
Sebuah mobil berhenti tepat diparkiran gedung perusahaan,didalam mobil tepatnya dikursi pengemudi terlihat seorang pemuda yang tengah menatap sebuah kartu nama sebuah perusahaan yang ia dapatkan dari salah seorang teman sekolahnya.
F'Company
Nama perusahaan yang tertera pada kartu nama itu,setelah membaca berulang kali barulah pemuda itu yakin kalau dirinya tidak salah alamat.
Hup...Huf...pemuda itu menghirup dan membuang nafasnya sebentar,kemudian barulah ia beranjak keluar dari dalam mobilnya.
Cowok yang masih berstatus sebagai seorang siswa disebuah sekolah menengah atas kepemilikan salah satu keluarga konglomerat dinegara itu berjalan memasuki gedung perusahaan yang dia datangi itu dengan perasaan yang sangat gugup,bagaimana tidak karena ia tahu pasti kalau gedung perusahaan yang tengah didatanginya ini masuk jajaran salah satu perusahaan besar dinegaranya.
"Selamat datang,ada yang bisa saya bantu?"sambut resepsionis yang tengah duduk dibalik meja resepsionis.
"A-anu i-ini mbak,saya disuruh datang kesini sama teman saya.Ini tadi teman saya kasih ini"jawab cowok itu,ia menyerahkan kartu nama yang sejak awal berada digenggaman nya kepada resepsionis.
Resepsionis itu menerima kartu nama yang diserahkan oleh anak remaja didepan mejanya itu,melihat kartu nama itu dan kemudian terlihat menganggukkan kepala pelan.
"Tunggu sebentar ya dek"ujar resepsionis itu kepada remaja itu.
Remaja itu menganggukkan kepalanya mengiyakan.
Resepsionis itu langsung mengambil gagang telepon dan mulai menekan nomor pada tempat gagang telepon dimeja kerjanya sepertinya hendak menghubungi seseorang.
"Selamat sore nona,maaf mengganggu.
Saya hanya ingin memberitahu kalau ada seseorang remaja yang datang hendak menemui nona"
"...."
"Benar sekali,remaja yang saya maksud memang membawa kartu nama khusus pimpinan nona"
"...."
"Namanya?tunggu sebentar nona,akan saya tanya dulu"
Sekretaris itu menoleh kearah remaja laki laki itu
"Maaf kalau boleh tahu,namanya siapa dek?"tanya resepsionis itu.
"Juna mbak,nama saya Juna"
"Namanya Juna,nona"
"...."
"Oh baiklah nona,saya akan minta remaja tersebut untuk langsung keruangan nona"
"...."
"Selamat Siang nona"
Resepsionis itu terlihat meletakkan gagang telepon kembali ketempatnya kemudian beralih kembali kepada pemuda didepannya
"Dek,bos saya bilang.Adek silahkan menuju keruangan bos saya yang berada dilantai paling atas gedung ini menggunakan lift"ujar Resepsionis itu.
"Disana akan ada sebuah ruangan yang didepannya tertulis ruangan CEO didepannya,adek tinggal masuk aja kesana"lanjut resepsionis itu.
"Ruangan CEO,langsung masuk aja mbak?"tanya Juna memastikan dirinya tak salah dengar.
"Iya dek,tinggal ketuk pintu dan masuk.Soalnya bos saya sudah menunggu disana"jawab Resepsionis itu.
"Kalau begitu,terima kasih mbak"ucap Juna.
"Sama sama dek"saut Resepsionis itu.
Juna pun mulai melangkah menjauh dari meja resepsionis itu lalu menuju kearah lift sesuai dengan apa yang dikatakan resepsionis tadi,ia menekan tombol dan menunggu pintu lift terbuka.
Setelah pintu lift terbuka,Juna langsung masuk kedalam dan menekan nomor lantai paling atas sesuai intruksi yang didapat.Pemuda itu mengenggam jari jarinya sendiri,ia bisa merasakan telapak tangannya yang mendingin,Juna saat ini sedang merasa gugup sekaligus was was ditambah bingung juga kenapa bos perusahaan ini memintanya untuk menemui diruangan milik bos itu.
Juna juga merasa penasaran darimana Zia mendapat kartu nama perusahaan itu dan kenapa gadis itu memberikan nya kepada dirinya,apa hubungan gadis itu dengan bos perusahaan ini.
*Apa mungkin mereka saling kenal dari papanya Zia ya?*batin Juna.
~Ruangan Zia~
Bruk...Zia menghempaskan dirinya diatas sofa dengan posisi berbating, kemudian menutup kedua matanya.
