
"Permisi"
Zia,kak Anna,serta dokter Linda langsung menoleh kearah pintu saat mendengar ada yang datang.Masuklah Neta bersama Rena,kedua gadis itu datang dengan masih menggunakan seragam sekolah mereka.
"Lo berdua ternyata,gue kira siapa"ujar kak Anna saat tahu ternyata Neta dan Rena-lah yang datang.
Dokter Linda menatap putrinya yang datang bersama dengan Neta,ibu dan anak itu saling bertatapan sebentar seperti sedang berkomunikasi melalui tatapan mata mereka.
"Baiklah nona Anna,Zia,cukup sampai disini penjelasan saya.Kalau begitu saya permisi"Dokter Linda-pun beranjak keluar dari ruangan rawat itu setelah berpamitan.
Neta langsung mendekati ranjang tempat Zia berbaring dan langsung memeluk sahabatnya itu dengan hati hati,ia ingin memeluk sahabatnya itu erat sebenarnya namun tak dilakukan takut Zia kesakitan.
"Lo kenapa sih,hobi banget numpang diruangan kayak gini"ujar Neta sambil memeluk Zia.
"Mana gue tahu,coba tanya sama tubuh gue kenapa dia suka banget berakhir disini"saut Zia yang membalas pelukan sahabatnya.
Kak Anna dan Rena yang melihat kedua gadia yang bersahabat itu dengan perasaan haru,kak Anna yang senang karena adik angkatnya memeliki sahabat yang baik seperti Neta dan bagimana Zia berbicara sesantai itu padahal sakit dalam tubuhnya semakin kacau.Sedangkan Rena yang terharu melihat bagimana cara Neta mengatur emosional dengan baik,padahal Neta tadi terlihat hampir menangis karena khawatir disepanjang perjalanan menuju rumah sakit dan ruangan ini.
Lima menit berlalu barlalu barulah Zia dan Neta mengakhiri sesi berpelukan mereka lalu Neta duduk disamping bangsal tempat tidur Zia.
"Bagaimana kondisimu saat ini Zia?"
tanya Rena,akhirnya gadis itu bersuara juga.
"Mulai membaik kok kak,gak kayak tadi lagi"Zia menjawab pertanyaan Rena sambil tersenyum,Rena jadi heran sendiri bagimana adik dari sahabatnya itu masih bisa tersenyum semanis dan seindah itu disaat seperti ini.
"Baguslah kalau begitu,lain kali jangan memberi kabar dadakan seperti ini lagi kau tau"ujar Rena kepada Zia.
"Tak janji,tapi akan ku usahakan" saut Zia.
Merasa kalau sudah ada Neta dan Rena yang mungkin bisa menemani Zia didalam kamar rawat itu sementara dirinya keauar sebentar,kak Annapun izin keluar sebentar untuk kebagian administrasi terlebih dahulu untuk menyelesaikan sesuatu disana.
"Ekhem...sekarang sudah ada Neta dan Rena-kan,jadi tak apakan kalau kakak titip menjaga Zia kepada kalian berdua.Kakak harus kebagian administrasi sebentar"ujar kak Anna kepada ketiga remaja didalam kamar itu.
"Tak masalah kak,biar kami yang mengawasi bocah ini selama kakak pergi"ujar Rena mewakili yang lain,
tentu meski berada diangkatan sekolah yang sama namun Rena tetap yang tertua secara umur diantara dirinya dan Neta-Zia.
"Kalau begitu kakak permisi dulu,dan Zia harap singkirkan ide ide aneh dikepalamu itu dulu"ujar kak Anna sebelum akhirnya benar benar pergi meninggalkan ruangan rawat VIP itu.
Sepeninggal kak Anna,Rena berjalan menuju sofa didalam ruangan itu.Ia duduk bersandar disana,memberikan Neta dan Zia ruangan untuk mengobrol.Lagi pula dirinya sedikit mengantuk.
"Tapi gak jadikan?"tanya Zia memastikan,ia meraih kedua telapak tangan Neta memastikan sendiri kalau tidak ada luka disana.
"Tenang aja kok,itu cuma hampir artinya gak jadi.Gue buru buru nahan pergerakan tangan gue sendiri trus ngontrol emosi yang keluar supaya gak over"ujar Neta yang kini membiarkan Zia memainkan jari jarinya.
"Bagus deh,kalau enggak bisa bisa kak Ren datang ke RS bukan cuma jengukin gue aja tapi lo juga.Kak Ilen juga pasti ngomel ngomel karena lo ngelukain diri lo sendiri lagi"ujar Zia melihat kearah Rena yang nampaknya sudah terlelap diatas sofa.
"Nah itu dia alasan lainnya,kak Ilen.Muka marah itu orang udah kebayang dikepala gue,mana hari ini kita berdua bolos konsul lagi"ujar Neta berbisik dibagian kata kata terakhir,itu dilakukan supaya Rena tak dapat mendengarnya.
"Ah iya juga ya,hari jadwal kita.
Udah kasih kabar soal itu sama kak Ilen?"tanya Zia.
"Udah kok tenang aja"jawab Neta.
"Btw Xi"
"Hm,kenapa?"saut Zia.
"Keluarga lo,gak ada yang lo kasih kabar soal ini?"tanya Neta kepada Zia dan dari gelengan sahabatnya itu,Neta bisa tau kalau Zia tak memberi kabar soal dirinya yang sedang masuk RS kepada keluarganya.
"Gak ada,makanya ini gue lagi bingung gimana caranya supaya gak ada yang curiga atau khawatir gue gak pulang malam ini.Kata dokter Linda tadi,gue harus rawat inep menimal semalam disini""ujar Zia kepada Neta,gadis itu mengungkapkan salah satu hal yang memusingkan pikirannya kepada sang sahabat.
"Tenang aja soal itu,biar gue yang urus"ujar Neta,yang paham kekhatiran yang dirasakan oleh Zia.
"Gimana caranya?"tanya Zia.
"Gue tinggal kasih kabar ke Lio aja kalau lo nginep dirumah gue malam ini"jawab Neta.
"Kalau Lio gak percaya gimana?"Zia
"Tenang,pasti percaya kok.Lo lupa segimana ahlinya gue dalam menyusun skenario?"ujar Neta kepada Zia.
Zia menatap Neta yang nampak sangat yakin dengan saran yang diberikan,
Zia akhirnya tersenyum.
"Oke,gue serahin ke lo ya.Tanks dan Sory ngerepotin"ujar Zia.
"No,gue gak pernah ngerasa repot"balas Neta.