
~Pagi hari~
Seluruh anggota keluarga Antara sedang berkumpul didepan teras kediaman mereka,terlihat beberapa orang pekerja sedang membantu memasukkan beberapa buah koper kedalam bagasi mobil yang terparkir disana.Semua koper itu adalah milik tuan dan nyonya Antara yang akan berangkat ke Australia pagi ini,sembari menunggu barang barang mereka selesai dibereskan kedalam mobil pasangan suami istri itu memanfaatan waktu untuk berpamitan pada kelima anak mereka.
"Papa dan mama akan segera berangkat,jaga diri kalian disini"pesan Renal kepada putra dan putrinya.
"Jangan lupakan pesan kami tadi malam"lanjut pria paruh baya itu.
"Iya Pa,papa tenang saja.Kami akan baik baik disini selama kalian pergi"saut Arga
"Untuk Zia,jika kamu memerlukan bantuan apapun jangan segan segan meminta bantuan kepada keempat kakakmu.Pasti mereka semua akan mau membantu"Sela berpesan kepada putri bungsunya.
"Iya mi,Zia akan melakukannya"saut Zia.
"Nyonya,Tuan kita sudah siap berangkat"ujar pak Danu datang menghampiri keluarga majikannya itu.
"Baiklah kalau begitu kami berangkat"ujar Renal.
Arga,Gia,Lyn,Liona,dan Zia melihat mobil yang digunakan kedua orang tua mereka menjauh dari pandangan mereka berakhir keluar dari gerbang utama kediaman itu.
"Lanjutkan aktivitas kalian,kakak akan ada diruang kerja kalau kalian membutuhkan sesuatu"ujar Arga kepada adik adiknya kemudian menjadi yang pertama beranjak dari sana masuk kembali kedalam kediaman.
"Kakak juga sama,kakak ada dikamar kalau kalian butuh sesuatu"ujar Gia menatap kedua adiknya yaitu Lyn dan Liona,kemudian ia beralih menatap kearah Zia kemudian tersenyum sinis.
"Tentunya tak berlaku untuk satu orang"ujarnya yang tentunya tertuju kepada gadis yang tengah ditatapnya itu.
Zia balik menatap kakak keduanya itu dengan tenang dan sebuah senyuman tipis.
"Gue gak butuh bantuan siapapun karena gue bisa lakuin semuanya sendiri"ujarnya setelah itu ia melangkah pergi dari sana meninggalkan ketiga kakaknya.
"Apa apaan anak itu,gak punya sopan santun!"dumel Gia kesal merasa seperti diremehkan oleh Zia,setelah itu ia langsung pergi dari sana.
Lyn dan Liona yang tersisa disana hanya menatap kedua saudari mereka itu tanpa berbicara sedikitpun,Lyn seperti biasa selalu memilih cuek akan apapun sedangkan Liona yang sedari awal tidak begitu fokus dengan kejadian didepannya karena lebih fokus pada apa yang tengah dipikirkannya.
ZIA memasuki kediaman keluarganya tak mempedulikan akan keberadaan saudari tertuanya yang mengikutinya dari belakang,ia menaiki satu persatu tangga hendak menuju kamarnya begitu juga kakak tertuanya yang masih terus berada dibelakangnya.Gia sendiri sepanjang jalan menatap punggung saudari termudanya itu dengan tajam dan baru menyadari satu hal yaitu kenapa gadis pengganggu itu memiliki tubuh yang cukup jauh lebih tinggi dari pada dirinya?padahal usianya jauh lebih tua,hal ini membuatnya menjadi lebih kesal dan tak suka berkali kali lipat kepada anak perempuan yang lebih muda 4 tahun darinya itu.
Sesampai didepan kamar Zia yang kebetulan bersebelahan dengan kamar Gia,Zia berhenti tepat didepan kamarnya saat ia masuk sebuah perkataan terdengar memasuki indra pendengarannya.
