
Didalam ruangan bernuansa putih terdapat seorang gadis remaja yang sedang berbaring lemah tak sadarkan diri di atas hospital bed,perlahan tapi pasti mata gadis itu mulai terbuka.Mata gadis remaja itu mengerjap ngerjap berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya penerangan dalam kamar yang berasal dari lampu listrik,setelah penglihatannya terasa normal gadis itu langsung menelisik dimana ia berada saat ini.
"Huf..kamar rumah sakit"gumam nya mengenali dengan jelas kamar bernuansa putih yang sudah jelas khas rumah sakit apalagi disalah satu tangannya terpasang selang infus yang semakin memperjelas kalau dia saat ini sedang berada di rumah sakit.
"Lagi?"gumamnya lagi seolah olah ia sudah sering berada ditempat itu,gadis itu termenung sampai suara seorang pria yang baru memasuki ruangan menyadarkannya.
"Sudah sadar?"suara seseorang bertanya padanya.
"Kak Teo!apa yang kakak lakukan disini?"tanya gadis itu sedikit kaget akan keberadaan orang itu.
"Masih nanya?ya karena lo disini Zia peak!masih nanya aja"jawab Teo menatap kesal kepada gadis yang tengah duduk di atas kasur rumah sakit itu.
"Hehehe sorry,tapi kok gue bisa ada disini sih padahal yang gue ingat terakhir gue masih disekolah deh?"tanya Zia yang tak mengingat kenapa ia bisa berakhir dikamar rumah sakit.
"Sebelumnya lo emang ada disekolah tapi lo tiba tiba jatuh pingsan akibat sakit lo kambuh,untung sahabat lo liat trus bawa lo kesini"jawab Teo menjelaskan apa yang dia ketahui kepada remaja perempuan yang berstatus bos sekaligus kakak angkat dari kekasihnya itu.
Zia berfikir sejenak mencoba mengingat ingat kembali apa yang terjadi padanya.
~flasback~
Sehabis dari meninggalkan lapangan basket indor,Zia menelusuri koridor sekolah yang terlihat sangat sepi karena murid muridnya sudah pulang sejak tadi.ia yang hendak menyusul Neta keruangan club sastra hendak memeriksa apakah sang sahabat sudah selesai dengan kegiatannya atau belum tapi disalah satu sisi lorong tiba tiba langkahnya terhenti seketika,gadis itu tiba tiba merasa nafasnya sesak,kepalanya terasa sakit,pandangannya memudar serta tubuhnya mendadak lemas ditambah ia merasakan sesuatu mengalir melalui hidungnya.Buk tubuhnya jatuh bersentuhan dengan permukaan lantai koridor sekolah dan sebelum pandangannya benar benar gelap,ia mendengar seseorang menyerukan namanya dengan keras.Ia cukup familiar akan suara itu dan pemilik suara itu yaitu sahabatnya Neta.
~flasback off~
"Sudah mengingatnya?"tanya Teo,Zia menganggukkan kepalanya.
"Tunggu lo bilang sahabat gue yang bawa gue ke rumah sakit kan,trus sekarang Neta dimana?udah pulang?"tanya Zia menanyakan keberadaan sang sahabat.
"Lo beneran udah sadar apa belum sih?noh sahabat lo lagi tidur di sofa,masa lo gak liat sih"ujar Teo menunjuk kearah sofa menggunakan jari telunjuknya.
Mengikuti arah jari telunjuk Teo,Zia langsung menemukan sosok sang sahabat yang tertidur sambil duduk di sofa dan sosok lain yang tak ia kenali juga sama sama tertidur di samping sahabatnya dalam posisi yang sama,ia hendak menanyakan siap sosok lain itu tapi tak jadi saat ia melihat mata Neta sahabatnya yang terlihat sembab seperti habis menangis.
"Matanya kenapa kok sembab gitu?"tanya Zia kepada Teo.
"Ya habis nangis lah"jawab Teo.
