
"Kamu masih belum memberitahu hal ini kepada keluargamu?"
"Belum dokter"
"Meski sudah berulang kali,tapi saya tak bosan mengatakan hal ini padamu Zia.Cobalah untuk memberitahu setidaknya satu orang dari keluargamu"
"Bukan saya tak ingin melakukannya dokter,saya ingin.Tapi lidah saya sudah kelu duluan bahkan hanya disaat mulai berfikir untuk membicarakan tentang ini kepada mereka...,"
"Oleh sebab itu saya memutuskan untuk membiarkan mereka tau dengan sendirinya,bahkan jika itu adalah disaat hari kepergian saya dokter"
"Jangan katakan hal itu Zia"
Lyn menyetir mobilnya yang melaju dijalan raya dengan kecepatan agak lambat,ia bisa saja membawa lebih cepat namun gadis itu tak mau sampai mengusik penumpang yang tengah tertidur dikursi disebelahnya.Zia adik bungsunya tak sengaja tertidur ditengah perjalanan pulang mereka dari pantai.Lyn sesekali melirik dengan sudut matanya memstikan kondisi adiknya itu,ia bisa melihat gadis SMA itu tidur dengan nyenyak meski dengan posisi yang tidak nyaman karena harus tidur dalam posisi duduk.Kelihatannya Zia sangat kelelahan,entah apa saja yang dia lakukan seharian ini sebelum akhirnya pergi kepantai dengannya.
Kita tinggalkan sejenak kedua gadis itu dan beralih kekediaman Antara dimana keliatannya sebagian besar penghuninya nampak berkumpul diruang keluarga dengan raut wajah khawatir karena dua putri keluarga itu belum pulang kerumah.Keduanya juga tidak ada yang mengirim kabar dan tidak dapat dihubungi sejak tadi.
Ditengah kekhawatiran itu,supir pribadinya Zia datang memasuki ruangan dan dengan sopan menghampiri keluarga majikannya itu.
"Tuan memanggil saya?"ujarnya
"Ya saya memanggil kamu"saut tuan Renal.
"Kalau boleh tahu,ada apa sehingga tuan memanggil saya?"tanya supir pribadinya Zia.
"Dimana putri bungsuku,seharusnya Zia sudah pulang bukan jika kamu sendiri sudah disini?"tanya tuan Renal kepada supir pribadi dari putri bungsunya itu.
"Oh nona muda,tadi sore nona muda sudah bersama saya tuan.Tapi saat diperjalanan pulang,nona muda meminta saya untuk memutar arah menuju ke kampus saudarinya"jawab supirnya Zia.
"Kampus saudarinya?saudarinya yang mana?"kali ini nyonya Sela yang bertanya.
"Maaf nyonya,saya tidak tau pasti. Tapi yang jelas saja mengantar nona muda kekampus,nona muda minta diturunkan didekat area kantin fakultas kedokteran"jelas sisupir.
"Fakultas kedokteran?"semua anggota keluarga Antara yang berada disana nampak sedikit kaget dan langsung saling melihat satu sama lain.
"Berarti Zia pergi ke fakultas tempatnya kak Lyn dong"ujar Liona mewakili pemikiran yang lain.
"Hei!Anda tak berbohong?"tanya Gia kepada supir itu.
"Tidak nona,saya tidak berbohong" ujar pak supir.
"Lalu selanjutnya apa yang terjadi?"
tanya Arga.
"Nona muda meminta saya untuk pulang duluan setelah sampai disana,nona muda mengatakan kepada saya kalau dirinya akan pulang bersama saudarinya.Hanya itu saja yang saya ketahui tuan"jawab supirnya Zia itu.
"Baiklah,Kau boleh kembali ketempatmu"ujar tuan Renal kepada supir pribadi putri bungsunya itu.
Setelah diperbolehkan pergi dari sana,supir pribadi Zia itupun langsung meninggalkan area ruang keluarga majikannya itu.Ada satu hal yang tidak supir itu beberkan kepada keluarga majikannya itu,yaitu saat nona mudanya mengatakan akan pergi kepantai terlebih dahulu bersama nona Lyn.
"Apa yang Zia lakukan menyusul Lyn kekampusnya ya?"tanya nyonya Sela kepada suaminya,namun tuan Renal menjawab dengan sebuah gelengan yang dapat diartian kalau dirinya sendiri tidak tau.
