
"Apa bocah itu gak kedinginan tidur diruangan ber-AC seperti hanya menggunakan baju sekolah lengan pendek itu?"gumam Gia saat menyadari AC dalam ruangannya itu diatur dalam suhu yang cukup dingin sedangkan gadis yang tengah tertidur pulas itu hanya menggunakan baju lengan pendek saja.
Gia berjalan menuju kearah sebuah lemari yang berada diruangannya itu, lemari itu memiliki ukuran sedang. Wanita itu membuka lemari kemudian mengambil sebuah selimut dari dalam sana,tangannya segera menyelimuti saudari yang masih belum ia anggap saudarinya itu dengan selimut yang ia ambil tadi.Selimut itu memang sengaja Gia simpan disana untuk keadaan tertentu,alias untuk jaga jaga saja apabila ia membutuhkannya jika harus bekerja lembur dikantor.
"Dengan begini ia tak akan kedinginan lagi"gumam Gia sambil memperhatikan Zia yang sepertinya tidur gadis itu akan bertambah nyenyak.Ia juga mematikan dan menyimpan tablet yang ada dipangkuan Zia keatas meja,Brak...sesuatu terjatuh saat Gia tak sengaja menyenggol tas sekolah Zia saat perempuan itu hendak beranjak menjauh dari sofa.
Eugh...gadis yang sedang tertidur itu melenguh pelan karena terganggu akibat suara benda jatuh itu,tapi tak sampai membuatnya bangun.
Gia dengan cepat memeriksa benda apa yang jatuh itu,takut takut benda itu adalah benda berharga.Kening perempuan itu kembali menyergit karena melihat benda yang jatuh itu yang tak lain dan tak bukan adalah sebuah botol kecil berbahan kaca plastik dan terlihat berisikan banyak butiran pil didalamnya,Gia memperhatikan dengan seksama botol kecil itu mencoba mencari tahu obat apa yang ada didalamnya.Namun sepertinya Gia tak bisa menemukan informasi apa apa karena label pada botol itu sudah disobek alias dilepas,terlihat dari bekas lem penempel serta beberapa cercah kertas yang masih menempel disana.
*Obat apa ini?kenapa anak ini menyimpannya didalam tasnya?*dalam batin Gia bertanya tanya mungkin karena penasaran.
*Tunggu!kenapa sejak tadi aku seperti tengah mempedulikannya?
bukan urusanku jika bocah itu kedinginan atau obat apa yang dia simpan ini*batin Gia menyadari tingkahnya sejak tadi,ia segera menggelengkan kepalanya cepat.
*Tidak!aku sedang tidak peduli atau sedang khawatir padanya,ini hanya bersifat kemanusiaan saja*Gia masih bergelut dalam batinnya,dengan cepat ia meletakkan botol obat itu diatas meja,lebih tepatnya disebelah tablet milik Zia tadi.
"Sepertinya aku kelelahan makanya begini"gumam Gia,perempuan itu pergi menuju meja kerjanya dan melanjutkan pekerjaannya sampai sore.
~skip~
Kelopak mata Zia perlahan terbuka dan mengerjap,gadis itu menatap langit langit.Keningnya sedikit mengkerut karena merasa tidak familiar dengan warna cat dan bentuk langit langit ruangan itu,setelah berfikir beberapa saat mata Zia langsung melebar mengingat dimana ia berada sekarang.
*Anjir gue ketiduran diruangan kak Gia,gue kena marah gak ya?*batin Zia.Gadis itu seketika langsung mengubah posisinya yang tadi berbaring disofa menjadi duduk,ia seketika dengan refleks memukul- mukul pelan kepalanya berulang kalinya.
"Apa yang kau lakukan,kau sedang kehilangan akal?"suara seseorang mengintrupsinya.
Zia langsung berhenti memukul mukul kepalanya dan langsung menoleh kearah asal suara,ia menemukan saudari tertuanya yang tengah duduk dimeja kerja sedang menatapnya dengan tatapan yang aneh.