"Kenapa dia nangis?"tanya Zia lagi
"Karena lo"jawab Teo masih berusaha sabar.
"Kenapa karena gue?"tanya Zia menatap kearah Teo.
Teo membelalakkan matanya menatap tak percaya dengan gadis remaja yang tengah menatapnya polos saat ini,bisa bisanya gadis itu masih bertanya lagi.
"ZIA lo begok apa gimana sih?!sahabat mana yang gak nangis nemuin sahabatnya yang tak sadarkan diri di koridor sekolah dengan hidung yang berlumuran darah akibat mimisan!"seru Teo dengan sangat kesal tapi masih berusaha merendahkan suaranya takut mengganggu orang yang sedang tertidur di sofa.
"Belum lagi apa?"tanya Zia penasaran.
"Belum lagi pas dia tau tentang keadaan lo sekaligus akibat lo pingsan"ujar Teo ragu ragu melanjutkan perkataannya.
"Maksud lo kak?"tanya Zia,ia tahu arah pembicaraan ini tapi ia berharap pikirannya tak benar.
"Maaf gue datang terlambat padahal gue udah buru buru datang kesini setelah denger kabar lo tapi gue terlambat dan ya sahabat lo udah terlanjur denger semua penjelasan tentang keadaan lo dari dokter yang menangani lo tadi"ucap Teo meminta maaf.Terlihat helaan nafas dari gadis didepannya itu
"Gak papa udah terlanjur"ujar gadis itu pasrah.
"Tapi ngomong ngomong cowok disebelah Neta itu siapa?"tanyanya mengingat sosok yang gak dia kenali di ruangan itu.
"Lo gak kenal sama sekali?"tanya Teo.
"Enggak"jawab Zia
"Dia ketua OSIS disekolah lo,sahabat lo yang namanya Neta itu tadi bilang kalau cowok itu yang bantuin bawa lo ke rumah sakit guna mobilnya soalnya kan sahabat lo gak bawa mobil,dia gak sengaja temuin Neta yang nangis sambil mangku kepala lo yang lagi pingsan"jelas Teo,Zia mengangguk paham akan penjelasannya itu.
"Tapi tunggu,masa lo gak kenal sama ketua OSIS disekolah lo sih?!"tanya Teo sedikit tak percaya.
"Memang enggak"saut Zia yang berhasil membuat Teo geleng geleng kepala,sikap gadis remaja yang sudah lama dikenalnya itu masih sama saja ternyata.Masih tetap gak peduli dan acuh tak acuh sama lingkungan sekitarnya.
"Trus kenapa itu cowok belum balik?"tanya Zia
"Tadi gue udah suruh balik tapi dia bilang nanti aja tunggu lo sadar dulu,alasannya sih dia bilang karena dia ngerasa bertanggung jawab sebagai ketua OSIS karena dia yang bawa lo ke rumah sakit ditambah kejadian lo pingsan itu masih diarea sekolah"jawab Teo.
"Btw udah berapa kali?"tanya Teo
"Berapa kali apaan?!"tanya Zia tak paham dengan maksud Teo.
"Usah berapa kali lo pingsan tiba tiba kayak tadi?"ujar Teo memperjelas pertanyaannya supaya gadis remaja itu mengerti.
"Selama disini sih,baru sekali yang tadi doang"jawab Zia
"Lo ngapain sebelumnya sampai sampai pingsan kayak gitu?"tanya Teo
"Cuma main basket bentar itupun gak sampai capek,trus pas mau nyusulin Neta gue tiba tiba ngerasa lemes kepala sakit trus nafas sesak abis itu gak lama pandangan gelap trus pingsan"jelas Zia
"Lo harus nambah waspada sama diri lo sendiri,dokter bilang ini bakal tambah sering terjadi dan jangan lupa jaga fisik dan pola makan lo"ujar Teo menyampaikan pesan dokter yang tadi sempat mengajaknya berbincang sejenak.
"Iya gue tau kok"ucap Zia terlihat sangat tenang,padahal tidak dalam hatinya.