
Ting...pintu lift terbuka,Zia keluar dari dalam lift sambil menyeret tas sekolahnya.Gadis itu langsung menujuĀ kekamarnya,Zia membuka pintu kamarnya kemudian masuk kedalam.
Bruk...ia melempar tas sekolahnya begitu saja diatas sofa kecil disana,tak peduli apakah isi tasnya baik baik saja apalagi ia menyimpan hpnya disana.Zia memasuki kamar mandi,isi pikirannya sekarang hanyalah untuk secepat cepat mungkin bersih bersih dan ganti baju supaya dirinya bisa cepat cepat tidur dikasur empuknya.
Zia tak berlama lama menghabiskan waktu didalam kamar mandi,terbukti hanya dalam waktu lima belas menit gadis itu sudah keluar dari dalam sana dengan sudah berganti baju.
Gadis itu menghempaskan dirinya diatas kasur dalam posisi tengkurap,
dan hanya butuh waktu beberapa saat baginya untuk terlelap.
Disisi lain,Lyn tampak baru saja pulang.Perempuan berwajah dingin itu memasuki kediaman keluarganya kemudian langsung menuju kearah anak tangga,tap...tap...tap...suara yang berasal dari aduan sol sepatu yang dirinya pakai dan permukaan tangga terdengar seirama.Sesampai dilantai kamarnya,ia melanjutkan langkahnya tapi bukan kamarnya lah tujuannya selanjutnya melainkan kamar salah satu saudarinya.
Langkahnya terhenti tepat didepan pintu kamar yang menjadi tujuannya, dengan perasaan ragu ia mengangkat tangan kanannya untuk memutar knop pintu itu.Pintu kamar itu ia buka dan dorong secara perlahan,Lyn tak langsung masuk kedalam melainkan mengintip terlebih dahulu untuk memastikan apakah sang pemilik kamar ada didalam.
Perempuan berwajah dingin itu melihat sosok saudarinya yang tengah terlelap diatas tempat tidur,Lyn dengan langkah pelan namun pasti mulai menggerakkan kakinya membawa badannya masuk kedalam kamar itu.
Ia berjalan mendekat kearah meja belajar yang ada disana kemudian tangannya bergerak mengeluarkan sesuatu dari paper bag yang dibawa kemudian meletakkannya diatas meja belajar itu,setelah selesai melakukan apa yang ingin ia lakukan disana barulah Lyn dengan cepat pergi meninggalkan kamar itu tanpa mengusik tidur gadis yang menjadi pemilik kamar itu.
Huf...Lyn menghela nafasnya lega setelah keluar dari dalam kamar itu tanpa ketahuan.
"Kakak ngapain?"
Lyn langsung terlonjak kaget dan langsung menoleh melihat siapa yang mengajaknya bicara,itu adalah Liona adiknya.
"Kakak habis dari kamar Zia ya?" tanya Liona kepada Lyn kakaknya.
"Gak"jawab Lyn singkat kemudian langsung bergegas berbalik badan dan masuk kedalam kamarnya yang posisinya tak jauh dari sana meninggalkan adiknya yang sudah membentuk banyak pertanyaan namun belum sempat tersampaikan.
Liona menatap punggung kakanya sebelum sang kakak memasuki kamar, sikap dan respon kakaknya tadi membuat banyak pertanyaan yang muncul diotaknya.Ia tau pasti kalau kakaknya itu berbohong saat menjawab pertanyaannya
"Kenapa kak Lyn bohong?"gumam Liona pelan sambil menatap pintu kamar yang merupakan kamar Zia adiknya.
Sejujurnya tadi Liona melihat sendiri dengan mata kepalanya kalau kakaknya itu keluar dari kamar Zia, dari jauh gadis itu memperhatikan sang kakak yang begitu berhati hati menutup pintu seakan ia masuk kedalam dengan mengendap ngendap.
Liona sedikit penasaran apa yang kakaknya itu lakukan didalam sana memutuskan memeriksa kedalam kamar Zia,matanya langsung tertuju pada sosok sang adik yang tengah tertidur diatas tempat tidur.Liona yang tadinya berniat untuk masuk kedalam mengurungkan niatnya seketika,ia takut mengganggu tidur sang adik.
