One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 302



Drrt....


Zia menoleh keatas nakas,hpnya berbunyi dan terlihat icon hijau yang bergerak naik turun menandakan ada panggilan masuk.Dengan susah payah dirinya meraih hp itu lalu mengangkat panggilan telepon yang ternyata berasal dari kak Anna.


"Halo"


"Halo.Lo masuk rumah sakit lagi dek?


Kenapa gak ngasih tau gue atau enggak Teo?ini gue malah tau dari supir pribadi lo barusan"


"Lo sama kak Teo-kan sibuk kak,jadi..."


(Belum selesai menjawab,perkataan Zia langsung dipotong oleh kakak angkatnya itu)


"Jadi apa?jadi lo gak mau kasih tau kita gitu? Itu bukan alasan Zia Antara.Oh atau jangan jangan lo udah gak anggap kita penting gitu?!"


"Gak gitu kak,dengerin dulu penjelasan gue"


"Halah udahlah dek.tut...tut...tut."


Zia menatap nanar layar hpnya, panggilan diputus sepihak oleh kakak angkatnya dari seberang sana tanpa mau menunggu penjelasannya terlebih dahulu.Gadis itu mencoba menghubungi nomor itu kembali,namun tak diangkat oleh sang pemilik.Buru buru Zia membuka daftar kontak dan memilih kontak atas nama kak Teo disana, gadis itu langsung menghubungi nomor tersebut dan tak berapa lama panggilan diterima.


"Halo Zia"


"Kak Teo,kak Anna marah sama gue"


(Tanpa basa basi,Zia langsung to the poin)


"Pasti gara gara lo gak infoin tentang lo yang masuk rumah sakit sejak kemarinkan?"


(Rupanya kak Teo sudah dapat menebak sebelum Zia menjelaskan alasannya)


"Iya gara gara itu,padahalkan maksud gue gak ngasih taukan bukan karena udah gak menganggap keberadaan kak Anna lagi.Tapi karena gak mau kak Anna khawatir dan nambah beban pikiran,terlebih kak Anna sekarang lagi sibuk sibuknya ngurusin kerjaan diluar.Sama halnya dengan kak Teo" Zia langsung menjelaskan alasan tindakannya kepada kekasih kakak angkatnya itu tanpa diminta.


"Gak perlu lo jelasin juga sebenarnya kakak dapat ngerti tujuan lo dek,tapi kayaknya kakak lo kali ini enggak demikian"


"Trus ini gimana dong,kak Anna kayaknya marah banget sama gue kak.


Tadi panggilan telponnya langsung dimatiin sepihak tanpa nungguin penjelasan gue,kak Teo bantuin dong"


"Kakak lo gak marah kok,palingan cuma kesel aja"


"Sama aja itu,11 12"


"Tenang aja nanti gue bantuin bujukin kakak lo.Jadi lo gak usah khawatir terlebih sampai kepikiran, nanti bukannya cepet sembuh malah makin parah.Btw masih dirumah sakitkan lo sekarang?"


"Iya masih"


"Kapan pulang?"


"Belum tau kak,dokter bilang tunggu stabil dan agak mendingan dulu kondisi gue"


"Ya gitu deh"


"Nah kalau gitu gak usah dipikirin masalah kakak lo itu,biar gue yang urus.Kakak lo cuma lagi kecapean aja,paling gara gara kerjaan yang banyak makanya agak sensitif.Nanti juga bakal balik normal lagi"


"Tapi gue bakal tetep kepikiran sih kak"


"Udah gue bilang gak usah dipikirin,


biar gue yang urus.Lo fokus sama kondisi lo aja,lagian kakak lo gitu juga karena khawatir.Janji deh gue, paling lama besok pagi kakak lo udah nelpon lo lagi trus udah gak marah lagi sama lo"


"Kata lo tadi,kakak gue gak marah.Gimana sih?"


(Disaat itu Zia sedikit teralihkan kepada pintu yang terbuka perlahan,


maminya sudah datang kembali dan kini menuju sofa didalam sana)


"Yaelah maksud gue udah gak ngambek lagi,bukan marah"


"Usahain ya kak,gak tenang gue nanti kalau misalnya dia beneran marah sama gue"


"Iya iya,tenang aja.Btw udah dulu ya bos,sekretaris gue udah manggil nih.


Ada jadwal ketemu klaen sebentar lagi"


"Hm,tutup aja.Inget janji lo tadi kak"


"Iya iya.Yaudah bai cil.Besok kalau gak sibuk,gue jenguk lo"


"Hmm"Tut...


Zia mematikan hpnya lalu menaruhnya kembali ke atas nakas dengan gerakan yang hati hati.


Disisi lain,nyonya Sela yang melihat putri bungsunya telah selesai menelpon langsung beranjak dari sofa lalu menghampiri ranjang rumah sakit tempat dimana Zia berada kini.


"Habis telponan sama siapa dek?" tanya wanita paruh baya itu.


"Sama kak Teo mi"jawab Zia.


"Ada masalah?"tanya sang mami.


"Dikit mi,tapi its oke.Kak Teo janji bakal ngatasin"jawab Zia.


"Mami udah makan siang?"kali ini Zia lah yang bertanya kepada sang mami.


"Udah kok,tadi dirumah dipaksa sama bik Muti untuk makan dulu.Kamu sendiri udah makan?"sang mami menjawab lalu bertanya balik.


"Hm udah,tadi dibantu sama suster"jawab Zia sambil mengangguk kecil.