One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 139



Zia meletakkan dengan kasar laptop miliknya keatas meja belajar dengan kasar,ia tak peduli dengan apakah laptop itu bisa rusak karena gadis itu tengah mencoba mengendalikan emosinya yang tiba tiba seakan ingin meledak begitu saja.


Hup...huf....Zia menghirup dan membuang nafasnya secara perlahan beberapa kali,untuk menormalkan emosinya.


Drtt...drt...drt...suara hp Zia berbunyi,gadis itu langsung mengambil hpnya itu yang tadi tergeletak diatas meja belajar miliknya.


"Kak Teo,semoga ini kabar bagus"gumam Zia setelah membaca nama kontak penelepon.Ia langsung menvgeser icon hijau untuk menjawab panggilan itu.


"Halo"sapa Zia kepada sipenelepon yaitu kak Teo.


"Halo Zia,gue ada kabar penting buat lo nih dek"saut kak Teo dari seberang sana tanpa basa basi yang panjang.


"Kabar baik atau buruk?kalau kabar buruk mending lo undur aja deh kak.


Mood gue lagi gak mendukung soalnya"ujar Zia.


"Lagi bad mood ya?tenang aja dijamin pas denger kabar dari gue ini,mood lo bakal balik bahkan meningkat drastis"ujar kak Teo dari tempatnya berada,dimanapun itu.


"Oh ya?berita apaan emang?"tanya Zia


"Lo inget tuan Hendery yang dimana beliau itu ahli warisnya tuan Arya yang baru aja wafat?"tanya kak Teo.


"Tentu saja ingat,dia orang yang mewarisi 15% saham perusahaanku dari ayah beliau mendiang tuan Arya"jawab Zia.


"Benar sekali"ujar kak Teo.


"Trus kenapa dengan itu kak?"tanya Zia.


"Lo tau dek,sore tadi tuan Hendery baru saja menghubungin gue dan lo tau apa yang dia bilang?"ujar kak Teo.


"Apa?"respon Zia.


"Tuan Hendery berniat buat nawarin semua saham yang baru dia warisi dari ayahnya itu,untuk dibeli alias diambil alih sama lo sepenuhnya"ujar kak Teo terdengar sangat menggebu gebu.


"Lo serius kak,gak bercandakan?" tanya Zia sedikit tak percaya.


"Seriuslah,kagetkan lo sama gue juga tadi pas beliau bilang gitu"ujar kak Teo.


"Eh tapi kak,kok tuan Hendery mau jual begitu aja semua saham itu?"tanya Zia heran.


"Gue udah tanya soal itu tadi ketuan Hendery,kata beliau sih;dia mau fokus ngurusin perkembangan usaha perdagangan yang cukup lama beliau rintis.Tuan Hendry juga bilang kalau beliau gak terlalu tertarik sama urusan soal persahaman itu,makanya beliau lebih baik jual semua saham itu dan hasil penjualannya bisa dipakai buat ngembangin bisnis perdangan miliknya aja"jelas kak Teo melalui telepon.


Zia mengangguk anggukkan kepalanya cukup mengerti dengan jawaban dari kak Teo.


"Jadi gimana nih bos,mau langsung gue atur jadwal pertemuan atau gimana?"tanya kak Teo.


"Lo memang harus atur jadwal pertemuan kak,tapi nanti jangan sekarang"jawab Zia.


"Loh kenapa?bukannya lebih cepat lebih baik ya?"tanya kak Teo.


"Nanti,kita tunggu semua masalah perdataan waris termasuk perpindahan nama dan segala yang bersangkutan dengan hal itu selesai secara resmi dahulu.Gue tentu gak mau kalau semua dokumen belum terselesaikan dengan baik saat semua saham itu gue ambil alih,takutnya ada masalah yang tak terduga yang muncul"jelas Zia kepada kak Teo.


"Oke,gue setuju tentang hal itu.Dan berhubungan soal itu juga,tuan Hendry masalah semua dokumen yang lo maksud udah selesai 95% jadi lo bisa sedikit tenang"ujar kak Teo.


"Bagus kalau gitu,tolong pantau semua kak"ucap Zia.


"Siap laksanakan bos"saut kak Teo.


"Kalau begitu,teleponnya gue tutup ya cil?ini soalnya kakak lo udah rengek minta diajak makan keluar sejak tadi"ujar kak Teo.


"Hm,tutup aja.Jagain kakak gue"saut Zia.


"Beres,tut...tut...tut..."panggilan telepon diakhiri oleh Teo terlebih dahulu.


