
"Gue gak mau lo temenin hari ini biar lo bisa ngabisin waktu keluarga sama ortu lo,lo kan sering bilang kalau kedua ortu lo itu jarang punya waktu buat lo.Dan kemarin lo bilang kalau ortu lo sengaja ambil cuti kerja dua hari buat lo,itu kesempatan buat lo Ta supaya bisa ngehabisin waktu sama orang tua lo"jelas Zia panjang lebar.
"Tapikan itu bisa gue lakuin pas udah balik nemenin lo"ujar Neta.
Zia kembali menggelengkan kepalanya pelan.
"Gak boleh,lo gak boleh sia siain waktu berharga yang sering lo tunggu itu.Lagian cuma hari inikan?minggu depan lo bisa nemenin gue lagi"ujar Zia.
"Yaudah deh iya,tapi gue yang bakal anter lo kesana dan gak boleh ada penolakan"putus Neta.
"Kalau cuma nganterin,okelah.Lagian gue juga gak bawa mobil soalnya"ujar Zia setuju.
Perbincangan keduanya berlanjut sampai guru yang mengajar datang kekelas mereka,baru keduanya fokus memperhatikan guru yang menerangkan itu.Walau biasanya mereka tak pernah sefokus itu memperhatikan saat guru menerangkan didepan,mungkin kali ini karena efek UTS yang akan mereka hadapi lusa.
~Skip~
Kantin terlihat begitu ramai sekali oleh murid murid yang sedang mengisi perut mereka yang terasa lapar atau sekedar menghilangkan dahaga serta berkumpul dengan teman teman mereka melepas penat sejenak dari aktivitas pembelajaran,diantara murid murid itu ada dua bersaudari Antara serta sahabat mereka masing masing yaitu Neta dan Rena.
Susana meja kantin tempat mereka berada saat ini sedikit berbeda dari hari hari biasanya,penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah dua bersaudari yang terlihat tak berinteraksi sejak tadi.Jangankan berinteraksi,Liona bahkan sejak tadi sengaja untuk tidak berkontak mata dengan Zia adiknya.Sedangkan Zia?gadis itu yang sejak pagi memang dalam mood yang tidak bagus,terlihat acuh dan hanya fokus pada makanan dihadapannya saja.Neta dan Rena?keduanya tentu memahami keadaan jadi mereka memilih untuk tak bersikap heboh seperti biasa,bahkan untuk mengobrol saja terkesan berbisik bisik supaya tidak mengusik ketenangan dua bersaudari yang tengah dalam keadaan bak perang dingin itu.
Suasana hening langsung terusik oleh kedatangan salah satu penyebab bertambahnya masalah Zia,siapa lagi kalau bukan Ken.
Kriet....tanpa basa basi cowok itu menarik sebuah bangku kantin ditaruh disamping Zia kemudian Ken langsung duduk disana dan jangan lupakan Juna anteknya Ken yang mengambil posisi duduk disamping Neta.
"Halo cantik,bagaimana kabarmu hari ini?"sapa Ken dengan senyuman yang memuakkan bagi Zia namun menjadi senyuman menawan dimata Liona.
Zia tak menyauti sapaan cowok itu sedikitpun,gadis itu hanya menambah kecepatan tangannya untuk menyuapkan makanannya kedalam mulutnya menggunkan sendok.
"Kok gak dijawab sih,eh btw ini aku bawain kamu coklat kayak biasa"ujar Ken masih mencoba menarik perhatian Zia,ia meletakkan sebatang coklat yang tentunya masih dengan bungkus yang utuh keatas meja didepan gadis itu.
"Diterima atuh calonnya pak bosku, itu coklat mahal dan spesial loh"ujar Juna.
Kriet...Zia langsung berdiri dari tempat duduknya,hal itu tentu menarik perhatian orang orang dimeja itu dan juga beberapa murid disekitarnya.
