
"Ini pesanannya mbak,hot coklat dan cake coklat.Selamat menikmati"ujar seorang pelayan membawa pesanan pelanggannya.
"Terima kasih"ucap Zia kepada pelayan itu.
Zia langsung menyeruput hot coklat pesanannya secara perlahan,aroma coklat hangat memang selalu menjadi favorit banyak orang.Itu sangat menenangkan,coba saja udara sedikit lebih dingin pasti akan lebih bagus.
Setelah menyeruput coklat hangat miliknya satu tegukan,tangan Zia kini bergerak membuka salah satu buku hasil pinjamannya dari perpustakaan tadi.Buku yang ia pilih untuk dibaca pertama kali itu adalah sebuah novel bergendre romantis, bertemakan percintaan anak remaja.
Zia membaca kata demi kata,kalimat demi kalimat,paragraf demi paragraf dalam buku itu.Sesekali tangannya digunakan untuk membalik halaman demi halaman buku,sesekali untuk menyendokkan cake coklat kedalam mulutnya,dan sesekali untuk meminum hot coklat miliknya.
Gadis itu melakukan kegiatan yang hampir sama saat dulu ia masih tinggal di AS,duduk disalah satu meja kafe,memesan hot coklat dan satu atau dua potong cake coklat, berdiam diri didalam cafe langganannya sambil membaca sebuah buku ditangan atau mengerjakan pekerjaannya melalui sebuah laptop yang dibawa.Menghabiskan waktu sorenya disana dan akan pulang saat malam mulai tiba atau kak Anna datang untuk menjemputnya,kegiatan rutin yang hampir ia lakukan setiap hari guna mengusir rasa sepi yang ia rasakan setiap saat.
Sama seperti saat ini yang ia lakukan yaitu duduk dimeja kafe dekat jendela,membaca buku sambil menikmati makanan yang serupa.Hanya mungkin suasananya yang sedikit berbeda,jika diAS ia selalu melakukan hal ini saat menjelang sore atau sore sedangkan sekarang ia melakukannya diwaktu siang.
Zia sebenarnya ingin menghabiskan waktunya untuk membaca buku ditaman kota bahkan sebelum akhirnya memutuskan mampir disini,ia sudah terlebih dahulu mampir kesana.Namun ia mengurungkan niatnya itu melihat susana taman kota yang ramai,tapi bukan ramainya yang jadi masalah. Melainkan apa penyebab suasana ramai itulah yang tidak Zia sukai,tadi saat sampai ditaman kota dirinya langsung melihat beberapa keluarga yang terlihat menghabiskan waktu bersantai disana dan terlihat wajah mereka sangat bahagia.Pemandangan itu adalah salah satu hal yang paling Zia benci didunia ini sejak ia masih kecil dulu,bukannya Zia benci melihat orang lain merasa waktu bersama keluarga seperti itu.
Zia masih ingat betapa tidak sukanya ia setiap hari pertama masuk sekolah setelah musim liburan tiba,saat itu guru disekolahnya pasti meminta dirinya dan teman sekolah untuk bercerita apa saja yang mereka lakukan selama liburan berlangsung.
Saat itu teman temannya dengan senang hati bercerita dengan wajah yang sangat bahagia bagaimana orang tua mereka mengajak mereka liburan bersama,ada yang berkemah bersama, ada yang belajar melakukan sesuatu bersama,dan banyak lagi cerita mereka tentang liburan keluarga.Dan tepat saat gilirannya maju kedepan, ia yang saat itu masih kecil hanya bisa menceritakan kesehariannya dikediamannya saja sambil melakukan hal hal biasa.Tentu setiap ceritanya itu tak pernah ada kata orang tua yang ia ucapkan,hanya kakek neneknya saja.Lalu setelah jam istirahat tiba dan guru pergi meninggalkan kelas, pasti ada beberapa teman sekelasnya yang mengolok oloknya sebagai anak malang yang tak pernah merasakan apa itu liburan keluarga dan dirinya tentu saja hanya bisa diam karen apa yang dikatakan mereka itu benar adanya.
