One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 254



"Zia,tuan Robert menemuimu hendak pamit"ujar Gia kepada Zia,tentunya dengan bahasa indonesia.Zia mengangguk paham mendengar perkataan kakak perempuannya itu.


"So you met me to say goodbye, Robert?


(Jadi kau menemuiku untuk pamit,Robert?)"tanya Zia.


"That's how,I have a flight to Singapore about an hour.


(begitulah,aku ada penerbangan ke singapura sekitar satu jam lagi)"


ujar Robert.


"But I will go to Indo two more days to chat more about cooperation with your sister. If I say goodbye, Junior's sister and let's meet again later


(Tapi aku akan ke indo dua hari lagi untuk berbincang lebih lanjut tentang kerjasama dengan kakakmu.Kalau begitu aku pamit ya adik junior dan mari bertemu lagi nanti)


"Okay,let's meet again later"


(Baiklah,mari bertemu lagi nanti)"saut Zia.


Setelah berpamitan dengan Zia,Robert tentu tak lupa berpamitan dengan kedua orang tua serta kepada para anggota keluarga hingga kekasih dari adik tingkatnya di SMU itu.Setelah itu Robert beranjak pergi dari sana diantar oleh Gia sampai ke jalan keluar dari area pesta,Jevan juga ikut.Laki laki itu ikut karena khawatir Robert mengambil kesempatan untuk menggoda kekasihnya.Meskipun Jevan percaya kepada Gia,namun hei sebuah rayuan mematikan sangat berbahaya.Jadi lebih baik hati hati dari pada hal buruk yang dia khawatirkan benar benar terjadi kedepannya.Gia Milik Jevan,titik no debat!


Setelah Robert pergi dari sana bersama Gia dan Jevan,tuan Renal langsung menoleh kearah putri bungsunya.Laki laki itu harus menanyakan sesuatu kepada putrinya itu.


"Zia,kenapa tuan Robert memanggilmu dengan panggilan Fransis?"tanya tuan Renal kepada sang putri.


Zia yang tadinya masih melihat kepergian kakak senirnya diantar oleh sang kakak perempuan bersama dengan kak Jevan itupun langsung berbalik menatap papanya,baru saja gadis itu hendak membuka mulut namun suara tuan Dirga menunda jawaban yang akan keluar dari mulut Zia.


"Fransis ya,wah paman suka nama panggikan temanmu itu padamu"ujar tuan Dirga pada Zia,membuat Zia menaikkan sebelah alisnya menatap laki laki yang perkiraannya memiliki umur yang hampir sama dengan sang papa atau mungkin mendiang ibunya.


"Paman ingin bercerita banyak padamu namun kelihatannya paman juga harus pamitan sekarang karena harus menjemput Yura tantemu.Jadi..."taun Dirga menjeda lanjutan kalimatnya,


laki laki itu kini mengeluarkan dua buah kartu dari dompetnya dan menyerahkannya kepada Zia.


Zia tanpa banyak berfikir langsung meraih kedua kartu yang sepertinya adalah sebuah kartu nama itu saat menyadari gerak gerik papanya yang hendak menepis kartu itu.Zia tahu mungkin papanya akan marah karena menerima kedua kartu itu karena sudah jelas hubungan papanya dan tuan Dirga cocok masuk dalam kategori buruk.


"Kedua kartu itu adalah kartu nama paman dan satu lagi kartu nama perusahaan,jadi kamu bisa menghubungi paman jika mungkin ingin mendengar cerita dari ibumu.Dan kartu kedua jika ingin mengajak bekerjasama dalam pekerjaan.


Zia tentunya paham maksud perkataan tuan Dirga itu,ia langsung menganggukkan kepalanya tanda membenarkan kalau dirinya paham.


"Nice,kalau begitu paman pamit.Sampai jumpa Fransis"pamit tuan Dirga pada Zia,laki laki itu hanya berpamitan kepada anggota termuda Antara itu saja.Setelah berpamitan,tuan Dirga mulai melangkah pergi dan saat itu ia sempatkan untuk melempar senyuman tipis kepada anak ketiga keluarga Antara terlebih dahulu.


"Zia sekarang jelaskan pada papa sekarang,kenapa tuan Robert memangggilmu dengan panggilan fransis"nampaknya tuan Renal masih butuh penjelasan.


"Ah soal itu.Selain Zia,Fransis adalah nama panggilan dari sebagian orang disekolahku dulu waktu diamerika pa.Orang orang disanakan  biasa memanggil menggunakan nama keluarga atau nama belakang,itu hal lumrah"jawab Zia pada papanya.


Tuan Renal masih tak puat dengan jawaban putrinya itu


"Baiklah kalau itu alasannya,kenapa harus Fransis bukannya seharusnya Antara?Nama belakangmukan Antara?"tanya tuan Renal lagi.


"Itu nama yang mudah diingat dan dilafalkan bagi orang sana,makanya aku memilih nama Fransis dan lagi pula itu bagus"jawab Zia.


"Tapi seharusnya kamu menggunakan nama keluarga kita yaitu Antara,Zia.


Kamu bahkan tak izin atau minimal mengatakan hal itu pada papa"ujar tuan Renal sedikit merasa kesal.


"Kakek yang mengizinkan dan memberi saran akan panggilan itu"


"Kakek mu?"tuan Renal mengatakan hal itu dengan nada tak percaya kalau ayahnya yang menyarankan hal itu,apa yang ayahnya pikirkan?


"Dan lagi pa"ujar Zia


"Ya kenapa?"tanya sang papa.


"Itu nama keluarga mama,aku boleh dan berhak menggunakannya.Aku adalah pewaris satu satunya nama Keluarga Fransisco"ujar Zia.


"Hah?"tuan Renal.


"Kenapa aku harus meminta izin kepada papa?memangnya papa berhak melarangku?"


BUM...


Pertanyaan itu dengan lancarnya keluar dari mulut Zia dengan wajah polos gadis itu.