
Suasana disepanjang perjalanan kembali dari Villa terasa hening dan sangat berjalan lambat bagi Zia,tidak ada suasana heboh seperti saat diperjalana datang ke Villa.
Jika menurut pendapat Zia sih suasana hening seperti ini sebenarnya nyaman nyaman saja baginya biasanya,tapi itu biasanya tidak saat harus duduk bersebelahan dengan kak Gia yang selalu mengeluarkan aura permusuhan yang sangat kental dan bagi dirinya yang merasakannya tentu tidak ada kenyamanan sama sekali.Akhirnya untuk menghindari segala kontak terutama kontak fisik dan mata,Zia memilih merapat kepintu mobil sambil menatap melalui jendela mobil disepanjang perjalanan.Barulah setelah beberapa lama keheningan,kak Arga mulai mengajaknya mengobrol.
"Zia"panggil kak Arga.
"Ya kak"saut Zia cepat,langsung mengalihkan pandangannya yang tadinya kearah luar jendela mobil menjadi menatap kedepan.
"Tahun ini kamu sudah lulus SMA-kan?"tanya kak Arga pada Zia.
"Hm"Zia mendehem menjawab pertanyaan dari kakak tertuanya itu.
"Sudah menentukan akan kuliah dimana?Maksud kakak pasti setelah lulus SMA kamu pasti akan melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah,kamu sudah memikirkan jurusan atau universitas tujuanmu?"tanya kak Arga.
Zia menggeleng pelan sebagai jawaban atas pertanyaan kakaknya itu.
"Aku belum memikirkannya kak"jawab Zia.
"Kenapa belum,bukankah seharusnya 95% kemungkinan pasti kamu milih buat masuk fakultas managemen atau bisnis?ah atau jangan kamu punya jurisan impian lain namun masih bimbang?"tanya kak Arga pada Zia lagi.
Zia kembali menggeleng pelan kemudian berkata
"Aku sama sekali tentang itu kak,perkuliahan tak pernah masuk dalam radar hidupku kak"jawab Zia.
"Maksudnya?"tanya kak Arga,kakak tertua Zia itu sama sekali tak memahami jawaban adiknya.
"Ya aku gak pernah mikirin masalah kuliah kak,lagi pula bukankah baik Zia kuliah atau tidak nanti itu sama sekali tak ada pengaruhnya.Aku bakal tetap akan pada pekerjaanku yaitu mengurus dan menjadi pewaris perusahaan yang baik untuk mamaku"jelas Zia.
"Jadi maksud kamu,kamu tidak akan kuliah begitu setelah lulus SMA?"tanya kak Arga memastikan.
"Persentasenya 98% ya"jawab Zia.
"Baiklah itu tak masalah jika kamu memang memilih itu,dan menurut kakak
kemungkinan besar papa juga tak akan masalah akan keputusanmu.Toh belum kuliah aja kamu udah sukses jadi pengusaha muda,malah lebih sukses dibanding kakak sama Gia kakak kamu"ujar kak Arga pada Zia.
"Jangan menyeret namaku dalam pembahasan kalian!"sergah kak Gia langsung dari sebelah tempat Zia duduk.
"Santai Gia,iya gue sama Zia gak bakal bawa bawa nama lo lagi jadi jangan ngamuk oke"ujar Arga kepada Gia kembarannya.
"Terserah"jawab Gia ketus akan perkataan Arga.
"Tips apa kak?"tanya Zia.
"Jadi begini,bulan depan kakak ditunjuk sama papa buat jadi salah satu tim penilai untuk seleksi masuk calon karyawan baru.Jadi kakak minta tips gimana cara menilai calon karyawan yang bagus dong"pinta kak Arga.
"Kenapa kakak minta sama aku,kenapa gak sama papa yang jelas jauh berpengalaman dibanding aku.Lagi pula-kan nanti pasti calon karyawan baru itu bawa CV dirinyakan?"tanya Zia.
"Kakak sih maunya papa ngajarin,tapi kata papa kali ini papa bakal lepas tangan sama tugas kakak yang satu ini.Katanya sih harus belajar makanya minta tips sama kamu yang lumayan berpengalaman,lagi pula kakak tau kalau kadang menilai kualitas karyawan baru gak cukup dari CV dan menampilan modisnya aja"jawab kak Arga.
"Jadi plis kasih tau dong dek,ini tugas besar pertama kakak loh sejak lulus kuliah meski belum wisuda resminya"pinta kak Arga lagi pada Zia.
Huf...Zia menghela nafas pelan kemudian mulai bicara
"Jujur kak kalah masalah itu aku juga masih butuh bantuan kak Anna sama kak Teo tapi kak,aku pernah dapat tips dari seseorang dan mungkin ini bakal berguna buat kakak selama kakak menjalani hidup.Kakak mau tau apa itu?"ujar Zia.
"Boleh,apa dek?"tanya kak Arga.
"mata"ujar Zia.
"Mata?"Kak Arga.
"Hm kakak bisa menilai seseorang melalui sorot mata yang terpancar oleh lawan bicara kakak,kakak tahu?
Didunia ini mungkin banyak orang yang ahli menyembunyikan banyak hal melalui perkataan dan tingkah laku mereka,namun ada satu hal yang bisa membuka semua itu.Itu adalah sirot mata dan cahaya yang terpancar pada matanya,mata seseorang hampir 99% tak bisa pernah berbohong kak.
Jadi kalau kakak kesulitan memahami dan menilai sifat dalam diri seseorang seseorang melalui lisan dan tindakannya,maka cara ampuh mengenali orang itu adalah dengan memahami sorot matanya.Berjuta kebohongan bisa disembunyikan dengan lisan,namun tidak pada tatapannya"jelas Zia panjang lebar,
membuat Arga kakaknya yang sedang menyetir sempat tercengang mendengarnya.
"Gila lo tau dari mana tuh dek,tapi susah dek.Kakak kan bukan orang ahli kayak psikolog atau psikiater,bisa menilai orang melalui sorot mata doang.Otak kakak gak nyampe masalah gituan,nah Lyn mungkin bisa tuh"ujar kak Arga.
"Jangan pakai otak kak,sesekali gunakan hati juga buat menilai sesuatu.Atau bisa menyeimbangkan keduanya lebih baik"jawab Zia,setelah itu ia dengan santai menyumpal kedua telinganya dengan AirPods lalu bersandar kebelakang dan memejamkan matanya.
"Lah malah tidur tuh bocah,udah bikin kakaknya bingung"gumam Arga yang melihat adiknya bersiap tidur,
Arga masih ingin banyak meminta penjelasan namun diurungkan karena melihat Zia yang seperti itu.Ia baru ingat kalau adiknya itu belum sembuh total,Arga-pun akhirnya memfokuskan diri untuk menyetir saja.
Disisi lain tanpa Arga maupun Zia sadari,Gia saudari mereka secara jelas mendengarkan dengan baik percakapan keduanya.Gia tadi tidak berniat menyimak tapi mau bagaimana lagi,suara kembarannya dan juga Zia masuk dengan jelas ketelinganya.
*Kesempulannya adalah memahami melalui sorot mata*batin wanita muda itu.