
"Meski kak Arga tadi gak membenarkan perkataan kak Gia secara langsung, tapi diamnya pasti sudah jelas bukan"gumam Zia sangat pelan.
"Kak Arga gak salah sama lo,tapi lo nya aja yang terlalu mudah percaya sama apa yang lo lihat Zia"lanjut Zia terus bergumam pada dirinya sendiri.
Setelah memastikan kondisinya tak mencurigakan,Zia segera keluar dari kamar mandi itu untuk menuju ke meja makan untuk melaksanakan makan malam.Selama makan malam itu Zia memutuskan hanya diam dan tak berbicara,pikirannya terlalu kacau saat ini.
~Flaskback off~
"Lo yang sabar ya Zi,gue yakin suatu saat nanti apa yang inginin pasti terwujud kok"ujar Neta mengusap usap punggung sang sahabat mencoba untuk memberikan ketenangan.
"Makasih Ta,kayaknya selain kak Anna
kak Teo,cuma lo doang orang yang bisa gue percaya penuh mulai hari ini"ujar Zia kepada sahabatnya itu.
"Kak Lyn?"tanya Neta
"Gue emang udah lumayan deket sama kak Lyn sekarang,tapi itu bukan berarti kak Lyn udah nerima gue kan?
Lagian setiap gue tanya soal itu juga,kak Lyn pasti cuma diem atau langsung ngalihin pembicaraan"jawab Zia.
"Yaudahlah,lo gak usah pikirin itu sekaranh.Mending lo mikirin tentang kesehatan lo aja,inget lo gak boleh terlalu banyak pikiran sekarang"ujar Neta kepada Zia.
"Iya gue tau kok"saut Zia.
"Em eh Ta"panggil Zia
"Apaan?"saut Neta.
"Lo tau gak,akhir akhir ini gue sering ngerasa aneh sama diri gue sendiri"ujar Zia sambil menatap serius sahabatnya itu.
"Ngerasa aneh kayak gimana?"tanya Neta
"Masa nih ya tiap gue marah atau ngerasa bersalah,gue sering refleks mukul sesuatu didekat gue atau paling sering mukul kepala sendiri.
Kira kira gue kenapa ya?"tanya Zia kepada Neta,wajah gadis itu terlibat seperti orang bingung.
Sedangkan reaksi Neta sendiri sedikit berbeda,gadis itu langsung tertegun mendengar perkataan sekaligus pertanyaan sahabatnya itu.
Neta terdiam sesaat seperti sedang memikirkan sesuati,ia langsung menatap sahabatnya itu dengan sangat serius.
"Kenapa lo natap gue serius banget?
Gue pasti cakep ya?"ujar Zia sambil tersenyum dan mengedipkan matanya.
Pletak...
"Aduh,padahal gue cuma becanda lo Ta.Mana sakit lagi"dumel Zia sambil mengusap keningnya yang baru kena sentil oleh Neta.
"Habisnya baru juga gue masuk mode serius,lo malah becanda.Mana narsis banget lagi"ujar Neta.
"Ya maaf,mana gue tau lo baru masuk mode serius"ucap Zia.
"Udah sekarang lo diem,ngomong kalau buat jawab pertanyaan gue PAHAM?" ujar Neta sengaja menekan kata terakhir pada kalimatnya.
"Iya"jawab Zia.
"Soal yang lo bilang tadi,Maksud lo refleks mukul itu kayak apa?coba kasih contoh"pinta Neta.
"Contoh ya?"gumam Zia sambil mengetuk ngetuk dagunya dengan jari telunjuk,seperti orang yang tengah berfikir.Neta dengan sabar menunggu temannya itu berfikir.
"Ah yang kemarin aja,pas waktu bareng kak Gia"ujar Zia.
"Cepet kasih tau"desak Neta.
"Waktu itukan gue sama kak Gia adalah berdebat gitu kayak biasa, trus kak Gia kayak nyampein kalimat yang bikin gue kayak ngerasa nyalahin diri gitu.Dan anehnya pas itu gue tangan gue malah refleks mukul eh bukan mukul sih tapi kayak getok kepala gue sendiri,meski gak sakit sih tapi gue baru sadar pas setelahnya"jelas Zia kepada Neta.
"Dan hal itu bukan kejadian sekali doang Ta tapi dua kali seingat gur pas kemarin,itu juga sering gak sengaja gue lakuin pas dihari hari sebelumnya pokoknya mulai sekitaran sebulan belakangan kalau gak salah"
Lanjut Zia.
Huf...Neta menghela nafasnya berat, ia sedikit paham sekarang apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Zi kayaknya lo harus konsul deh"ujar gadis itu kepada sang sahabat.
"Hah?konsul?ke Bunda Lin maksud lo? Apa hubungannya sama cerita gue tadi sama harus konsul?"tanya Zia beruntun.
