One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 79



"Gitu ya?"tanya Neta.


"Emang gitu.Jadi kalau lo emang mau mulai berbisnis atau sejenisnya,pastiin dulu lo udah siap mental dan skill dulu minimal"ujar Zia kepada Neta.


Neta mengangguk mengerti mendengar penjelasan panjang sahabatnya itu, mungkin kalau orang yang gak kenal sama Zia pasti bakal nganggap kalau sahabatnya itu cuma anak SMA yang jago ngomong aja.Tapi buat Neta yang tau status Zia selain jadi anak SMA juga sebagai pemilik dan pimpinan perusahaan,ia tentunya akan mendengarkan nasehat sahabatnya itu dengan sangat seksama.Karena bisa ia gunakan dimasa depan jika ia benar benar ingin mulai membuka sebuah bisnis.


"Tapi kalau lo memang punya niat banget buat bangun bisnis atau usaha,kenapa gak dicoba dulu.Lo bisa bikin usaha kecil kecilan kayak buka cafe sederhana gitu,siapa tau kalau kalau lo serius buat jalaninnya bisa berhasil atau bahkan bisa bekembang.


Trus kalau memang serius,gue siap bantuin lo nyusun perencanaan sama ngacarin gimana cara ngelolanya yang baik"ujar Zia,ia serius akan perkataannya itu.


"Nanti gue pikir pikir lagi deh,tapi serius lo mau bantuin gue nih Zi?"tanya Neta.


"Iya gue serius"ujar Zia.


"Hai duo degemku,lagi ngomongin apanih serius banget keliatannya" Rena datang ke meja tempat mereka duduk bersama Liona disebelahnya.


Kedua gadis yang baru datang itu langsung duduk disana,dengan posisi duduk Neta disebelah Zia dan Rena disebelah Liona.


"Bukan apa apa kok kak"ujar Neta pada Rena.


"Masa sih?tapi gue perhatiin dari jauh muka lo berdua kayak orang yang lagi membicarakan sesuatu yang serius tau gak"ujar Rena kurang percaya dengan jawaban Neta.


"Dih gak percayaan banget lo kak jadi orang,tanya tuh bocah1 kalau gak percaya sama gue"suruh Neta.


"Yang dibilang degem dua emang bener degem satu?"tanya Rena ke Zia yang ada dihadapannya.


"Iya kak bener,lagian kita mana punya bahan omongan serius"jawab Zia membenarkan perkataan Neta.


"Tuhkan bener"ucap Neta setelah Zia membenarkan jawabannya ke Rena.


"Iyadah sorry,berarti gue yang salah kira tadi"ujar Rena,kemudian beralih melihat Liona yang sejak tadi hanya diam melihat sesuatu.


"Liatin apaan lo Lio,sampai bengong kayak gitu?"tanya Neta pada sahabatnya itu.


"Itu tiga meja yang disebelah sana kok rame banget sih?"Liona menyaut dengan pertanyaan,Rena yang jadi penasaranpun ikut melihat kearah yang dimaksud Liona.


"Iya juga ya,mana kayaknya habis ngeborong kantin tuh soalnya dimejanya pada penuh sama makanan semua"komen Rena setelah melihat.


"Tapi kok diliat muka mukanya,itu bukannya anak kelas lo berdua ya?"tanya Rena kepada Zia dan Neta.


"Itu semua emang anak kelas kita kak"saut Neta.


"Kelas kalian ada acara apa sampai kayak orang pesta gitu?"tanya Rena.


"Gak ada acara apa apa sih kak,cuma kebetulan ada orang kaya lagi gabut dikelas.Trus ditraktir tuh kita semua sekelas"ujar Neta sambil melirik kearah samping dimana Zia duduk.


"Ooh bocah gabut kurang kerjaan itu toh"ujar Rena langsung paham siapa yang dimaksud oleh Neta itu,ia ikut menatap kearah Zia.Sedangkan bocah yang menjadi pembahasan itu pura pura tak menyadari tatapan dan lirikan yang ditujukan kearahnya.


"Emang siapa sih,gue jadi pengen tahu?"tanya Liona memasang muka keponya,Neta hanya menaikkan kedua bahunya sebagai respon enggan menjawab.


"Lo tau Ren?"tanya Liona kali ini bertanya pada sang sahabat.


"Tau"jawab Rena.