Ditengah keheningan yang terjadi, seorang pelayan datang mendekat dengan terburu buru lalu berkata
Membuat semua orang yang berkumpul diruangan keluarga itu langsung beranjak dari tempat masing masing menuju pintu depan.
Hampir setengah jam lebih waktu yang diperlukan sehingga Lyn dan Zia bisa
sampai dikediaman keluarga mereka, Lyn melihat kesebelahnya dimana adik bungsunya masih terlelap.Lyn berfikir sejenak apakah ia akan membangunkan Zia tapi jika begitu ia kasihan mengganggu tidur nyenyak adiknya itu atau ia gendong saja, tapi tentu pinggangnya yang akan jadi korban nanti.Setelah beberapa detik berfikir akhirnya memilih opsi kedua,yaitu menggendong sang adik bungsu dipunggungnya.
Dengan perlahan Lyn meletakkan Zia dipinggungnya,gadis yang tengah tertidur itu sempat bergerak beberapa saat menyamankan posisi dipunggung yang lebih tua.
*Zia tak seberat itu rupanya*batin Lyn saat mulai melangkah membawa sang adik bungsu dipunggungnya, awalnya Lyn pikir Zia akan cukup berat karena tubuh bongsor adiknya itu yang menjadi yang paling tinggi diantara dirinya dan saudari perempuan mereka yang lain namun adiknya itu malah tak seberat yang dirinya bayangkan.
Memasuki pintu utama,kedatangan Lyn yang tengah menggendong Zia dipunggungnya sudah disambut oleh kedua orang tua serta ketiga saudaranya yang lain.Lyn sempat merasa sedikit kikuk karena merasa dipergoki melakukan sesuatu yang aneh,untung ekpresi datarnya selalu dapat diandalkan menyembunyikan perasaannya yang sesungguhnya.
"Lyn,biar papa bantu"sang papa menawarkan untuk melanjutkan menggendong Zia.
"Tak perlu"tolak Lyn seadanya.
Seperti ciri khas Lyn biasanya,gadis yang menyandang status sebagai mahasiswi kedokteran itu nemilih bersikap acuh dengan sekitar dan terus melanjutkan langkahnya membawa adik bungsunya menuju lift.
Oh tentu Lyn tak akan berani melewati anak tangga.Selain meminimalisir keencokan yang mungkin terjadi pada pinggangnya,ia tentu tak mau sampai mereka terjatuh sehingga membuat sang adik terluka.
Sedangkan keluarganya yang dibelakang langsung bergerak menyusul menggunakan anak tangga, mereka semua ingin tahu apa yang terjadi.
Sesampai didalam kamar Zia,Lyn dengan perlahan memindahkan sang pemilik kamar dari punggungnya ke atas kasur sehati hati mungkin.
Eugh...Zia melenguh pelan merasa tidurnya terusik,namun dengan cepat Lyn mengusap pucuk kepala adiknya itu pelan untuk membuat Zia kembali tidur nyenyak.Lyn menarik selimut sehingga menutupi tubuh adiknya sampai keleher.
"Selamat malam dan mimpi indah,putri kecilnya mami Celine"ucap Lyn pelan sebelum benar benar meninggalkan kamar itu.
Sekeluarnya Lyn dari kamar Zia,gadis itu langsung menemukan kedua orang tua,kakak kembarnya,serta adiknya yang berdiri dengan tampang yang akan segera menyerbunya dengan pertanyaan yang akan membuat dirinya pusing.
"Kami kepantai.Zia yang meminta.itu saja"ujar Lyn setelah itu ia langsung mendekati pintu kamarnya namun dihentikan oleh protesan dari keluarganya.
"Lyn jangan pergi dulu,kami ingin bertanya"itu Arga kakak laki lakinya.
"Benar Lyn,kami butuh penjelasan juga"yang ini kakak perempuannya.
"Papa juga ingin menanyakan banyak hal"
"Mama juga begitu"
Yang dua orang ini pasti bisa ditebak siapa.
"Lio juga ingin bertanya kak"kalau ini sudah pasti Liona.
Lyn menatap satu persatu kelima anggota keluarganya ini dengan wajah datarnya
"Aku lelah"
Brak...ceklek...Lyn menutup pintu kamarnya disusul dengan suara pintu yang dikunci.
Kelima anggota keluarganya yang ada didepan kamar hanya bisa tersenyum hambar sambil mengelus dada, sepertinya tidur kelimanya tidak akan ada yang nyenyak malam ini karena rasa penasaran yang belum terpuaskan.Hah...semuanya menghela nafas.