"Capek lo ya?"tanya kak Anna kepadanya.
"Iya"jawab Zia seadanya.
"Ngapain aja lo emang sebelum kesini,capek banget keliatannya. Padahal pertemuan tadi juga gak terlalu lama dan pembahasannya juga gak berat?"tanya kak Anna.
"Kesekolah,ujian,bandara,makan siang sama yang lain,trus kesini"jawab Zia.
"Jemput Papa sama mami yang baru balik Aussie,mana tadi dibandara tiba tiba nongol wartawan lagi"jawab Zia.
"Hah wartawan?mereka liat muka lo dong?"tanya kak Anna,wanita itu terlihat kaget dengan apa yang Zia katakan tadi.
"Kayaknya iya deh,tapi gak tau lah" jawab Zia memilih tak memikirkan hal itu.
"Wah kalau bener,siap siap aja deh muka lo besok terpampang disosmed" ujar kak Anna.
"Kalau iya,tinggal minta tackdown sebisanya aja sama papa"ujar Zia.
"Lupa gue tadi lo anaknya siapa,tapi emang bisa gitu?"tanya kak Anna.
"Kata kak Lyn sih bisa,tapi gak semua.Soalnya pasti ada satu satu pihak media yang gak bisa diajak kooperatif,nah spesies media yang satu itu tuh yang nyusahinnya minta ampun"jawab Zia.
"Berarti kalau bener ada spesies media yang kayak yang lo bilang tadi dibandara,siap gak lo identitas lo sebagai anak bungsu keluarga Antara terbongkar?"tanya kak Anna
"Siap gak siap harus siap sih gue, lagian tanpa diberitakanpun bukannya udah banyak ya orang yang tau identitas gue.Apalagi anak anak Hantara sama guru gurunya,99% tahu mereka tuh"ujar Zia kepada kak Anna.
"Iya sih,cuma mereka yang udah tahu itu kayaknya yang gak berani publis"ujar Kak Anna yang setuju dengan perkataan Zia barusan.
"Tuh tau"ujar Zia.
Drt...drt...drt...
"Eh itu telepon kantor lo bunyi, angkat sono siapa tau penting"suruh kak Anna.
"Lo aja kak,tolong angkatin.Gue capek nih"pinta Zia
"Dih ogah,lagian bukan lo aja yang capek lo juga"tolak kak Anna.
Cks...Zia berdecih dan dengan terpaksa ia bangkit dan berjalan kearah meja kerjanya lalu mengangkat telepon.
"...."
"Siang,orang itu bawa kartu nama perusahaan saya gak?"
"...."
"Namanya siapa?"
"...."
"Suruh langsung keruangan saya"
"...."
"Hm"
Zia meletakkan gagang telepon ketempatnya kemudian berbalik dan berjalan kembali menuju kearah sofa yang tadi,sekarang sudah ditempati oleh kak Anna yang berbaring disana.
"Kak,sana cepet balik keruangan lo" suruh Zia.
"Ngusir gue lo?"tanya kak Anna
"Bukan,tapi bentar lagi gue ada tamu"ujar Zia.
"Tamu?siapa?gue kenal gak?"tanya kak Anna bertubi tubi.
"Iya tamu,temen sekolah,lo gak kenal"jawab Zia.
"Ngapain temen sekolah lo kesini, pasti bukan Neta kan?soalnya kalau Neta pasti lo gak bilang temen tapi sahabat"ujar kak Anna.
"Emang bukan Neta,ada urusan dia kesini.lo gak usah banyak nanya, lagian ini bakal ngurangin satu pekerjaan lo"ujar Zia.
"Serius lo,ini bakal ngurangin kerjaan gue?"tanya kak Anna.
"Iya kalau pembicaraan ini berhasil, lo gak perlu repot repot seleksi orang buat mimpin kantor cabang baru dikota sebelah"jawab Zia.
"Yang bener?maksud lo yang kantor cabang yang bakal dibuka dan diresmiin bulan depankan?"tanya kak Anna.
"Iya yang itu"jawab Zia.
"Okelah gue cabut keruangan gue"putus kak Anna.
"Gitu dong dek,sesekali bantuin kurangin kerjaan gue bukannya nambahin mulu"lanjut kak Anna yang mulai beranjak dari sana.
"Ye,gue nambahin kerjaan lo tapi gaji lo juga gue tambah ya.Jadi gak usah protes soal itu"ujar Zia
"Iya deh,bos mah bakal menang dibanding karyawan"ujar kak Anna sebelum menghilang dibalik pintu.
"Emang itu aturannya"gumam Zia pelan.