"Eh ini gue juga pengen ditraktir boleh juga gak sih ikut?"tanya Rena kepada Zia dan Neta,tak mengindahkan sahabatnya yang tengah menunggu jawaban darinya.


"Boleh kak,sana ambil aja makanan yang lo mau kak.Dijamin orangnya gak bakal marah,malah seneng dia tuh uangnya ada yang bantu habisin"ujar Neta menjawab pertanyaan Rena.


"Wah kalau begitu,gue pergi borong dulu guys"ujar Rena langsung beranjak dari tempat duduknya langsung menuju kearah salah satu penjual kantin.


"Lo gak ikut juga Lio?"tanya Neta ke Liona.


"Enggak deh lagi gak mood makan,trus gak enak juga sama yang traktir.Gue kan bukan anak kelas kalian juga"saut Liona.


Zia yang sejak tadi diam memperhatikan kalau saudarinya itu pasti masih dalam suasana yang tidak baik pasca kemarin,ia mengeluarkan sesuatu dari kantung almamaternya kemudian menyodorkannya kedepan Liona.Liona sedikit kaget saat ada yang menyodorkan coklat kepadanya,ia melihat siapa yang melakukannya dan ternyata itu adiknya.


"Makan itu,mood lo mungkin bakal bagus lagi"ujar Zia kepadanya.


"Makasih dek"ucap Liona langsung menerima coklat itu dan mulai membuka kemasan pembungkusnya kemudian memasukkan satu keping kedalam mulutnya.


Dan benar kata saudarinya itu,Liona merasa moodnya langsung mulai berangsur membaik setelah merasakan rasa dan tekstur coklat tadi meleleh dimulutnya.


"Hai Zia!"


Baru saja mood Liona membaik tapi sudah langsung hancur kembali mendengar suara cowok yang menjadi penyebabnya menjadi seperti ini,sedangkan Zia jangan tanyakan lagi bagaimana reaksi gadis itu.Ia langsung mendengus kesal melihat senyuman saudarinya yang tadi sempat muncul kembali berganti dengan raut wajah yang masam.


"Ngapain lo kesini?"


Zia menatap cowok yang baru jadi tamu tak diundang itu dengan tatapan tajam.


"Wih galak bener calon lo bro"ujar Juna kepada Ken setelah melihat tatapan tajam Zia.


"Eh becanda Zia,gue gak ikut campur"ujarnya sedetik kemudian saat menyadari tatapan tajam yang tadinya tertuju pada rekannya berpindah kearahnya.


"Jelas aku mau nyamperin kamu dong Zia,ngapain lagi aku yang ganteng ini kesini kalau enggak karena kamu"ujar Ken dengan pedenya memuji dirinya sendiri,tangannya bergerak merangkul pundak Zia.


"Lepas atau gue potong tangan lo!"ancam Zia.


"Iya aku lepas,padahal tadi bisa jadi latihan kalau kita udah jadian nanti cantik"ujar Ken yang membuat Zia dan Neta langsung memutar bola mata mereka malas dan menahan mual saking jijiknya denger omongan cowok itu.


"Dih kayaknya ada jamet lepas deh,zi"ujar Neta ke Zia,berniat untuk menyindir Ken.


"Kayaknya sih iya Ta"saut Zia.


"Yang kamu sama sahabat kamu maksud pasti bocah bocah prik yang ada disebelah sanakan?"ujar Ken menunjuk kearah meja dimana anak anak kelas 12 IPS 1 duduk berkumpul.


"Kalau yang kamu maksud mereka,aku setuju sih cantik.Emang rada kekurangan otak mereka tuh satu kelas,Hahaha..."lanjut Ken,entah lupa atau gakĀ  tau kalau dua diantara penghuni kelas yang tengah dia hina itu sedang berada didekatnya.


*Duh temen gue kayaknya bakal kena masalah deh*batin Juna,dengan perlahan tanpa disadari oleh Ken. Cowok itu mulai melangkah mundur menjauh dan memilih bergabung ke meja lain,sebagai langkah penyelamatan diri.


Zia dan Neta yang mendengar kalau semua anak anak kelasnya seperti dihina oleh Ken pun mulai mengepalkan tangan mereka,Liona sendiri memilih tak ikut campur saat menyadari emosi dua gadis didepannya itu mulai mendidih.


*Gue emang bulol sama Ken,tapi masalah menghina orang emang susah ditoleransi manusia sehat*batin Liona.