One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 165



"Siapa bilang,banyak kok yang suka sama lo Lio.Tapi emang dasarnya lo udah bucin sih sama satu orang"ujar Zia mulai menggoda saudarinya itu.


"Tapi sayangnya"Neta menjeda kalimatnya.


"Sayang apa tuh?"tanya nyonya Antara ikut masuk kembali pada obrolan ketiga gadis muda itu.


"Tapi sayang tante,bucinannya Liona malah bucin sama yang lain"ujar Neta tanpa beban sekali.


"Oh ya,emang bener Lio?"nyonya Antara langsung bertanya kepada putri ketiganya itu untuk memastikan.


Jadilah Liona yang menjadi gelagapan dibuatnya.


"Em anu gak gitu ma,Zia sama Neta cuma bercanda aja kok"ujar gadis itu.


"Masa sih cuma becanda doang, keliatannya beneran"ujar nyonya Antara tak percaya.


"Anu itu..."Liona tidak tau harus mengatakan apa,ia menatap tajam dan  sinis dua bocah yang tengah cekikikan setelah membuatnya terjebak gini.


Hihihi....Zia dan Neta yang tengah cekikikan langsung kompak terdiam dan menoleh kearah lain berpura pura tak tau apapun saat menyadari Liona menatap tajam dan sinis kearah mereka.


"Eh Ta,lo belum pernah ngobrol sama tembok dikamar guekan?"tanya Zia.


Menyadari maksud Zia bertanya hal itu,Neta-pun langsung mengikuti alur dan menjawab pertanyaan sahabatnya itu.


"Belum nih Zi"jawab Neta.


"Mau coba ajak ngobrol gak,gue kenalin deh?"tanya Zia.


"Mau dong,siapa tau dinding kamar lo bisa gue kenalin sama dinding kamar gue"ujar Neta.


"Yaudah yuk sekarang aja,mumpung masih sore jadi pas banget waktunya buat ngajak kenalan tembok"ajak Zia yang lansung berdiri dari tempatnya disusul Neta.


"Yuklah,jadi gak sabar"ujar Neta yang juga sudah berdiri disebelah Neta.


Zia langsung buru buru menarik tangan Neta untuk kekamarnya,mereka sedang mencoba kabur dari Liona yang mungkin akan mengamuk nanti karena ulah mereka tadi.Ya meskipun agak gak mungkin karena nyonya Antara ada disana,tapikan apa salahnya  berantisipasi untuk nyelamatin diri.


"Mana ada orang ngajak sahabatnya kenalan sama tembok kamar,mana yang satu semangat banget lagi dikenalin sma tembok"gumam Liona mendengar percakapan dua gadis yang baru pergi itu.


"Ma kayaknya otak adek sama sahabat nya perlu direvarasi deh"ujar Liona kepada mamanya.


"Hus..kamu gak boleh ngomong kayak gitu,meski mama akui memang rada rada aneh tapi itu artinya adik kamu sama sahabatnya punya frekuensi yang sama"ujar Sela menegur putri ketiganya itu.


"Iya ma,lagian omongan mereka kek orang stes gitu"ujar Liona.


"Yasudah biarin aja mereka,sekarang gimana persoalan kamu yang tadi.Kamu gak ada niatan curhat sama mama gitu?"tanya Sela kepada Liona putrinya.


"Ih mama,jangan bahas hal itu deh"pinta Liona sambil cemberut sekaligus nahan malu diatuh.


"Yaudah kalau kamu gak mau gak papa"ujar Sela akhirnya,wanita itu tahu kalau putrinya itu sedang malu akan pembahasan itu.


"Iya ma"ujar Liona yang menikmati usapan lembut yang diberikan oleh sang mama dikepalanya.


