
~Zia~
Setelah berpapasan dengan Ken tadi pas dilorong sekolah membuat mood Zia yang tadinya sangat bersemangat karena bisa masuk sekolah lagi setelah dua hari tak masuk mendadak menjadi hancur,ia sudah tak memiliki semangat lagi untuk masuk kelas dan mengikuti pembelajaran.
Moodnya hancur tentunya bukan karena
Ken,itu mustahil!tapi moodnya hancur setelah memikirkan dan memprediksi apa yang akan terjadi kedepannya jika cowok itu terus mendekatinya.
Itu tentu saja memiliki kemungkinan yang sangat besar untuk mempengaruhi hubungan persaudaraannya dengan Liona saudarinya,tidak!Zia tidak mau kemungkinan terburuk yang ia pikirkan saat ini sampai terjadi.
Liona adalah adalah dua dari empat kakaknya yang terlihat bisa menerima kehadirannya sampai saat ini,Zia tidak mau Liona membencinya karena Ken cowok yang disukai saudarinya itu suka pada dirinya.Dan kalau sampai kedua saudarinya yang lain kak Gia dan kak Lyn tau ia membuat Liona sedih,kecewa,bisa bisa keduanya semakin membenci dirinya dan yang lebih buruk lagi kalau Arga kakaknya ikut tak menyukainya lagi.
Kalau sampai itu terjadi,Zia bisa jamin tujuan tujuan yang ingin ia selesaikan tak akan berhasil sama sekali.
Zia saat ini berada dirooftoof sekolahnya sesuai dengan apa yang ia katakan kepada Neta tadi,gadis itu berdiri ditepi gedung yang dibatasi oleh pagar beton setinggi satu meter.Pagar beton itu memang sengaja dibuat disana untuk memperkecil kemungkinan kecelakaan jatuh dari atas rooftoof bagi murid murid SMA Hantara yang mampir kebagian gedung tertinggi disekolah itu,Zia memandangi seluruh area sekolah milik keluarganya itu sambil pikirannya terus ramai bergelut untuk memikirkan beberapa hal.
"Udah saya duga ada orang yang bolos disini"ujar seseorang yang dari suaranya seperti cowok yang membuat pergelutan dalam pikiran Zia terhenti,ia berbalik memeriksa siapa penghuni rooftoof yang tadinya hanya ia seorang saja.
"Lo"ujar Zia dan orang itu kompak setelah saling menyadari satu sama lain.
"Ngapain ketos kesini?"tanya Zia heran akan keberadaan ketos itu dirootoof,Ya benar penghuni rooftoof yang baru datang itu ternyata Raka siketua OSIS yang nolongin dia dua hari lalu.
"Seharusnya saya yang nanya itu ke kamu,ngapain seorang murid di rooftoof pada saat jam pelajaran dimulai padahal seharusnya sudah berada dikelas untuk mengikuti pembelajaran?"Raka siketos membalikkan pertanyaan kepada Zia.
"Jawaban gue karena gue disini bolos,trus lo ngapain disini bukannya masuk kelas juga?dan tolong ya ngomongnya jangan formal,gue lagi males jawab dengan formal juga"tanya Zia kembali kepada Raka.
Raka tidak tau entah cewek didepannya ini bego atau pura pura bego karena gak tau keberadaan seorang ketua OSIS kayak dia ada disini sekarang.
"Tentu aja tujuan gue kesini buat nangkep orang yang bolos kelas kayak lo"ujar Raka memberi tau tujuannya kerooftoof kepada Zia dan cowok itu juga mengikuti permintaan Zia untuk tidak berbicara dengan gaya formal.
"Trus kalau gue udah ditangkep,gue ngapain?"tanya Zia
"Ikut gue keruang BK sekarang"ujar Raka
"Oke"jawab Zia dan dengan santainya ia mengikuti Raka yang membawanya keruang BK sekolah,kalau kalian nanya Zia takut atau khawatir dibawa keBK atau enggak?jawabannya sudah jelas enggaklah ngapain takut pikir cewek itu.
