
"Lo harus nambah waspada sama diri lo sendiri,dokter bilang ini bakal tambah sering terjadi dan jangan lupa jaga fisik dan pola makan lo"ujar Teo menyampaikan pesan dokter yang tadi sempat mengajaknya berbincang sejenak.
"Iya gue tau kok"ucap Zia terlihat sangat tenang,padahal tidak dalam hatinya.
Teo dan Zia melanjutkan perbincangan mereka sampai tak sadar kalau gadis yang sedang tertidur di sofa yang letaknya tak jauh dari mereka bergerak menggeliat.
Neta merasa ada suara samar samar memasuki indra pendengarannya,ia membuka matanya perlahan dan menyadari kalau dirinya tertidur di sofa rumah sakit.Matanya langsung menangkap Zia yang sedang asik berbincang dengan Teo,tunggu sahabatnya itu sudah sadar.
"ZIA!"teriaknya kencang langsung bangkit dari sofa.
Sedangkan Zia dan Teo yang sedang asik berbincang menjadi kaget akan teriakan itu terutama Zia yang namanya disebut,bukan hanya mereka tapi cowok yang tadinya juga tertidur di sofa juga ikut terusik akibat suara Neta yang terlampau keras.
"Lo udah bangun Ta?"tanya Zia
Neta tak menjawab melainkan langsung mendekat keranjang rumah sakit tempat Zia berada dan langsung memeluk sahabatnya itu.Zia dengan senang hati membalas pelukan sahabatnya itu,sedangkan Teo memilih mundur beberapa langkah memberi ruang kepada dua gadis remaja itu.
Hiks..hiks..
"Loh!kok lo nangis sih Ta?"ujar Zia panik mengetahui sahabatnya yang berada di pelukannya itu tiba tiba menangis.
AWW..ringis Zia kesakitan saat perutnya dicubit oleh Neta.
"Hiks...lo pake nanya lagi,gue itu khawatir banget sama lo tau gak"ujar Neta yang masih memeluk Zia dengan erat.
"Gue kira lo bakal ninggalin gue,padahal baru juga kita sahabatan dan baru juga gue punya sahabat masa udah ditinggal aja"Neta terus mengoceh.
"lepas dulu pelukannya nafas gue sesek"pinta Zia,Neta pun langsung melepas pelukannya takut Zia kenapa napa.
"Cengeng banget sih lo,lagian gue gak bakal ninggalin lo sekarang kok tenang aja"ujar Zia menghapus air mata yang mengalir disudut mata sahabatnya itu.
"Berarti lo bakal ninggalin gue sewaktu waktu dong?!"tanya Neta menatap tajam Zia.
"Ya gak tau juga,kan cuma tuhan yang tau kapan seseorang harus pergi.Kita sebagai manusia cuma nunggu takdirnya tiba aja"jawab Zia sambil tersenyum.
"Pembahasan lo mulai berat banget sih"ujar Neta.
"Ya kan lo yang mulai"ucap Zia.
Teo yang berada tak jauh dari sana tersenyum tipis,ia senang melihat dan mengetahui kalau Zia sudah tidak menutup pintu pertemanannya lagi.Ia lega setidaknya gadis remaja yang memiliki beban berat itu memiliki setidaknya satu orang sahabat yang dekat dan sangat peduli.
"Udah bangun?"tanya saat seseorang berdiri disampingnya.
"Udah,kalau boleh tau sekarang jam berapa bang?"tanya cowok yang memakai seragam dari sekolah yang sama dengan Zia dan Neta.
"Jam tujuh,sorry lo pasti telat pulang karena nolongin Zia"ujar Teo.
"Ooh jam tujuh,gak papa tidak usah berterimakasih lagi pula itu salah satu tugas gue buat mastiin keadaan murid Hantara baik baik aja.Apalagi cewek itu anak pemilik sekolah"jawab siswa itu.
"Tetep aja gue harus ucapin terima kasih ke lo,btw nama lo tadi siapa?"tanya Teo.
"Nama saya Raka,ketua OSIS SMA HANTARA"ujar siswa yang bernama Raka itu memperkenalkan diri.
"Saya Teo"ujar Teo menyebut namanya.
"Saya sudah tau,tadi pas awal datang kesini anda sudah memperkenalkan diri"ujar Raka.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi antara dua laki laki itu.
"Em Ta,kok kak Teo bisa tau gue disini sih?"tanya Zia kepada Neta.