Ditempat lain tepatnya dikamar Zia, dua gadis yang tadi membuat Liona jadi merasa malu karena masalah percintaannya diketahui oleh nyonya Antara saat ini terlihat terlelap diatas tempat tidur sang pemilik kamar.Mereka tidak berbohong soal ngajak ngomong tembok seperti yang mereka katakan tadi saat diruang tamu bersama Liona dan nyonya Antara,Zia benar benar mengenalkan tembok kamarnya kepada Neta dan tentunya Neta dengan senang hati berkenalan dengan sang tembok kamar milik Zia.Sekitaran lima menit sebelum akhirnya keduanya tertidur, Neta masih mengobrol dengan tembok kamar Zia dan Zia sendiri memilih mengobrol dengan teman akrabnya saat dikamar yaitu langit langit kamar.


~Skip~


Juna berjalan menuju keruang kerja sang papa sambil membawa map coklat yang kemarin ia dapatkan dari Zia saat berkunjung keperusahaan milik gadis yang merupakan teman satu sekolahnya itu,seharusnya ia memberikan map itu kemarin malam namun sang ayah baru terlihat berada dirumah malam ini karena malam kemarin memilih menginap dikantor untuk lembur.


Tok...tok...tok...Juna mengetuk pintu ruangan papanya


"Masuk"suara bariton dari dalam ruangan mempersilahkannya untuk masuk.


Juna langsung meraih knop pintu dan memutar kemudian mendorongnya sehingga pintu ruangan kerja papanya itu terbuka,ia menjulurkan kepalanya masuk kedalam untuk mengintip.


"Papa sibuk?"tanyanya.


"Ternyata kamu Juna,ayo masuk papa sedang tak terlalu sibuk kok"ujar sang papa saat mengetahui Juna yang datang.


Juna melangkah masuk kedalam ruangan lalu menutup pintu kembali kemudian berjalan menuju kearah meja kerja sang papa dan langsung duduk dikursi yang berada dihadapan papanya,jangan lupakan map coklat ditangannya.


"Ada perlu apa kamu keruangan papa?"tanya papanya Juna kepada putranya.


Juna tak langsung menjawab pertanyaan papanya itu,matanya masih sibuk memperhatikan tumpukan berkas yang ia yakini sebagai pekerjaan yang harus papanya selesaikan.


"Semua berkas itu,pekerjaan papa semua?"tanyanya sambil menatap sang papa.


"Kalau semua berkas ini ada disini, itu artinya ini semua pekerjaan papa"jawab papanya Juna.


Huf...Juna membuang nafasnya


"Papa gak ada niatan gitu buat ninggalin pekerjaan papa yang sekarang?Cari pekerjaan lain yang lebih baik dan manusiawi"tanya Juna.


"Kalau papa nurutin ego papa,pasti dari kemarin kemarin papa sudah meninggalkan pekerjaan papa ini nak seperti yang kamu bilang"ujar papanya Juna sambil menatap dirinya.


"Tapi papa gak bisa kayak gitu,meski pekerjaan papa ini semakin hari banyaknya gak masuk akal tapi papa masih butuh pekerjaan ini.Bukan cuma papa tapi keluarga kita juga,kalau papa keluar gimana caranya buat menuhin kebutuhan keluarga ini.Lagi pula zaman sekarang nyari pekerjan lain itu susahnya minta ampun, apalagi bagi papa yang udah lumayan berumur gini malah tambah susah"sambung papanya Juna.


"Kalau gitu,papa terima ini"ujar Juna langsung menyerahkan map coklat yang sejak tadi ia pegang dan letakkan dipangkuannya sejak tadi,ia meletakkan map coklat itu keatas meja kerja papanya.


"Map apa ini?"tanya papanya Juna kepada Juna,meski begitu papanya Juna tetap menerima map yang diserahkan oleh putranya itu.


"Seseorang memberikannya padaku, kuharap papa akan menerimanya"jawab Juna sambil menatap lekat papanya.


"Memang apa isi map ini?"tanya papanya juna,tangan laki laki dewasa itu mulai bergerak membuka map coklat itu.


Papanya Juna mulai mengeluarkan lembaran kertas didalammnya,kemudian mulai membaca isi yang tertera pada kertas kertas itu.