Raka membawa Zia keruang BK dan kebetulan sekali saat mereka sampai keruang BK,mereka berpas pasan dengan salah satu guru BK disekolah itu.
"Raka kamu mau keruang BK?"tanya guru BK itu kepada Raka
"Iya buk,saya membawa murid yang bolos"jawab Raka kepada guru mereka itu dan Zia hanya diam saja.
Guru BK pun memperhatikan seorang siswi yang dibawa oleh siketua OSIS untuk menemuinya diruang BK,melihat wajah gadis itu yang cukup familar membuat guru itu mendadak sedikit gugup.
"Iya"jawab Zia menganggukkan kepalanya dan menjawab seadanya.
"Saya membawa siswi ini kesini untuk ibuk berikan hukuman karena membolos dijam pelajaran buk"ujar Raka memberitahu tujuannya membawa Zia kesana kepada guru BK itu.
"Em anu Raka,ibuk sedang ada urusan mendadak jadi kamu minta guru saja yang mengurusnya"ujar guru BK itu,setelah itu guru BK tersebut langsung berjalan cepat pergi dari sana.
Raka memiringkan kepalanya sedikit heran dengan tingkah laku guru BK itu yang tak seperti biasanya, padahal biasanya semepet apapun urusan guru itu tapi kalau soal mengurus murid yang melakukan pelanggaran tidak akan pernah menunda atau menyerahkan keguru lain.Sedangkan Zia yang berdiri disebelahnya langsung paham kenapa guru BK tadi bertingkah seperti itu tanpa perlu dijelaskan oleh siapapun.
"Lo ayo ikut kekantor guru,kita cari guru BK lain disana"ajak Raka kepada Zia.
"Lo aja yang kasih gue hukuman"ujar Zia kepada ketua OSIS sekolahnya ini.
"Kenapa?lo takut dikasih hukuman berat sama guru dan lo pikir kalau gue yang kasih hukuman bakal ringan gitu?"tanya Raka dengan wajah oenuh selidik menatap Zia.
"Bukan gitu tapi.."
"Tapi apa?"tanya Raka memotong perkataan Zia.
"Lo tau gue siapa dan keterkaitan keluarga gue sama sekolah ini?"tanya Zia kepada Raka.
"Tentu aja tau,satu sekolahan juga tau soal itu.Tapi apa hubungannya dengan lo minta biar gue aja yang kasih hukuman ke lo?"tanya Raka tak paham dengan maksud perkataan Zia.
"Tentu ada hubungannya,ada benget malah"ujar Zia yang membuat Raka menyergit kerena masih belum paham dan Zia tau itu.
"Ketua OSIS yang terhormat,gak bakal ada satupun guru disekolah ini bahkan kepala sekolah sekalipun yang berani hukum gue karena posisi keluarga gue disekolah ini,makanya lo aja yang kasih gue hukuman kalau emang mau gue dihukum"jelas Zia membuat Raka langsung mangut mangut mengerti maksud perkataan Zia tadi.
Cowok itu paham sekarang dengan tingkah aneh guru BK tadi,benar juga mana ada yang berani mengusik ketenangan anak pemilik sekolah sekaligus yayasan dan ia bisa melihat perlakuan itu juga didapat oleh Liona saudari dari cewek yang ada bersamanya ini.
"Oke gue paham"ujar Raka
"sekarang sebagai hukuman karena bolos,lo berdiri ditengah lapangan sampai jam pelajaran pertama selesai"lanjutnya memberi hukuman kepada Zia dan Zia tentunya dengan senang hati menerimanya.
"Eh tunggu,gak jadi humumannya itu" ujar Raka kepada Zia.
"Lah emang kenapa?"tanya Zia heran kenapa tiba tiba tak jadi.
"Gue lupa lo sakit jadi gak boleh capek,kalau kambuh gimana?gue gak mau repot lagi,belum lagi kalau semuanya tau karena liat lo kumat"ujar Raka siketos kepada Zia.
Zia melihat kiri kanan memastikan tidak ada yang akan mendengar pembicaraan mereka ini,kemudian melihat kearah Raka lagi.