya nona muda Zia"ujar pelayan sesampainya Neta dibawa ke dekat meja makan.


"Halo kakak sekalian,perkenalkan nama saya Neta sahabatnya Zia"ucap Neta inisiatif menyapa keempat kakak dari sang sahabat.


Arga,Gia,Lyn,Liona menatap Neta dari atas sampai bawah.


"Selamat datang dikediaman Antara, Neta"ujar Arga menyambut kedatangan sahabat dari adik bungsunya.


"Neta ayo duduk"pinta Liona kepada Neta sambil menunggu kursi disebelahnya,Neta mengangguk dan menuruti saja ucapan Liona sambil matanya sibuk mencari batang hidung sang sahabat.


"Zia belum turun"ujar Liona kepada Neta saat menyadari gadis itu mencari keberadaan sang adik.


"Lo ada apa tumben kesini?"tanya Liona menanyakan tujuan Neta datang pagi pagi kekediaman keluarganya.


"Gue mau jemput Zia buat berangkat bareng,Lio"jawab Neta memberitahu tujuannya datang.


"Sudah membuat janji dengan Zia?ah jangan tersinggung ya,kakak hanya ingin bertanya"ujar Arga.


"Saya paham kok kak"ujar Neta mengatakan dia tak akan tersinggung.


"Saya tadi sudah menghubungi Zia sebelum kesini untuk memberitahunya kalau saya menjemputnya pagi ini"jawab Neta dengan bahasa formal mengikuti gaya bicara kakak laki laki Zia itu.


Arga menganggukkan kepalanya petanda paham dengan jawaban yang diberikan oleh sahabat adiknya itu.