One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 64



"Ayo dimakan Lio"ujar Ken kepada Liona.


"Hm"saut Liona hanya berdehem saja.


Keduanyapun mulai memakan pesanan mereka dengan perasaan yang sangat berbeda antara keduanya,Liona dengan perasaan sedih,sakit,dan kecewa campur aduk menjadi satu.Sedangkan Ken malah sebaliknya,cowok itu terlihat menikmati makanannya dengan wajah berseri seri.


*Zia bentar lagi gue bakal dapetin lo*ujarnya dalam hati.


~skip~


Sebuah mobil melaju memasuki gerbang masuk kawasan kediaman keluarga Antara dan tak lama kemudian berhenti,salah satu pintu bagian depan mobil itu terbuka dan menampilkan seorang gadis yang merupakan anak keempat dari keluarga Antara yaitu Liona.


"Makasih Ken"ucap Liona kepada Ken yang berada didalam mobil.


"Sama sama Lio,jangan lupa dengan pembicaraan kita yang tadi ya Lio"ujar Ken mengingatkan gadis itu.


"Iya Ken"jawab Liona seadanya.


"Kalau begitu aku pamit dulu ya Lio,sampai besok"ucap Ken pamit kepada Liona kemudian mulai menjalankan mobilnya lagi meninggalkan kediaman keluarga Liona itu.


Liona menatap sendu kepergian mobil yang dimendarai oleh cowok yang telah berhasil mencuri dan melukai hatinya secara bersamaan,ia berbalik dan berjalan terburu buru memasuki kediaman keluarganya.


Liona menaiki satu persatu anak tangga dengan sedikit terburu buru,dari mata gadis itu terlihat tetesan tetesan air mata yang sudah sejak tadi gadis itu tahan supaya tidak keluar akhirnya mengalir deras membasahi pipinya.Liona sudah tak bisa menahan air matanya untuk tak keluar dari pelupuk matanya,ia bejalan dengan cepat menuju ke kamarnya.Namun saat sudah hampir kekamarnya ia tak sengaja berpapasan dengan Zia,Liona terhenti sejenak saat melihat Zia yang baru keluar dari kamar.Adiknya itu tampak terkejut melihat kondisinya yang terlihat sangat menyedihkan itu, Liona memutuskan tatapan itu terlebih dahulu dan memasuki kamarnya.Brak...Liona menutup pintu kamarnya dengan kasar,ia langsung menghempaskan tubuhnya diatas kasur dan membenamkan mukanya kedalam bantal.Liona benar benar menangis tersedu sedu saat ini.


Disisi lain Zia terdiam mematung saat melihat saudarinya yang terlihat menangis dan memasuki kamar,gadis itu tadinya keluar kamar hendak turun kelantai bawah karena ingin mencari makanan yang bisa dijadikan untuk menunda rasa laparnya.Zia membuka pintu kamarnya dan keluar dari dalam kamarnya tapi alangkah terkejut dirinya saat melihat kakaknya yang baru pulang, mata saudarinya itu terlihat memerah dan derasnya air mata yang membasahi wajah Liona.Ia dan saudarinya itu sempat beradu pandangan,Zia seperti merasakan rasa kecewa dan kesedihan yang tersirat didalam tatapan mata saudarinya itu padanya.Bukannya seharusnya Liona merasa senang karena baru pulang diajak jalan sama crussnya


"Wah ada yang gak beres nih"gumam Zia pelan.


Zia langsung mengurungkan niat awalnya untuk turun kelantai bawah untuk mengambil makanan penunda lapar,ia memilih menuju kedepan pintu kamar Liona.


Meski dengan sedikit rasa ragu,Zia memutar knop pintu kamar Liona dan mendorongnya supaya terbuka cukup lebar untuk Zia bisa masuk kedalam kamar.Dengan hati hati untuk pertama kalinya Zia memasuki kamar tidur kakak ketiganya itu,ia bisa melihat Liona yang berbaring dalam posisi tengkurap dengan wajah yang dibenamkan kedalam bantal.


