One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 116



"Heh cil,nanyanya bisa satu satu gak!gue dirumah biasa lagi gabut ngajak ngomong ikan dikolam,sibuk? tentu tidak malah kurang kerjaan.


Waktu?masih banyak kayaknya,ada apa lo nelpon gue?"terdengar suara Neta yang menyaut dari seberang sana.


"Gue lagi butuh temen cerita nih"ujar Zia.


"Datang kerumah gue,gak bawa cemilan gak gue bukain pintu tut...tut..." Setelah mengatakan hal itu Neta langsung menutup panggilan begitu saja secara sepihak.


"Oke tujuan selanjutnya minimarket habis itu langsung cabut kerumah Neta"ujar Zia berbicara kepada dirinya sendiri.


Cewek itu kembali melajukan mobilnya menelusuri jalan raya menuju kedua tempat yang ia sebutkan tadi.


~Skip~


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam namun Zia baru saja menginjakkan kaki masuk kedalam kediaman keluarganya karena terlalu asik ngobrol dan bercerita dengan Neta sampai jadi lupa waktu,gadis itu akhirnya baru pulang cukup malam seperti ini.


Zia yang mulai menaiki beberapa anak tangga tak sengaja berpapasan dengan bik Muti yang sedang menuruni tangga membawa sebuah selimut tebal ditangan kanannya


"Nona muda"sapa bik Muti padanya.


"Loh bibik mau kemana,ini udah jam sebelas malam loh.Kok belum istirahat?"tanya Zia kepada bik Muti.


"Sebentar lagi non,ini bibik mau memberikan selimut hangat ini dulu kepada nona Lyn"jawab bik Muti.


"Kak Lyn,memang dia dimana sekarang?"tanya Zia


"Nona Lyn sedang berada ditaman belakang non"jawab bik Muti.


"Taman belakang?semalam ini?"tanya Zia heran.


"Iya non,sepertinya insomnianya nona Lyn kambuh makanya seperti itu"jawab bik Muti lagi.


"Yasudah kalau begitu berikan selimut itu padaku bik,biar aku saja yang memberikannya kepada kakak"ujar Zia mengulurkan tangannya hendak mengambil alih selimut ditangan bik Muti.


"Tidak usah nona muda,biar bibik saja"tolak bik Muti merasa tak enak.


"Biar saya saja bik,sekalian saya mau bujuk kak Lyn biar tidur"ujar Zia segera mengambil secara perlahan selimut yang dibawa oleh bik Muti.


"Benarkah?kalau begitu tolong bujuk nona Lyn untuk tidur nona"ucap bik Muti,Zia menganggukkan kepala mengiyakan ucapan perempuan paruh baya itu.


"Kalau begitu bibik mending sekarang pergi beristirahat dikamar bibik, pasti bibik sudah capek bekerja seharian"ujar Zia meminta bik Muti untuk pergi beristirahat.


"Baik nona muda"saut bik Muti.


Zia berbalik badan dan tak jadi melanjutkan langkahnya untuk menaiki anak tangga namun sebaliknya ia malah kembali menuruni anak tangga yang ia sudah ia naiki tadi, tujuannya bukan lagi kamarnya tapi taman belakang dimana kakak ketiganya berada menurut penuturan bik Muti tadi.


~Ditaman belakang~


Lyn duduk dikursi panjang ditaman yang berada dibelakang bangunan utama kediaman keluarganya,gadis itu tak mempedulikan hawa malam yang dingin dan menusuk kulit.Ia terlihat menggunakan piyama tidur berlengan pendek sambil memegang erat sebuah buku yang ia letakkan dipangkuannya, Lyn terlihat menikmati susana langit malam yang terbilang cerah sehingga cukup banyak bintang bintang yang dapat terlihat dilangit serta jangan lupakan sang rembulan yang sedang dalam fase bulan yang hampir penuh.


Saat sedang fokus fokusnya menatap langit malam,Lyn merasakan sebuah selimut dikenakan dipundaknya.Gadis itu sontak langsung mendongakkan kepalanya lebih tinggi untuk mengetahui siapa yang memakaikan selimut itu kepadanya


"Pakai selimut ini agar kakak tak kedinginan"suara itu adalah milik Zia adik bungsunya,Lyn dapat melihat senyuman hangat yang ditujukan kepadanya.


