One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 299



Lyn menatap wajah samping adik bungsunya,bahkan jika dilihat dari samping seperti inipun Zia adiknya masih terlihat sangat indah meski wajah dan bibir gadis itu terlihat pucat pasi.Ia kemudian melirik kesekitaran kursi taman rumah sakit yang kini mereka berdua tempati sekarang,taman rumah sakit nampak sunyi karena selain mereka hanya ada satu dua orang lain yang duduk disana.Dan malam ini memang hanya ada Lyn yang akan menginap dirumah sakit menemani adik bungsunya itu,meski kedua orang tuanya tadi juga berniat menginap namun sibungsu malah menyuruh kedua orang tua mereka itu untuk pulang saja.Meski awalnya tentu ada penolakan dari kedua orang tua mereka,namun sibungsu berhasil membuat pasangan suami istri itu mengalah karena Zia mengatakan akan memaksa untuk pulang saja jika kedua orang tua mereka tak mau menurut.Tentu saja tak akan ada yang akan membiarkan sibungsu itu pulang dari rumah sakit,dalam kondisi yang masih belum bisa dikatakan baik.


Lyn kembali terfokus kepada wajah samping adik bungsunga,sepuluh menit berlalu sudah sejak mereka disini.Namun yang rewel mengajaknya untuk kesini malah sibuk menatap langit malam tanpa menghiraukan dirinya,sesaat kemudian Zia tiba tiba menoleh kearahnya dan langsung tersenyum.


"Kenapa tersenyum,kamu senang berhasil membujuk kakak untuk kesini hm?"tanya Lyn kepada sang adik bungsu.


"Salah satunya itu,tapi alasan aku tersenyum karena bisa melihat langit malam berdua lagi dengan kakak. Seminggu terakhir ini,kita tak pernah melakukannya lagi ditaman belakang rumah"jawab sibungsu, membuat Lyn tersenyum tipis.


"Maaf soal itu,seminggu terakhir tugas kuliah kakak sedang banyak" ucap Lyn meminta maaf.


"Tak apa,kakak tak usah meminta maaf.Aku paham"ujar si bungsu yang kembali menatap sang rembulan.


"Kamu bilang ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan kakak,apa yang ingin kamu bicarakan?"tanya Lyn kepada Zia adiknya.Ya salah satu alasan kenapa Lyn akhirnya bersedia dan memperbolehkan adiknya mengunjungi taman rumah sakit malam malam begini itu karena Zia mengatakan ingin membicarakan sesuatu yang penting dengannya.


"Soal itu,sejujurnya aku masih ragu untuk membicarakan hal ini kepada kakak"ujar Zia menatap Lyn kakaknya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ragu kenapa?kamu masih tak bisa percaya sepenuhnya kepada kakak?"kak Lyn.


Zia buru buru menggelengkan kepalanya dengan cepat tanda dugaan kakaknya itu tidak benar


"Bukan.Bahkan aku mau membicarakan sesuatu ini karena aku sudah bisa mempercayai kakak sepenuhnya"ujar Zia.


"Lantas kenapa kamu masih ragu?" tanya kak Lyn.


"Aku takut kakak akan terluka dan sedih setelah mendengar hal ini dariku"jawab Zia.


Lyn yang mendengar alasan dari keraguan adiknya itupun langsung menjadi sangat penasaran sekaligus tiba tiba merasa gundah entah karena apa.


"Katakanlah apa yang ingin Zia katakan kepada kakak,jangan ragu" ujar Lyn kepada adik bungsunya itu.


"Baiklah,tapi sebelum itu kakak harus berjanji dalam pembicaraan ini tidak ada air mata atau kemarahan ya"pinta Zia,gadis itu mengangkat jari kelingkingnya


"Iya kakak janji"Lyn setuju untuk berjanji kepada adiknya,anak ketiga keluarga Antara itu menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking adik bungsunya.


Setelah kakaknya setuju untuk berjanji,Zia mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya keluar secara perlahan dan...


"Aku sekarang sedang sakit kak"Zia.


"Tanpa kamu bilangpun,kakak juga tau kalau kamu sedang sakit. Itulah kenapa kamu berada dirumah sakit sekarang"ujar Lyn sambil terkekeh pelan diakhir,namun kekehannya itu langsung berhenti saat melihat tatapan serius dan dalam yang adiknya berikan kepadanya.


"Bukan sakit demam,tapi sakit yang lain.Yang jauh lebih buruk kak,aku benar benar sakit"


Kegundahan yang tiba tiba dirasakan Lyn sejak tadi mulai semakin merajalela


"Sakit apa?separah apa?"