Meski tak melihat wajah depan Liona, tapi Zia tetap bisa mengetahui kalau saudarinya itu tengah menangis.Hal ini dapat terlihat dari pundak gadis itu yang naik turun karena menangis.


"Lio are you okey?"tanya Zia berjalan mendekati ranjang Liona.


Sadar kalau Zia memasuki kamarnya, Liona langsung mengubah posisinya menjadi duduk diatas kasur,wajah gadis itu terlihat menyedihkan dengan air mata yang masih mengalir,muka sembab,dan rambut yang terlihat acak acakan sedangkan Zia duduk dipinggir tempat tidur saudarinya itu.


"Zi-Zia...Hua...Hiks..hiks..."tangis Liona semakin menjadi jadi,Zia yang tak tau apa apa hanya bisa memeluk saudarinya itu mencoba menenangkan dengan menepuk nepuk punggung Liona dengan pelan.


Tangis Liona terhenti setelah lebih dari sepuluh menit,merasa kalau saudarinya itu sudah cukup merasa tenang barulah kemudian Zia melepaskan Liona dari pelukannya.


Ia menatap lekat tepat kearah mata saudarinya yang terlihat sangat sembab dan memerah akibat cukup lama menangis.


"Udah lega?"tanya Zia lagi dan Liona kembali mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau gitu cerita sama Zia,Lio kenapa bisa nangis gini"pinta Zia kepada Liona,yang membuat saudarinya itu lagi lagi mengangguk.


Hig...hig...hig...Liona cegukan karena menangis.


"Ta-tadikan a-aku diajak jalan sama Ken,dia ajak kakak ke cafe gitu. Soalnya Ken bilang mau ngomongin sesuatu sama kakak,karena kakak penasaran sama apa yang pengen omongin sekaligus seneng diajak jalan jadi kakak iyain"ujar Liona mulai menceritakan penyebab dirinya menangis.


"Terus"


"Awalnya kakak seneng banget,siapa sih yang gak senang diajak jalan sama cruss yang udah sejak lama kita taksir.Tapi pas dia mulai mulai pembicaraan trus mulai bilang apa yang ingin dia bilang ke kakak,denger pernyataannya bikin hati kakak hancur sedih patah hati jadi satu"lanjut Liona.


"Emang itu cowok ngomong apaan ke kamu Lio?"tanya Zia


"Itu Ken bilang,dia bilang pengen lebih dekat sama kamu dek"


"Maksudnya apa?kok gue gak paham?"tanya Zia.Ia berbohong mengatakan ia tak mengerti,Zia tau pasti arah pembicaraan ini.


"D-dia,Ken bilang d-dia su-suka sama kamu"jelas Liona terbata bata,gadis itu kembali merasa ingin menangis.


"HAH"Zia memberi respon seolah olah kaget.


"Gak usah sok kaget gitu,Ken bilang sejak beberapa hari ini dia udah sering deketin kamu trus udah bilang kalau dia suka sama kamu"ujar Liona sendu sambil menunduk.Zia kaget mendengar hal itu,ia menggeram kesal bagaimana bisa cowok sialan itu mengatakan hal itu kepada kakanya langsung.


"Maaf"ucap Zia kepada Liona.


"Cowok itu memang sejak beberapa hari ini memang sering kirim chat aneh ke gue"ujar Zia kepada saudarinya.


"Jadi bener ya?"ujar Liona pelan tapi masih bisa didengar oleh Zia.


Liona mengangkat kepalanya yang tadinya menunduk dan menatap kearah Zia adiknya.


"Kamu gimana dek?kamu suka ke Ken?"tanya Liona kepada Zia.


"Enggaklah"jawab Zia dengan cepat tanpa ragu sedikitpun.


"Jangankan suka,tertarik aja gak pernah"lanjut Zia.


"Benarkah?"tanya Liona,ia merasa sedikit lega karena Zia mengatakan tidak suka atau tertarik kepada Ken.


"Benerlah,gue jujur aja nih ya sama lo Lio.Gue malah rada ilfil sama crus lo itu,alay banget menurut gue"ujar Zia kepada Liona.