
Seperti biasa dipagi hari,keluarga Antara pasti berkumpul dimeja makan untuk sarapan sebelum melakukan aktivitas masing masing.
"Dek pulang sekolah,temenin kakak ke mall dong"pinta Liona pada Zia.
"Bo.."
"Gak bisa,nanti pulang sekolah dia udah janji bantuin kakak belajar mengenai perusahaan dilapangan"
Baru saja Zia hendak mengiyakan ajakan Liona,namun sudah disambar terlebih dahulu oleh kak Gia.
Liona langsung mendelik kesal karena kakaknya yang menjawab bukan Zia, padahal ia-kan bertanya pada Zia.
"Is kakak apa apaan sih,Zia nemenin aku ke mall aja.Mau ya dek?"ujar Liona berusaha membujuk Zia agar mau.
"Dibilang dia gak bisa masih ngeyel kamu,dia ada urusan penting sama kakak"lagi lagi kak Gia yang menyaut bukan Zia.
"Kakak bisa diem dulu gak sih,Lio lagi ngomong sama Zia loh bukan sama kakak"protes Liona makin kesal.
"Kakak cuma wakilin dia aja,emang salah?"ujar kak Gia tak peduli.
"Salah-lah"ujar Liona.
"Udah udah,kalian malah ribut pagi pagi"tegur tuan Renal sang papa akhirnya turun tangan melerai keduanya sebelum makin makin nantinya.
"Zia"panggil tuan Renal pada sibungsu.
"Ya pa,kenapa?"saut Zia.
"Kakak kamu Gia beneran minta diajarin sama kamu tentang perusahaan?"tanya sang papa memastikan yang putri sulungnya tadi katakan tidak berbohong.
"I-iya pa,kak Gia mau minta ilmu sama yang lebih berpengalaman katanya"ujar Zia terlihat agak ragu ragu,padahal jujur saja kalau ia sama sekali tak tau menau soal itu.
Namun Zia tahu pasti kalau kakak sulungnya itu pasti punya sebuah rencana,dan sudah jelas lagi lagi Zia terseret sebagai korban utama dari rencana kakaknya yang satu itu.
"Lah udah damai kalian,kapan akurnya?bagus bagus"tanya kak Arga nyamber.
"Kapan Kita Damai!"ujar Zia dan kak Gia serempak lalu saling lihat satu sama lain lalu dengan cepat sama sama memalingkan wajah mereka.
"Eh buset,terkejut"ujar kak Arga kaget.
"Gimana mau damai,orang kak Gia-nya sensian banget jadi orang"gumam Zia namun masih bisa didengar yang lain.
"Heh gue gak sensian ya,muka lo aja yang bikin gue kesel setiap ngeliatnya!"sergah kak Gia tak lupa tatapan dengan mematikannya
*Tuhkan udah ngamuk lagi*batin Zia.
"Oke tadi adalah bukti kalau dua putri mama belum akur,ayo lanjut sarapan lagi"ujar nyonya Sela menghentikan obrolan meja mekan sebelum perang dingin antara putri sulung dan putri bungsunya kembali pecah.
Huf...Lyn menghela nafas pelan dan tipis,hanya dirinyalah satu satunya anggota keluarga ini yang bisa makan dengan tenang tanpa bersuara. Selebihnya?pasti ada saja topik yang berujung pada keributan atau suasana bersitegang kecil yang tercipta,
ia melihat adik bungsu dan kakak perempuannya bergantian sekilas lalu melanjutkan kegiatan sarapannya dengan tenang kembali.
Garasi mobil___
Gia sedang berjalan menuju garasi tempat dimana mobilnya berada namun ada yang membuatnya risih sejak tadi,yaitu bocah SMA yang entah kenapa terus mengekorinya dari ruang makan.
"Ngapain lo ngekorin gue dari tadi?"tanya kak Gia sambil menatap sinis kearah Zia.
"Mau nebeng kak"jawab Zia polos.
"Lo punya nyawa berapa,sampai berani beraninya minta tebengan sama gue hm?"
aduh hm-nya itu loh,berdemage banget.Merinding kita dengernya langsung.
"Sampai ujung jalan aja kak,ayolah sesekali berbuat baiklah sama gue"bujuk Zia.
"Apa untungnya sama gue?"tanya kak Gia.
"Hadeh,maksudnya kakak minta imbalan gitu sama ge?"tanya Zia dan yap sang kakak langsung mengangguk.
"Gue bantuin lo cari klaen gede,mau gak?"tawar Zia.
"Masuk,awas lo bohong.Kepala lo gue penggal"ujar kak Gia akhirnya setuju memberi Zia tebengan,meski dibarengi sebuah ancaman.
*Buset ancamannya,gini nih kalau punya saudari berjiwa spikopat*batin Zia,ia sudah masuk dan duduk dikursi disebelah kursi pengemudi.