"Lah kok lo bisa kasih tau sih, padahal kan lo gak kenal sama kak Teo?trus kak Teo juga bilang lo yang nemuin gue pas gue pingsan"tanya Zia
"Oh itu jadi gini ceritanya..."ujar Neta mulai bercerita.
~Flaskback~
Neta keluar dari ruang club sastra setelah berpamitan dengan teman teman satu organisasinya saat pertemuan hari itu ditutup,karena tidak menemukan keberadaan Zia disekitar ruangan Club sastra jadi ia memutuskan untuk mencari keberadaan sahabatnya itu yang tadi pamit akan berkeliling sekolah sembari menunggu kegiatannya selesai.
Setelah cukup lama menelusuri sekolah,Neta masih saja belum melihat batang hidung sang sahabat bahkan ia sempat berfikir apakah sahabatnya itu meninggalkannya dan pulang duluan.Namun pemikiran itu segera diusir jauh jauh karena ia merasa tak mungkin Zia seperti itu padanya.
Sampai setelah beberapa saat kembali menelusuri lorong sekolah,ia mengukir senyuman di bibirnya saat menemukan keberadaan sang sahabat yang tak jauh dari tempatnya berdiri saat itu.Namun senyumnya itu tiba tiba lenyap saat melihat Zia yang sepertinya tidak dalam keadaan baik baik saja,sahabatnya itu terlihat menunduk sambil meremas baju seragam miliknya dengan kuat dan tak lama langsung jatuh pingsan kelantai.
Neta langsung meneriakkan nama Zia dengan kencang dan secepat mungkin menghampiri Zia yang sudah tak sadarkan diri ditambah dari hidung gadis itu terus mengalir darah.
Neta sangat merasa syok dan tak tau apa yang harus ia lakukan,ia hanya memeluk sang sahabat dengan erat sambil menangis tersendu- sendu sampai suara seseorang terdengar menghampirinya.
"Ada apa ini?"tanya Ketua OSIS Hantara langsung berjongkok memeriksa keadaan Zia.
"Hiks..hiks...Ra..raka tolong Zia Rak"ucapnya meminta tolong kepada sang ketua OSIS.
"Ikut gue"pinta Raka langsung dengan cepat mengangkat tubuh Zia yang sudah tak sadarkan diri dan langsung membawanya kearah parkiran,Neta tentunya mengikuti dari belakang sambil membawa tas sekolah Zia.
Sesampai diparkiran,Raka langsung membawa Zia masuk kedalam mobilnya tepatnya di kursi penumpang belakang dan Neta diminta masuk juga untuk memegangi Zia sedangkan Raka sendiri akan menyetir.Sesampai di rumah sakit,Raka segera memanggil perawat dan mengatakan ada keadaan darurat sehingga Zia langsung dilarikan ke UGD untuk langsung diperiksa secara itensif.
"Tenang sahabat lo gak bakal kenapa napa"ujar Raka menenangkan Neta.
"Iya semoga"ucap Zia yang terlihat sangat khawatir.
Drrt...drrt...drrt...
"Hp lo bunyi?"tanya Raka
"Enggak,eh hpnya Zia"ujar Neta setelah merasakan getaran dari dalam tas sang sahabat yang tengah ia pangku.Ragu ragu ia mengangkat panggilan telepon atas nama Teo itu,ia bisa melakukannya karena hp Zia gak pakai sandi untuk membukanya.
"Halo"
"Halo Zia,lo dimana sih dari tadi keluarga lo gak berhenti hubungin gue buat tanya keberadaan lo?"
"Maaf ini siapa ya?saya bukan Zia tapi sahabatnya"
"Sahabat?Zia kemana?kok hpnya ada sama anda?"
"Zia lagi diperiksa dokter,tadi dia tiba tiba pingsan disekolah tris..."
"Kalian ada di rumah sakit kan?kasih tau nama rumah sakitnya"
"Rumah sakit xxxxx"
"Jangan hubungi siapapun termasuk keluarga Zia,saya segera ke sana"tut..tut..panggilan ditutup sepihak.
"Keluarganya?"tanya Raka
"Gak tau,tapi orang yang nelpon itu bilang bakal segera kesini"jawab Zia.
"Dokternya udah keluar"ujar Zia langsung berdiri disusul Raka menghampiri dokter yang menangani Zia dan menanyakan keadaan sahabatnya itu.