*Sudahlah,mungkin kak Lyn hanya ingin melihat Zia saja.Lagi pula selama itu gak membahayakan Zia,gue gak perlu khawatir*pikir Liona.
~malam harinya~
Zia baru bangun dari tidurnya disekitaran pukul sepuluh malam, itupun karena ia merasakan perutnya keroncongan karena lapar.Gadis itu keluar dari dalam kamarnya dan berakhir didapur seperti saat ini untuk mencari makanan yang bisa mengganjal rasa lapar,Zia memilih memasak mie instan saja.Hanya itu yang bisa ia makanan yang bisa ia masak dan pastikan enak dalam satu kali percobaan,padahal sebenarnya ia sangat tidak dianjurkan untuk mengonsumsi makanan cepat saji itu.
Tapi mau bagaimana lagi Zia tak mau mengganggu para pelayan yang saat ini sudah mulai istirahat,sedangkan perutnya sudah sangat keroncongan hingga tidak memungkinkan baginya menunggu sampai pagi.
Zia mengambil satu mie instan yang ia temukan didapur,kemudian ia mengambil panci kecil dan mengisinya dengan air bersih kemudian meletakkannya diatas kompor lalu menyalakan kompor itu.
Sambil menunggu airnya panas,Zia membuka bungkus mie instan itu kemudian memisahkan bumbu bumbunya lalu memasukkan mienya kedalam panci kecil dimana terlihat air didalamnya sudah memanas.
Du...ddu...ddu...gadis itu mengaduk ngaduk mie itu sambil bersenandung pelan,Zia mengangkat mie tadi yang sudah matang kedalam mangkok yang sudah ia sediakan setelah meletakkan bumbu disana.
"Huf panas"ujar Zia saat tangannya dengan perlahan mengangkat mengangkat mangkuk itu menuju meja yang masih ada didalam area dapur itu dan tak lupa ia mengambil garpu dan sendok.
"Oke tinggal ambil minum,baru makan"gumam Zia berjalan menuju kulkas.
Gadis itu menuangkan jus buah yang ia temukan dalam kulkas kedalam gelas,kemudian ia membawanya menuju ke meja dimana mie instannya yang sudah jadi ia letakkan.
Zia duduk dikursi,kedua tangannya sudah memegang sendok dan garpu petanda ia siap untuk menyantap makanannya itu.Namun baru saja ia hendak memasukkan suapan pertama kedalam mulutnya,kehadiran seseorang langsung membuatnya kaget.
"Apa yang kau lakukan?"sebuah suara yang terdengar datar dan dingin terdengar dari arah belakangnya, membuat spontan langsung berbalik.
Ia menemukan kakak ketiganya sedang berdiri dibelakangnya sambil melipat kedua tangan didepan dada
"Eh kak Lyn,aku hendak makan malam.
Kakak mau?"ujar Zia dengan segenap keberaniannya,ia mengangkat mangkuk mienya itu kearah Lyn kakaknya.
Glup...Zia menelan ludahnya saat kak Lyn menatap kearah semangkuk mie ditangannya dengan tatapan yang tak terbaca dan beberapa saat kemudian tangan kakaknya itu mengambil alih mangkuk mie itu.
"Eh kak"ujarnya sedikit kaget saat mangkuk ditangannya itu diambil dari tangannya,namun rasa kagetnya langsung bertambah berkali kali lipat saat dengan sekali gerakan semua isi mangkok itu dituangkan kedalam wastafel dapur.
Zia menatap miris nasib mie instan yang capek capek ia buat dengan sepenuh hati itu berakhir diwastefel dapur tanpa sempat untuk ia cicipi sedikitpun,raut mukanya langsung berubah cemberut dan matanya langsung berkaca kaca menahan tangis.Ayolah Zia biasanya tak secengeng itu tapi melihat makanan yang berakhir cuma cuma disaat perutnya yang sudah sangat keroncongan sangat mempengaruhi emosinya,perutnya terakhir kali ia isi dengan makanan saat istirahat jam sebelas tadi disekolah itupun tak banyak.