One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 268



Tak jauh berbeda dengan kondisi Zia,


Raka juga kini masih bersimpuh didepan makam mendiang kekasihnya sembari bercerita banyak hal.


"Halo cantik,aku datang lagi mengunjungimu.Dan sama seperti sebelum sebelumnya aku juga membawakan bunga mawar untuk kamu,aku juga masih sangat kangen dan rindu banget sama kamu"


"Aku datang kesini bareng cewek yang aku bantuin buat jadi pacar boongannya,aku juga udah izinkan ke kamu waktu itu.Hampir dua tahun berlalu tapi aku masih ngerasa bersalah sama diri aku sendiri,aku ngerasa bersalah karena gak tau apa apa tentang kondisi kamu waktu itu.


Kamu pinter banget nyembunyiinnya cantik,sampai aku baru tau semuanya setelah kamu pergi untuk selamanya"


"Kamu tau?saat aku ngeliat Zia sekarang,pasti aku selalu teringat kamu dulu.Apa yang kalian lakuin itu serupa namun gak sama.Kamu nyembunyiin kondisi kamu ke aku dan hanya orang tua serta keluarga kamu yang tau keadaan kamu sebenarnya.Sedangkan Zia malah sebaliknya,cewek itu malah lebih memilih menyembunyikan kondisinya yang buruk keseluruh keluarga kandungnya.


"Terkadang aku sering mikir sendiri,


kenapa orang orang kayak kamu dan Zia lebih memilih menyembunyikan hal itu kepada orang orang disekitar kalian yang seharusnya tau?bukannya rasa sakit akan berkurang jika dibagi? Tapi apapun alasannya mungkin cuma kalian yang bisa paham itu"


"Alasan sejak awal aku mutusin buat bantuin Zia dalam rencananya karena aku pengen mengerti alasan itu, selain itu hal ini mungkin akan bisa mengurangi rasa bersalahku karena aku gak bisa bantuin dan bahkan untuk sekedar ngertiin kamu saat itu"


Raka terus bicara sampai Zia datang menghampirinya,gadis itu sudah selesai mengunjungi makam mama,kakek,serta neneknya.


"Lo udah selesai?"tanya Raka sembari berbalik kearah Zia.


"Udah.Lo gimana,udah selesai juga?


Kalau belum lanjut aja,gue tungguin didepan pintu masuk"ujar Zia kepada Raka.


"Gak usah,gue udah selesai"jawab Raka.


"Bentar,gue pamit dulu"lanjut Raka,


Zia mengerti maksud cowok itupun mengangguk.Raka kembali berbalik menatap kearah makam mendiang kekasihnya,Zia dapat melihat serta mendengar ketua OSIS HANTARA itu mengucapkan kata kata perpisahaan dan tentunya itu ditujukan kepada sang mendiang kekasih.


Kini Raka dan Zia sudah berada didalam mobil.


"Lo mau langsung pulang atau mau mampir kemana dulu?"tanya Raka kepada cewek yang duduk disebelahnya.


"Jam segini kalau kepantai liat sunset masih keburu gak ya?"Zia menjawab pertanyaan Raka dengan pertanyaan.


Raka langsung melirik kearah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Keburu sih,lo mau kesana?kalau iya ayok aja gue bawa.Asal lo gak masalah pulang malem"jawab Raka.


"Iya,kalau gak keberatan"saut Zia setelah berfikir sejenak.


"Oke kita kesana,tapi lo yang nanggung bensin mobil gue ya"ujar Raka.


"Perhitungan banget lo jadi orang"ujar Zia mendengar perkataan Raka itu,tapi ia hanya bercanda kok.Tak masalah bagi Zia kalau hanya bayar uang bensin mah,beli mobil aja gampang apalagi cuma bensinnya doang.


"Bukan apa apa,sekarang lagi akhir bulan.Uang saku gue menipis"ujar Raka yang mulai menjalankan mobil miliknya.


"Kalau lo-kan gak mungkin ada kalimat uang menipis diakhir bulan" lanjut Raka.


"Iya tenang gue bayarin uang bensin mobil lo,isi dah tuh nanti sampai full pulang pergi"ujar Zia.


Mobil yang keduanya naiki itu melaju menelusuri jalan raya,meski jam sudah menunjukkan jam setengah lima sore namun mobil itu tetap akan melaju ketujuan selanjutnya yaitu pantai yang lama waktu perjalanannya mencapai rata rata 45 menit.


Skip_


Hembusan angin dari pantai menerbangkan anak anak rambut seseorang yang diterpanya.


Setelah empat puluh lima menit diperjalanan,akhirnya Raka dan Zia sampai dipantai.Kini mereka duduk disalah satu jembatan kayu yang berada disalah satu sisi pantai, kedua kaki masing masing menjuntai kebawah.Sunset akan segera tiba sebentar lagi.


"Lo suka pantai or laut?"tanya Raka yang melihat wajah berseri menatap kearah hamparan lautan yang luas.


"Kenapa lo nanya gitu?"saut Zia.


"Muka lo kayak berseri banget natap lautan"jawab Raka


"Gak begitu sih,tapi mungkin efek gue yang baru kedua kalinya datang kepantai deh"ujar Zia.


"Hah serius?dua kali,selama lo hidup?"tanya Raka terdengar tak yakin akan pengakuan Zia.


"Ya begitu deh"ujar Zia.


Hening...


"Zia,gue boleh nanya sama lo gak?"


Raka.


"Nanya apa?"Zia


"Kenapa lo milih buat nyembunyiin kondisi lo dari keluarga lo?kenapa gue gak pernah liat lo nangis pas penyakit lo kambuh?kenapa lo bisa bersikap sesantai itu didepan banyak orang,seolah olah lo gak punya masalah hidup?"Raka.


"Banyak juga ya pertanyaan lo,tapi its oke.Karena lo selama ini baik sama gue,jadi gue bakal jawab semuanya"ujar Zia setelah mendapat pertanyaan beruntun dari Raka.


"Untuk pertanyaan pertama,kenapa gue lebih milih nyembunyiin kondisi diri gue dari keluarga sendiri?jawabannya karena gue gak mau terlihat lemah, gue gak mau ngeliat wajah kasihan mereka,dan yang paling gue cemasin adalah kalau ada dari mereka yang terang terangan menunjukkan wajah ketidak pedulian mereka"Zia


"Wajah tidak peduli?"Raka.


"Ada sedikit intrik dikeluarga gue"jawab Zia.


"Untuk pertanyaan kedua,gue hampur gak pernah nangis didepan orang lain karena sejak kecil gue didik sama kakek gue untuk gak nunjukin sisi lemah diri sendiri keorang lain"Zia


"Tapi menangis itu bukan berarti lemah,semua orang berhak untuk itu"


Raka.


"Ya gue tau itu,tapi gue tetep gak suka ada yang liat air mata gue netes"balas Zia.


"Trus apa jawaban pertanyaan ketiga?"Raka.


"Jawabannya,alasan pertama sama kayak jawaban kedua yaitu gue gak mau nunjukin sisi lemah gue.Alasan kedua adalah itu salah satu cara gue biar gak terlalu jenuh mikirin masalah hidup yang menumpuk,anggap aja gue lagi nipu diri sendiri" tandas Zia.