"Neta,gue tunggu ditempat janjian kita tadi pagi"ujar gadis itu sebelum melengos pergi dari meja itu,Kelima orang yang tersisa dimeja itu dapat melihat Zia sempat menghampiri Danil dan menyerahkan sejumlah uang lembaran merah guna menepati janji gadis itu untuk mentraktir teman sekelasnya.Setelah itu Zia langsung berjalan meninggalkan area kantin,tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
"Heh!sudah berapa kali gue bilang, stop ngusik hidup sahabat gue!"ujar Neta dengan kesal kepada Ken.
Ken telihat memutarkan bola matanya malas mendengar nada kesal yang dilontarkan sahabat gadis yang ditaksirnya itu kepadanya.
"Gue gak pernah ngusik hidup Zia, malah sebaliknya gue lagi berusaha burusaha ngedapetin hatinya"ujar Ken enteng,entah sadar atau tidak kalau perkataannya tadi membuat hati seseorang retak.
"Oke bos"saut Juna ikut berdiri.
"Ken tunggu,kenapa kamu gak makan dimeja ini aja bareng kita?"ujar Liona penuh harap.
"Gak deh Lio,Zia juga udah pergi"tolak Ken,langsung pergi bergabung keteman teman satu tim basketnya dengan Juna.
Liona menundukkan kepalanya mendengar jawaban pemuda itu,gadis itu merasa sedih karena pemuda yang dicintainya itu tak pernah terlihat melirik keberadaannya.Rena yang meperhatikan sahabatnya itu sejak tadi merasa kasian dan sedikit kesal dengan sifat Liona yang sangat cinta mati kepada Ken yang bahkan gak pernah menghargai perasaan sahabatnya itu,sedangkan Neta tak mau memikirkan hal itu sekarang.
Neta lebih memilih menghabiskan makanannya dengan cepat supaya bisa menyusul sang sahabat,ia yakin Zia pasti tengah menunggu kedatangannya sekarang.
"Sabar Lio,lagi pula bukannya gue udah sering bilang supaya lo berhenti berharap sama cowok itu"ujar Rena sambil mengusap punggung sahabatnya itu.
"Tapi gue cinta sama Ken,Ren.Kenapa dia gak pernah lirik gue sedikitpun dan malah suka sama saudari gue sendiri?"ujar Liona terdengar sendu.
"Mungkin Ken bukan takdir lo"ujar Rena terdengar sedikit sarkas dikuping Liona.
"Lio,kak Ren,gua pergi duluan ya"pamit Neta,memotong percakapan kedua orang itu.Liona dan Rena langsung menoleh kearah Neta.
"Cepet amat Ta,biasanya nambah"saut Rena.
"Maunya gitu sih kak,tapi Zia pasti lebih butuh gue buat tempat cerita masalahnya sekarang"ujar Neta kepada Rena,tapi matanya terlihat melirik kearah Liona.
"Zia emang lagi ada masalah ya?"tanya Rena terlihat sedikit khawatir.
"Semua orang pasti punya masalah kak,tinggal orangnya aja mau bersikap kayak apa"ujar Neta,entah jawabannya nyambung atau enggak gadis itu tak peduli sama sekali.
"Permisi"ucap Neta,sebelum benar benar beranjak dari sana meninggalkan Liona dan Rena.
"Ren,kenapa keliatannya Neta lebih tau tentang adik gue ya.Kenapa Zia lebih milih Neta sebagai tempat ceritanya dibanding gue kakaknya sendiri?"tanya Liona spontan kepada Rena sahabatnya.
"Jangan tanya aneh aneh deh lo sekarang,cepet lanjutin makannya.
Bentar lagi bel mau bunyi,jangan sampai perut lo kosong"ujar Rena menyauti perkataan sang sahabat.
Liona mendelik kesal karena pertanyaannya tak dihiraukan oleh Rena,gadis itu memakan makanannya dengan perasaan campur aduk.
Liona sendiri bukan bermaksud untuk mengacuhkan pertanyaan sahabatnya itu,namun dirinya sendiri saja gak tau harus menjawab apa.Menurut Rena, pemikiran Zia itu adalah salah satu hal yang paling susah ditebak dan diprediksi,adik sahabatnya itu terasa sangat tertutup akan kondisi pribadinya.