
"Ooh gitu"ujar mengangguk mengerti.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi dan keadaan dimeja itu kembali sunyi,beruntung tak lama setelah itu Zia sudah kembali ke meja itu dengan membawa makanan untuknya dan Neta,ia duduk di samping sahabatnya itu kemudian langsung menyerahkan makanan bagian untuk Neta pada pemiliknya.
"Makasih"ucap Neta berterimakasih pada Zia.
"Sama-sama"balas Zia sambil tersenyum.
Setelah itu keduanya mulai menikmati makanan mereka.
"Zia gimana kesan lo sekolah disini selama dua hari pertama?"tanya Rena pada Zia.
"Kesan gue sih lumayan baik,teman teman kelas gue juga ramah dan asik asik"jawab Zia.
"Udah ada niatan mau ikut eskul apa gitu?"tanya Rena lagi.
"Belum sih,tapi emang harus masuk eskul?"ujar Zia kemudian bertanya balik pada Rena.
"Biasanya sih menurut aturan sekolah setiap murid wajib minimal masuk satu eskul atau enggak organisasi sekolah walaupun gak terlalu aktif juga gak papa asal ada,tapi karena lo pindah kesini pas udah kelas tiga gue gak tau sih apa lo masih wajib masuk eskul atau enggak"ujar Zia menjelaskan tetang aturan sekolah tentang eskul.
"Ooh"Zia membulatkan mulutnya sambil mengangguk pelan tanda mengerti dengan penjelasan yang Rena berikan padanya.
"Ngomong ngomong lo waktu masih sekolah di amerika,masuk eskul apa Zi?"tanya Neta ikut masuk pada perbincangan Zia dan Rena.
"Dulu sih gue sempat masuk club basket cewek tapi gak lama sih cuma beberapa bulan aja,habis itu gue mutusin buat mengundurkan diri dari club"jawab Zia.
"Wah berarti lo jago dong main basket"komen Neta mendengar jawaban Zia.
"Enggak jago sih cuman bisa"ucap Zia membantah perkataan Neta yang mengatakan kalau ia jago bermain basket.
"Tapi kenapa lo milih keluar dari club basket?"tanya Rena
"Kalian sendiri masuk eskul?"tanya Zia pada tiga gadis yang saat ini satu meja dengannya.
"Aku sih masuk anggota club sastra"jawab Neta.
"Kalian?"tanya Zia pada Rena dan Liona kakaknya.
"Kalau gue sih masuk OSIS walau cuma anggota biasa,nah kalau kakak lo dia anggota club musik sekolah"jawab Neta memberitahu Zia organisasi apa yang ia dan Liona ikuti.
"Benarkah Liona masuk club musik, emangnya Liona bisa main alat musik?"tanya Zia pada sang kakak sambil melihat kearah Liona.
"Aku bagian vokal bukan buat yang main alat musik"jawab Liona sambil melihat balik kearah Zia.
"Eh gue mau nanya deh sama lo Zia"ujar Rena.
"Mau nanya apa?"saut Zia pada Rena.
"Lo kok gue perhatiin kayaknya hampir gak pernah manggil Lio kakak,padahal kan dia lebih tua beberapa bulan dari lo?"tanya Rena penasaran.
Mendengar pertanyaan sang sahabat,
Liona langsung menatap Zia dengan penuh harap ingin sekali mendengar jawaban dari sang adik.
"Gak ada alasan khusus sih,cuma mungkin gue kebawa kebiasaan waktu di Amerika aja.Soalnyakan disana biasa aja manggil orang yang lebih tua dengan namanya aja,apalagi gue sama Liona satu angkatan sekolah"jelas Zia memberikan jawaban dari pertanyaan Rena padanya.
"Tapi kok lo manggil kak Arga,Gia,
sama Lyn pake panggilan kakak.Tapi giliran aku enggak bisa?"tanya Liona langsung,gadis itu masih belum puas dengan jawaban sang adik.
"Itu karena mereka jauh lebih tua dari gue sedangkan sama lo,kitakan cuma beda beberapa bulan doang gak sampai setahun"jawab Zia dengan tenang sambil menatap mata sang kakak.