Zia bergerak dari yang tadinya berdiri dibelakang sang kakak berjalan kesamping dan duduk disebelah kakaknya itu,pergerakannya tak lepas dari penglihatan Lyn kakaknya.


Zia bisa melihat kakak ketiganya itu mengangguk pelan sambil mengeratkan selimut yang tadi ia kenakan dipunggung kakaknya itu.


Setelah mendapat izin untuk duduk disana,Zia mengubah arah penglihatannya menjadi mendongak menatap kearah langit.


"Pantas saja kakak betah berlama lama disini,rupanya langit malam ini terlihat cukup indah"ujarnya.


"Tapi seharusnya kakak memastikan diri kakak tidak kedinginan terkena angin malam,itu tidak terlalu baik untuk kesehatan"lanjut Zia.


"Apa pedulimu soal itu?"ujar Lyn terdengar datar.Zia tersenyum tipis akhirnya kakak ketiganya itu bersuara.


"Tentu saja Zia peduli,aku gak mau kakak sakit.Bukankah kakak calon dokter,masa mau jadi dokter tapi gak bisa menjaga kesehatan sendiri. Jangan sampai tujuan kakak jadi dokter tapi malah berakhir menjadi pasien"jawab Zia berbicara dengan sangat tenang.


*Apa apaan bocah ini,apa dia sedang sok sok-an menasehatiku?apa dia lupa kalau aku ini lebih tua darinya?aku yang seharusnya memberi dia nasehat bukan dia yang menasehatiku seperti ini*oceh Lyn membatin,namun diluar gadis itu hanya menampilkan ekspresi datar saja.


"Zia lagi gak sedang sok sok-an menasehati kakak kok,tapi itu bentuk kepedulian dan kekhawatiran.Meskipun aku lebih muda dari kakak tapi tak masalahkan memberi nasehat asal itu bersifat positif"ujar Zia


Mata Lyn sedikit terbelalak kaget karena adik bungsunya itu seperti bisa membaca isi pikirannya


*Dia gak bisa baca pikiran orangkan?"batin Lyn.


"Zia gak bisa baca pikiran kok kak,cuma lagi menyampaikan apa yang terlintas diotak aku aja"ujar Zia yang membuat kak Lyn kembali sedikit kaget bagaimana bisa bocah itu mengetahui isi pikirannya lagi,


Zia terkekeh pelan melihat reaksi kakaknya itu yang menurutnya terlihat lucu.


"Apa yang lucu?"tanya kak Lyn datar.


"Reaksi kakak"jawab Zia polos.


Kak Lyn mendengus pelan kemudian langsung beralih menatap langit malam lagi,Sedangkan Zia malah sibuk memandangi wajah dingin kakaknya itu


sampai matanya menangkap sesuatu yang ada dipangkuan kakaknya itu.


"Zia kira kak Anna berbohong tapi rupanya dia gak berbohong"ujar Zia


Kak Lyn menoleh dan menatap Zia seakan ingin bertanya apa yang dimaksud gadis itu,Zia yang langsung bisa mengartikan arti tatapan sang kakak langsung menjelaskannya.


"Buku itu"ujar Zia menunjuk buku yang dipegang Lyn kakaknya dipangkuan.


"Aku kira kak Anna berbohong padaku kalau ada orang lain selain Zia yang mendapatkan buku itu,tapi ternyata bener.Ternyata kakak orang yang dimaksud kak Anna,yang mendapatkan buku itu dari mama"ujar Zia, perkataan Zia itu membuat Lyn langsung paham apa maksud adiknya itu.


"Kakak sudah menyelesaikan membaca semuanya?"tanya Zia kepada kak Lyn.


"Sudah"jawab Lyn singkat.


"Mama pasti dulu orang yang rajin,sehingga mau repot repot menulis buku itu untuk diberikan kepada kita berdua putri kesayangannya"ujar Zia


"Putri kesayannya hanya kau bukan aku"saut Lyn datar melihat kearah Zia.


Zia menggelengkan kepalanya pelan kemudian berkata


"Enggak,kakak itu putri kesayangan mama yang pertama"ujar Zia kepada Lyn kakaknya.