"Ah aku tidak apa apa kak"ujar Zia.
"Aku tidak peduli jika terjadi apa apa denganmu,tapi berhenti bersikap aneh diruanganku.Jika ada karyawan lain yang melihatmu mereka akan menganggapmu idiot,dan jelas itu akan mencemari nama keluarga"ujar kak Gia kepada Zia,setelah mengatakan hal itu perempuan itu kembali fokus kepada komputer dihadapannya.
"Aku akan bertanya ke kak Anna tentang ini?"Zia bergumam sangat pelan jadi tak ada yang bisa mendengarnya kecuali dirinya sendiri,gadis itupun bergerak hendak membaringkan diri diatas sofa lagi.
"Jangan tidur lagi,bersiap siaplah untuk pulang"suara kak Gia membatalkan niatannya itu.
"Iya kak"saut Zia,gadis itu segera meraih tas sekolahnya yang ada diatas meja,tangannya bergerak memasukkan almamaternya kedalam tas kemudian berlanjut ke tabletnya. Pergerakan tangan Zia langsung berhenti saat ia menemukan botol obat yang selalu ia pastikan sebisa mungkin untuk tak terlihat oleh orang lain,saat ini terletak dan terpampang jelas diatas meja.
Tubuh gadis itu langsung membeku seketika memandangi obat itu,dalam hati ia was was sekaligus bertanya tanya kenapa botol obat itu ada disana bukan didalam tasnya.
"Apa yang kau lakukan?kenapa diam saja?"
Zia langsung terlonjak kaget menyadari kalau kak Gia sudah berdiri disebelah sofa melihat kearahnya,tangannya dengan cepat langsung memasukkan botol obat itu kedalam tas sekolahnya.
"Obat apa itu?"pertanyaan yang sejak tadi Zia bermohon agar sampai tidak terdengar itu,diucapkan oleh kakaknya.
"Em a-anu anu,ini obat tidur iya obat tidur"jawab Zia langsung meski diawal terdengar ragu.
"Kakak taukan terkadang aku sering bergadang karena memiliki banyak perkerjaan,jadi kebiasaan itu membuatku terkena insomnia.Jadi terkadang aku harus meminum obat itu,supaya bisa tidur cepat"jelas Zia sebaik mungkin untuk supaya saudarinya itu tak curiga dan mempercayainya.
"Aku tak peduli dengan penjelasan panjang lebatmu itu,yang jelas jangan pernah menggunakan obat obatan terlarang.Jangan Mencemari Atau Mengotori Nama Keluarga!"saut kak Gia sedikit menekan kalimat terakhir.
"Ayo pulang,jangan sampai kita terjebak macet dijalan"ujar kak Gia berjalan terlebih dahulu meninggalkan ruangan kerjanya
Dug...dug...dug...kembali refleks memukul kepalanya pelan beberapa kali sebelum menyusul sang kakak yang sudah melangkah meninggalkan ruangan terlebih dahulu.
*Zia bodoh!tidak ada yang peduli denganmu*batin Zia.
Tit...tit...tit...suara klakson mobil terdengar bersaut sautan,bisa ditebak apa yang terjadi jika kondisi ini terlihat dijalan raya.Tentunya sudah pasti kalau sekarang sedang terjadi macet,Ya mobil Zia yang ditumpangi oleh dirinya dan Gia kakaknya memang tengah terjebak macet.
Jam mereka pulang ini memang bertepatan dengan jam pulang kantor pada umumnya,Zia memberanikan diri menoleh kesamping untuk memerikasa keadaan sang kakak.Zia dengan cepat langsung melihat kearah depan lagi karena melibat raut wajah yang tidak mengenakkan terlihat jelas dimuka kakaknya itu,tentu Zia tak mau mengambil resiko jika sampai mengusik kakaknya yang terlihat tengah menahan emosi itu.