"Bukan ke tante Lin,tapi ke yang lain"ujar Neta
"Bukan konsul kedokter kayak yang lo pikiran Zi,tapi konsul ke psikolog"
Ujar Neta
"HEH ANJIR!"Zia reflek mengumpat.
"SIAPA YANG MENGUMPAT TADI?!"suara guru penjaga perpustakaan.
"MAAF BUK,TADI SAYA REFLEKS"ucap Zia sambil berteriak.
"lo ngapain ngumpat bego mana teriak lagi,kan udah kena tegur"ujar Neta kepada Zia.
"Gak gua gak mau ke psikolog,gue emang banyak pikiran Ta tapi gue gak gila ya"ujar Zia protes tak terima dengan saran sahabatnya itu.
Pletak...sebuah sentilan kembali mendarat dikening Zia
"Ih sakit tau,kok lo sering KDP banget sih Ta"ujar Zia
"KDP apaan lagi anjir?"tanya Neta mulai naik darah menghadapi sahabatnya itu.
"KDP itu Kekerasan Dalam Persahabatan"jelas Zia,gadis itu masih sibuk mengusap usap keningnya.
*Untung sahabat satu satunya*batin Neta berusaha sabar.
"Dengerin ya Zi,gue nyuruh lo ke psikolog bukan karena lo gila bukan.
Tapi menurut cerita lo itu gue tau banget kalau itu bukan gejala biasa tapi ada yang salah dengan kondisi psikis lo,gejalanya hampir mirip sama yang gue alamain sekitaran dua tahun yang lalu"ujar Neta terdengar serius.
"Maksud lo ini ada hubungan dengan cerita lo waktu itu?"tanya Zia,Neta langsung mengangguk mengiyakan.
"Yang lo pas depresi sama sempat self halm yang pernah lo alamin sampai lo harus ke psikolog?"tanya Zia memastikan sekali lagi
"Iya,meskipun gejalanya rada beda tapi refleks dan penyebab yang lo ceritain itu hampir mirip.Makanya gue langsung saranin lo buat ke psikolog kayak gue saat itu,sebelum terlambat Zi"jawab Neta.
"Tapi.."
"Tapi apalagi sih Zi?"ujar Neta.
"Tapi kalau bener gitu,itu artinya gue lemah banget sih Zi.Masa udah tubuh gue sakit eh menatal juga gitu,hidup gue sial banget sih"ujar Zia tampak khwatir pada kondisi dirinya sendiri.
"Kan masib praduga gue Zi,makanya kita coba buat lo konsul dulu.Gue yakin kondisi lo belum seburuk gue waktu itu kok dan tentunya jangan sampau,mau ya?"ujar Neta mencoba membujuk Zia.
"Kalau lo mau,gue bisa hubungin orang yang dulu sempat nanganin gue.
Buat bikin janji ketemuan"lanjut Neta.
"Yaudah deh,tapi lo temenin gue tapi"ujar Zia mengiyakan saran sahabatnya itu,lagi pula ini untuk kebaikan dirinya.
"Tapi emang lo masih punya kontak orang yang nanganin lo waktu itu?"tanya Zia.
"Masihlah,gue masih sering kontekan soalnya.Kadang kadangkan gue juga mesti harus konsul juga,meski cuma lewat telpon dan gak ketemu tatap muka"jawab Neta,Zia mengangguk mendengarnya.
"Okelah,eh tapi jangan bilang kesiapa siapa ya termasuk kak Anna"pinta Zia.
"Kok gitu,bukannya kak Anna harus tau ya?"tanya Neta mendengar permintaan sahabatnya itu.
"Buat yang ini jangan,kak Anna lagi sibuk banget ngurus perusahaan akhir akhir ini.Apalagi gue juga udah mulai gak bisa bantu banyak kayak sebelum sebelumnya karena kondisi gue yang mulai gak menentu"jelas Zia kepada Neta.
"Oke,hal ini cukup kita berdua yang tau"putus Neta.
"Tapi emang lo makin sering kambuh Zi?"tanya Neta sedikit memelankan suaranya.
"Hm ya gitu deh,makanya kayaknya gue juga bakal ngundurkan diri dari basket deh Ta"jawab Zia.
"Kenapa?bukannya kemarin lo bilang bakal berhenti nanti ya pas udah masuk semester 2,biar gak ada yang curiga penyebabnya?"tanya Neta.
"Rencana awal sih gitu,tapi entah kenapa akhir akhir ini gue mulai khawatir sama kondisi gue yang suka drop tiba tiba"terang Zia.
"Kalau begitu,lo segera bicarain rencana lo sama kak ketua tim lo kak Rindi saol ini.Kasih alasan yang meyakinkan dan masuk akal,gue yakin dia bakal percaya dan bolehin lo mundur dari tim"ujar Neta memberi saran kepada Zia.
"Tenang,gue udah pikirin kapan waktunya"ujar Zia
"Kapan?"tanya Neta.
"Senin ini,pas pulang ujian"jawab Zia.