One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 281



Zia kini tengah berbaring telentang diatas kasurnya sambil menatap kearah langit langit kamarnya,dari sorot mata gadis itu terlihat jelas kalau pikirannya kini tidak sedang pada langit langit yang menjadi objek tatapannya itu,pikirannya jauh melayang memikirkan banyak hal bercabang.


"Zia,setelah sekian kali pertemuan dan berkonsultasi.Kakak dapat mengerti kalau yang membuat kamu seperti ini karena kamu terlalu banyak membebankan pikiranmu terhadap masalah masalah besar yang seharusnya tidak kamu pikirkan sendiri,berbagilah Zia"


"Aku sudah berbagi,kepada Neta dan kak Ilen"


"Bukan hanya kepada kami Zia,tetapi kepada keluargamu"


"Bukankah sudah kukatakan kepada kakak,aku tak bisa melakukannya"


"Jangan katakan secara langsung Zia,


kamu bisa menggunakan kiasan untuk menyampaikan masalahmu.Tak apa jika mereka tak memahaminya,tapi yang jelas pasti kamu setidaknya akan merasakan sedikit perasaan lepas jika sudah mengeluarkannya"


"Menurut kakak begitu?"


"Iya"


"Baiklah aku akan mencobanya"


"Bagus,lakukanlah Zia.Buat dirimu bebas"


"Hm"


Zia menghela nafas berat lalu beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju meja belajarnya,ia membuka laci meja itu dan mengeluarkan botol obatnya dari dalam sana.Gadis remaja itu meminum obatnya.Entah berapa lama lagi obat itu mampu menyokong kehidupannya,Zia tak tahu tapi yang jelas ia harus meminumnya meski sudah rasa lelah dan bosan sudah menghampiri.


Selesai meminum obat dan menyimpan kembali botol obat itu ketempat yang aman,Zia bergerak kini menuju kebalkon kamarnya.Ia duduk disalah satu bangku disana lalu mendongak menatap langit malam,pikiran Zia kembali melayang jauh.Kini ia memutar memory ingatan masa lalunya saat tengah berdua dengan mendiang kakeknya.


"Zia cucu kakek tersayang"


"Iya kek"


"Bagaimana sekolahmu,apakah ada kendala?"


"Tidak ada,tidak ada kendala kek.


Semuanya aman"


"Baguslah,kakek lega mendengarnya"


"Iya?"


"Zia ingin menanyakan sesuatu"


"Menanyakan apa?"


"Sebenarnya sudah lama Zia ingin menanyakan hal ini tapi tak yakin kakek akan menjawabnya waktu itu,jadi Zia akan tanyakan sekarang karena Zia yakin sekarang kakek akan mau menjawabnya"


"Wah kenapa kakek tiba tiba merasa sedikit was was ya menunggu pertanyaan yang akan diajukan cucu kesayangan kakek ini"


"Kek.Kenapa kakek selalu memintaku untuk lebih baik menggunakan nama keluarga Fransisco dikehidupan sekolah dan pergaulanku dibanding nama keluarga Antara,padahalkan bukankah seharusnya aku lebih diharuskan menggunakan nama keluarga dari pihak papa bukan mama.Kenapa begitu kek?"


"Kakek sudah bisa menebak akan ada saatnya kamu menanayakan hal itu kepada kakek,jadi karena cucu kakek sudah mengajukannya maka kakek tentu akan memberimu jawabannya"


"Alasannya entahlah tapi kakek selalu merasa kalau jika kamu terlalu sering menggunakan nama Antara dan lebih dekat dengan nama itu,kakek selalu merasa kamu akan mendapat banyak masalah kedepannya"


"Kenapa kek?"


"Terlalu banyak kenaifan yang tersirat didalamnya,bahkan kakek yang seharusnya menjunjung nama keluarga itu juga merasakan demikian.Jadi Zia,sebagai cucu kesayangan kakek maukah kamu berjanji kepada kakekmu ini?"


"Janji apa kek?Zia akan memenuhinya semampu Zia"


"Berjanjilah kepada kakek untuk menjaga jarak dengan Antara,meskipun itu adalah keluarga besarmu.Kakek tak bisa menyuruhmu untuk menjauh karena ayahmu,para kakakmu,mami-mu, dan bahkan kakek sendiri adalah seorang Antara serta kamu juga.Tapi kakek masih bisa memintamu untuk menjaga jarak dan jangan terlalu terlibat didalamnya.Zia mau melakukannya untuk kakek?"


"Zia tak bisa berjanji kek,tapi Zia akan berusaha untuk memenuhinya"


"Bagus itu baru cucu kakek"


"Ingat Zia,cukup ambil keteguhan dan ketangguhan dari keluarga Antara saja.Sisanya?ikuti bagaimana keluarga Fransisco hidup,mengikuti cara hidup keluarga mama-mu itu jauh lebih baik Zia"


"Iya kek"


"Jangan lupakan dan abaikan kata kata kakek ya Zia,firasat kakek sangat kuat akan hal ini"


"Apakah aku salah mengambil langkah kek?"sebuah pertanyaan itu langsung keluar dari mulut Zia setelah ia selesai memutar ingatannya akan sebuah percakapan dirinya dengan sang kakek.Zia kembali terlihat menghela nafas kemudian beranjak dari balkon masuk kedalam kamarnya kembali untuk mencoba beristirahat malam ini.