"Maaf tapi aku tak sanggup menjelaskannya.Aku akan memberikan kontak dokterku nanti"Zia mengatakan hal itu sambil menunduk karena tak sanggup menatap mata kakaknya,ia tengah berusaha menahan air matanya yang akan keluar.


Lyn menatap adiknya yang tengah menunduk dihadapannya,ia diam diam mencubit kuat pahanya sendiri mencoba meyakinkan dirinya kalau ini adalah mimpi.Namun ini adalah nyata bukan mimpi,matanya memerah.


"Sakitmu tidak akan membawa kamu p-pergi s-seper-ti mami-kan?"tanya Lyn sedikit terbata bata karena tengah menahan segala jenis emosi didalam dirinya terutama keinginan untuk menangis saat itu juga.


Tidak ada jawaban dari gadis yang masih tetap dalam posisi menundukkan kepala kebawah,Lyn langsung merentangkan tangannya memeluk tubuh adik bungsunya itu erat erat.Ia tak suka dengan diamnya gadis itu dan tak mau menjawab pertanyaannya itu.


Disisi lain,Zia langsung merasakan hangat dibadan dan juga didalam hatinya saat kakak ketiganya itu memeluk dirinya erat,meski agak sesak saking eratnya.


"Ingin.Tapi kamu sudah terlanjur membuat kakak berjanji untuk tak menangis"jawab sang kakak ketiga dengan suara yang agak parau.


"Maafkan aku,menahan tangis itu menyiksa.Tapi sangat sakit bagiku jika melihat seseorang yang ku sayangi menangis karena ku"ucap Zia terdengar sendu.


"Jangan minta maaf.Kakak bisa menahannya sampai nanti"ujar Lyn  kepada adiknya itu.


"Kamu tak ingin menjelaskan lebih banyak tentang sakit itu hm?"lanjut Lyn.


"Aku ingin tapi takut tak bisa menahan air mataku,jadi aku akan membuat janji supaya kakak bisa menemui dokter yang merawatku.Kakak mau menemui dokter itukan?"Zia.


*Sama kakak juga tak akan sanggup menahan tangis jika kamu membahas lebih jauh adikku*batin Lyn.


"Kak"Zia memanggil kakaknya karena merasa tak ada jawaban yang didapat.


"Tentu,berikan kartu nama milik dokter itu.Kakak akan membuat janji dan menemuinya sendiri"ujar Lyn pelan sebagai jawaban.


"Kak"Zia memanggil kakaknya lagi.


"Hm?"kak Lyn menyaut.


"Kakak kemarin yang menggendongku dari mobil ke kamar ku,saat aku tertidur dari pantai-kan?"tanya Zia.


"Iya.Kamu tau?"kak Lyn.


"Berarti kemarin aku tidak bermimpi.


Jadi kak,apa kak Lyn tak masalah melakukannya lagi nanti?"tanya Zia.


"Kamu ingin digendong pagi?"tanya Lyn kepada adiknya itu.


"Hmm,tapi nanti.Pelukan kakak sangat nyaman,hangat,dan menenangkan membuatku mengantuk.Jadi kalau aku tertidur,kakak tak masalahkan menggendongku ke kamar rawatku?"Zia.


"Tak masalah atau keberatan sama sekali,tidurlah.Kakak akan menggendongmu nanti"bisik Lyn pelan didekat telinga Zia,sambil mengusap perlahan kepala adiknya itu.


"kak"adik kecilnya itu kembali memanggil meski dengan suara yang pelan.


"Ya?"saut Lyn.


"Terima kasih sudah selalu menyangiku dengan hati yang tulus"


suara yang termuda semakin memelan.


"Terima kasih kembali.Kakak berterima kasih juga kepadamu karena sudah mau berbagi hal ini"bisik Lyn ke telinga adiknya itu.


Hmm...


Lyn bisa mendengar hembusan nafas teratur dari adik kecilnya yang tengah ada didalam pelukannya itu,


Zia pasti sudah tertidur sekarang.


Dengan bibir yang bergetar menahan tangis,Lyn terus mengusap pelan kepala adik bungsunya itu.Kedua mata gadis yang merupakan seorang mahasiswa kedokteran itu terlihat memerah dan berkaca kaca.


*Cobaan dan berita buruk apa lagi ini tuhan? Dan kenapa harus adik kecilku juga?*Lyn merintih didalam batinnya.