Zia tersenyum mendapat kabar itu


"80 percent of the shares,I came"gumam gadis itu.


"Bunda Lin"nama yang tertera disana


Kening Zia menyergit karena heran, ada apa sampai dokternya itu menghubunginya?padahal seingatnya dirinya baru bertemu tadi siang dirumah sakit.Zia mendekatkan hpnya itu ketelinganya setelah menggeser icon hijau.


"Halo"ucap Zia.


"Halo Zia,ini dokter Linda"terdengar suara wanita dari seberang sana,itu adalah dokter Linda.


"Saya tau kok bun,udah sering nelpon saya juga.Ada apa nih?tumben bunda menghubungi saya jam segini?"tanya Zia.


"Bunda mengganggu waktumu ya?bunda minta maaf kalau begitu"saut bunda Linda.


"Bunda enggak ganggu kok,cuma saya heran saja"ujar Zia.


"Baguslah kalau tidak mengganggu, soalnya bunda menghubungi Zia karena mau menjawab pertanyaan Zia yang tadi siang"ujar dokter Linda.


"Pertanyaan yang mana bun?"tanya Zia tidak mengingat.


"Itu loh,siang tadi kamu nanya kebunda.Apakah suami bunda lagi nggak ada niatan buka cabang rumah sakit gitu?trus katanya kamu kalau ada,Zia pengen ajak kerja sama"jawab dokter Linda.


"Ooh iya,maaf bun.Zia baru inget sekarang"ujar Zia yang sudah mengingat percakapannya dengan sang dokter tadi siang.


"Zia serius nggak sama kata kata Zia tadi siang?"tanya dokter Linda.


"Seriuslah masa enggak,lagian aku kan udah bilang sama bunda apa alasannya"jawab Zia.


"Nah bagus kalau kamu serius soal itu,soalnya tadi bunda ngobrol sama suami bunda trus nyempetin nanyain soal hal itu.Dan coba Zia tebak apa jawaban suami bunda"ujar dokter Linda.


"Apa bun?"tanya Zia,kenapa ia tiba tiba jadi merasa tegang gini ya.


"Suami bunda bilang kalau dia gak ada punya rencana untuk itu"ujar dokter Linda


"Yah sayang banget"komen Zia langsung kecewa mendengar jawaban itu.


"Eit,jangan sedih dulu.Bunda belum selesai ngomong soalnya"ujar dokter Linda mendengar reaksi pasiennya itu.


"Maksud bunda?"tanya Zia


"Suami bunda emang gak punya rencana soal mau bikin cabang rumah sakit baru tapi katanya kalau kamu memang serius mau,suami bunda bersedia mau diajak kerja sama mau bikin rumah sakit baru.Asal..."dokter Linda menjeda perkataannya.


"Asal apa bunda?"tanya Zia sudah tak sabaran.


"Asal kamu bener bener serius mau jadi penanggung jawab dana pembangunan itu,soalnya suami bunda takut kamu gak serius dan nanti malah dia yang kelimpungan nanggung dana pembuatan rumah sakit yang tentunya butuh biaya yang sangat besar"lanjut dokter Linda.


"Tenang bunda,Zia janji bakal mau jadi pendana pembuatan rumah sakit itu sampai selesai dan siap digunain pokoknya"ujar Zia dengan cepat.


"Tapi benerankan ini bun?"tanya Zia lagi.


"Iya serius Zia,kalau gak percaya ini kamu bisa langsung ngomong sama suami bunda.Biar bunda panggilin dulu"ujar dokter Linda.


"Enggak bunda gak perlu,Zia percaya kok"ujar Zia.


"Bunda tolong bilang aja sama suami bunda,secepatnya Zia bakal kirim orang Zia buat nemuin suami bunda senin ini"lanjut gadis itu.


"Buru buru banget kamu"ujar dokter Linda.


"Emang buru buru Zia bunda,waktunya udah makin mepet soalnya"saut Zia.


"Oke bunda bakal bilang nanti sama suami bunda,kalau begitu bunda tutup ya"izin dokter Linda.


"Silahkan bun"balas Zia.


"Jangan lupa minum obat dan jaga kesehatan kamu Zia tut...tut..." setelah mengatakan hal itu, pembicaraan itu diakhiri oleh dokter Linda.


"Mood gue yang tadi hancur,udah balik lagi bahkan jauh lebih baik"ujar Zia pada dirinya sendiri,gadis itu terlibat tersenyum lebar.