One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 288



Brak...Zia menutup pintu kamarnya dengan sedikit tenaga lebih sehingga menimbulkan suara yang lumayan.


"Hah,ada ada saja"gumamnya sambil menempelkan keningnya kepermukaan pintu.


"Ada masalah?"


"Eh Yaampun!" Zia yang sedikit terlonjak  kaget saat tiba tiba ada yang bicara dibelakang punggungnya,gadis itu langsung berbalik dan dapat menemukan kakak ketiganya yang berada diatas tempat tidur dengan wajah datar khasnya.


"Kak Lyn membuatku kaget saja"ujar Zia berjalan mendekat ketempat tidur itu dan duduk dipinggirannya.


"Apa yang kakak lakukan disini?" tanya Zia kepada kakak ketiganya itu.


"Aku tidur disini malam ini,ingin memeluk adikku.Apa mengganggumu?" Jawab kak Lyn.


"Sebenarnya tidak mengganggu sih tapi.."


"Tapi apa?"


"Kakak tidak khawatir jika nanti ada yang masuk kekamarku dan menemukan kakak disini,siapapun itu pasti nanti bertanya tanya tentang hal itu.Selain itu sama saja kalau mereka tidak menemukan kakak didalam kamar kakak,itu juga bagiaman nanti?"ujar Zia menjelaskan sesuatu yang membuatnya khawatir jika kakaknya itu tidur dikamarnya.


"Memangnya selain aku,ada yang pernah masuk diam diam kekamarmu?" tanya kak Lyn,dan Zia langsung menggeleng karena setau dirinya belum pernah ada yang seperti itu.


"Lantas kenapa harus khawatir? Dan lagi pula anggota keluarga kita hampir tak pernah berani masuk kedalam kamarku tanpa izin,kau bisa tenang akan hal itu.Selain itu jikapun begitu,menginap dikamar adik sendiri bukan sebuah kesalahan"ujar kakak ketiga Zia itu panjang,jarang sekali begini.


"Baiklah kakak boleh menginap disini"putus Zia menghilangkan keraguannya,lagi pula toh dilarangpun dirinya tak yakin kakak ketiganya ini akan menurut.


"Kalau begitu jawab pertanyaan pertamaku yang tadi"pinta kak Lyn.


"Pertanyaan yang mana?"tanya Zia.


"Pertanyaanku yang membuatmu kaget Zia,ada masalah?"ujar kak Lyn kembali mengulang pertanyaan pertamanya tadi.


"Oh itu.Tidak tidak ada masalah kok" jawab Zia,tentu jelas dirinya sedang berbohong sekarang.Oh mana mungkin seorang Zia tak punya masalah,masalahnya banyak dan menumpuk.


Lyn menatap wajah adiknya dengan seksama


"Kau memang seorang penyembunyi masalah ahli Zia,tapi kali ini kau tak bisa berbohong pada kakak.Ayo katakan cepat,sebelum aku marah padamu.Lagi pula aku bisa menebak kalau masalahmu kali ini berhubungan dengan papa"ujar gadis dingin itu. Meski dinginnya akan berkurang kalau lagi sama adik bungsunya.


"Kakak tau dari mana kalau aku sedang punya masalah dengan papa?" tanya Zia kepada kakaknya itu sambil memasang wajah kaget karena kakak ketiganya itu bisa menebak dengan benar.


"Kau tadi dipanggil keruangan papa.


Dan barusan kau mengeluh setelah keluar dari ruangan ity,jadi cukup jelas"jawab kak Lyn dengan nada agak datar tapi lumayanlah karena mahasiswi kedokteran itu setidaknya sedikit memainkan ekpresi wajahnya.


"Begitu rupanya"guman Zia pelan.


Kakak ketiga Zia itu langsung bergerak dari posisinya menjadi berbaring dan membuka tangannya meminta adik bungsunya untuk masuk kedalam pelukannya.Zia sebagai adik yang baik tentu menurut dan ikut berbaring dan membalas pelukan hangat dari kakak ketiganya itu.


"Jadi?"kak Lyn


"Papa memintaku keruangannya untuk membuat permintaan supaya aku tidak bertemu dan berkomunikasi lagi dengan paman Dira.Kakak masih ingatkan dengan teman papa yang dahulu menghampiriku saat dipesta perusahaan?"Zia.


"Ya ingat.Kenapa papa melarang?"kak Lyn


"Entahlah katanya paman Dirga membawa pengaruh buruk untukku,tapi aku tak merasakan demikian.Menurutku malahan paman Dirga orang yang baik karena bersedia menceritakan banyak hal tentang mama kandungku,selain itu aku tak yakin jika mamaku bersahabat baik dengan orang jahat.


Jadi pasti paman Dirga itu orang baik,ya meski didunia itu tak ada yang baik sepenuhnya"Zia


"Jadi apa keputusanmu?"kak Lyn.


"Tentu saja aku menolak hal itu.


Bagaimana menurut kakak,aku tak salah jika menolak permintaan papa bukan?"Zia.


"Tak salah kok,itu hakmu.Terlebih dengan semua yang telah terjadi, menurutku papa juga tak punya hak penuh lagi untuk mengatur dirimu Zia.Selain itu aku sependapat tentang tuan Dirga yang merupakan orang baik"kak Lyn.


"Hoam...baguslah kalau aku tak salah"Zia menguap karena kantuk mulai menyerang.


"Tidurlah,kamu sudah mengantuk"ujar Lyn kepada adik bungsunya yang terdengar telah menguap beberapa kali.


"Hm,selamat malam kak"Zia


"Hm,kau juga.Dan jangan lupa mimpi indah"kak Lyn.


"em"


Lyn mengintip wajah adiknya yang terlihat telah terlelap dipelukannya,senyuman tipis terukir dibibir gadis dingin itu sebentar sebelum akhirnya berubah menjadi wajah datar kembali karena memikirkan sesuatu.


*Sekuat itukah papa berusaha menyembunyikan masa lalunya sebagai bajingan? Apa laki laki itu tak pernah sadar kalau rahasianya itu bukanlah rahasia lagi bagiku dan Zia? Kuharap paman Dirga tak menghajar papaku yang pengecut itu* Lyn berujar didalam batinnya.


Anak ketiga dari lima bersaudara itu kemudian mengeratkan pelukannya kepada sang adik bungsu lalu mulai memejamkan matanya untuk bergabung kedalam alam mimpi sebentar lagi.


Perkiraan sekitaran tengah malam, kamar Zia terasa sangat sunyi karena dua gadis yang ada didalam kamar itu tengah tertidur pulas diatas tempat tidur disana.Ditengah keheningan itu perlahan terlihat pergerakan dari pintu kamar,sangat pelan sehingga tak ada suara yang ditimbulkan.


Kepala seseorang menyembul dari balik pintu untuk mengintip kedalam kamar,sepasang bola mata langsung terlihat membulat kaget melihat dua orang yang tengah tidur berpelukan diatas tempat tidur didepannya. Perlahan kepala itu mundur kebelakang menghilang dibalik pintu dan juga pintu itu kembali menutup dengan perlahan tanpa menimbulkan jejak suara yang dapat mengusik.


*Lagi lagi aku menemukan kak Lyn dan Zia berinteraksi sedekat itu.Kenapa mereka selalu memilih berinteraksi secara diam diam dibelakang keluarga besar*batin seseorang yang kini berdiri dibalik pintu kamar Zia bagian luar.