Saat kakek dan neneknya masih hidup, Zia tidak pernah diajak untuk berlibur jika musim liburan sekolah telah tiba.Zia tau pasti sebenarnya bukan mereka yang tak mau mengajak cucu mereka untuk berlibur,namun kondisi saat itu yang tak pernah mendukung.Neneknya sudah mulai sakit sakitan bahkan sebelum Zia sendiri masuk TK,kondisi neneknya yang sering kali tak menentu membuat sang nenek tidak bisa melakukan perjalanan meski jaraknya dekat. Takut takut terjadi apa apa,Kakek Zia juga saat itu sibuk membantu mengurus perusahaan keluarga mendiang menantunya yang tak lain adalah mama kandung Zia sendiri.
Makanya disaat kakek dan neneknya sudah pergi untuk selamanya meninggalkan dirinya,Zia benar benar merasa semakin kesepian.Apalagi kenyataan yang mengatakan kalau saat itu ia tak bisa berteman atau tidakĀ memiliki seorang temanpun,ditambah kabar tentang kondisi tubuhnya yang diserang penyakit yang cukup mematikan disaat bersamaan.Jadilah dirinya semakin merasa sangat hancur.
"Anak kesepian,gadis tak punya keluarga,anak buangan"
Titel titel seperti itu sering terdengar memasuki indra pendengaran nya dilontarkan oleh orang orang kepada dirinya.
Tak terasa Zia sudah menghabiskan waktu hampir tiga jam berada dikafe itu,selama itu pula ia terus membaca buku ditangannya sambil mengingat kepingan kepingan masa lalunya di AS.Gelas hot coklat dan isinya itupun sudah tiga kali pula ia perbaharui,cake coklat pesanannya tadi juga sudah habis dimakannya.
Zia tadi terfikir untuk menghubungi Neta dan meminta sahabatnya itu untuk datang menemaninya,namun ia langsung urungkan niatnya itu setelah mengingat bagaimana tadi malam sang sahabat bercerita betapa bahagianya sahabatnya itu menghabiskan waktu bersama kedua orang tua setelah sekian lama.
Tidak kali ini Zia tidak merasakan perasaan iri sedikitpun mendengar cerita Neta ini,malahan ia ikut merasakan senang saat tau sahabatnya itu merasa bahagia.Kenapa begitu? Karena dirinya tau pasti kalau ia dan Neta itu hampir sama,yaitu kurangnya mendapatkan hangatnya keluarga.Neta yang merasakan hal itu karena kesibukan ayahnya sebagai pengisi posisi penting disebuah perusahaan,sedangkan ibu sahabatnya itu yang berprofesi sebagai pramugari.Membuat Neta jarang merasakan kasih sayang dan perhatian langsung dari kedua orang tua, ditambah menurut pengakuan Neta yang mengatakan kalau kedua orang tua sahabatnya itu sama sama workaholic alias tipe orang yang sangat melakukan pekerjaan lebih dari apapun bahkan itu artinya mengabaikan keluarga mereka sendiri.
Kalau Zia sendiri penyebabnya sudah hampir sangat jelas apa,dan mungkin nanti akan jauh lebih jelas lagi.
Zia mengalihkan perhatiannya sejenak dari buku bacaannya,ia mengangkat tangan kirinya sedikit untuk melihat jam dan disana tertera pukul dua siang lebih sedikit.Setelah melihat jam,ia langsung merasa kalau sudah cukup waktu yang ia habiskan ditempat itu.Zia menandai bagian dimana paragraf terakhir yang ia baca dengan melipat sedikit kertas halaman itu,kemudian ia menutup buku novel itu dan menyimpannya kedalam tas kecil yang ia bawa.Disana jugalah ia menyimpan dua buku yang lain,setelah selesai merapikan bukunya barulah ia mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan kafe.
"Ada yang bisa saya bantu lagi mbak?"tanya pelayan kafe itu setelah datang menghampiri meja tempat Zia berada.