"Gue gak bakal biarin gadis pengganggu kayak lo hidup tenang dikeluarga gue"bunyi perkataan itu terdengar penuh penekanan.
Zia tau pasti siapa pemilik suara itu,setelah itu terdengar suara pintu kamar disebelah kamarnya ditutup dengan cukup keras oleh orang yang mengatakan hal itu padanya.Zia memilih tak menoleh sekaligus menggupris perkataan kakaknya itu,ia memasuki kamarnya.
Drt...drt...drt...suara telpon bergetar,Zia langsung menerima panggilan yang masuk setelah melihat nama kontak pemanggil.
"Halo"ucapnya
"HEH BOCAH KEMANA AJA LO?GAK PERNAH NELPON GUE"suara melengking dari penelepon membuat Zia sontak langsung menjauhkan telpon genggam miliknya dari telinganya.
"Kak,gue belum mau kedokter THT ya.Pelanin suara lo"ujar Zia
"Habisnya gue kesel lo sama lo cil,udah lebih satu minggu lo pindah disana tapi belum pernah telpon gue.
"Baru juga seminggu lo gak gue telpon kak,udah heboh lo.Gimana kalau gue udah mati nanti"Zia
"HEH!mulut lo belum pernah dicabein ya,omongan dijaga"Anna
"Mulut gue ngapain harus dijaga,orang bener"Zia
"Bisa gak gausah bahas kata mati atau apapun yang berkaitan dengan itu?merinding gue dengernya"Anna
"Oke,jadi ada apanih lo nelpon gue pagi pagi gini kak?"Zia.
"Disana aja yang pagi disinimah enggak,nelpon lo mau bilang kalau gue bakal fiks nyusul ke sana awal bulan depan"Anna
"Ooh bagus deh kak,kasian itu si Teo diajak ldr mulu sama lo"Zia
"Kan lo biang keroknya Zia"Anna
"Habisnya gue males sama lo berdua kalau lagi ngumpul bertiga pasti dijadiin nyamuk mulu gue"Zia
"Makanya cari pacarlah,jangan jomblo mulu"Anna
"Siapa yang jomblo?sorry ya gue itu single bukan jomblo"Zia
"Apa bedanya coba?sama aja itu"Anna
"Bedanya jomblo sebutan untuk seseorang yang gak ada yang mau,sedangkan single itu sebuah prinsip memilih untuk sendiri padahal kalau mau punya pasangan banyak yang mau antri"Zia
"Halah,iyain deh biar bocah seneng"Anna
"Btw kak,cafe favorite gue disana gimana kabarnya?ada menu baru gak?"Zia.
"Cafe favorite lo tanyain kabar gue enggak,gimana sih lo?"Anna
"Kalau kabar lo sih udah jelas baik kak,jadi gak perlu ditanyain lagi"Zia
"Tau dari mana lo kabar gue baik,siapa tau enggakkan?"Anna
"Lo kan hampir tiap hari kabaran sama pacar lo,pacar lo kasih tau gue lah"Zia
"Cafe favorit lo itu baik baik aja kok,masih ditempat yang sama dengan menu yang masih sama.Gak berubah,puas lo?"Anna
"Bagus deh cafe langganan setiap sore gue itu baik baik aja,kangen banget gue sama semua menu disana apalagi cake coklat dan Keju kesukaan gue"Zia
"Kenapa gak lo beli aja sih itu cafe sekalian,sayang banget lo kayaknya sama itu cafe"Anna
"Gue sih udah pernah mikir gitu kak,tapi kalau dipikir pikir itu cafe belum tentu senyaman itu kalau jadi punya gue.Lagian gak ada yang bisa ngurus nantinya,lo kan sibuk ngurus perusahaan atau lo mau nambah kerjaan?"Zia
"Enggak lah enak aja,kerjaan gue masih banyak yang jauh lebih penting dari pada mikirin cafe favorit lo itu"Anna
"Nah makanya karena gue masih kasian sama lo,makanya gue hilangin niat gue buat beli itu cafe"Zia