
"Wah kak Gia ngajak Zia jalan bareng,udah mulai akur ya?"tanya Liona exaited.
"Gak"jawab kak Gia dan Zia hampir bersamaan.
"Ya...h sayang banget,padahal kalau iya ini pasti kabar gembira buat papa mama pas udah balik nanti"ujar anak keempatnya Renal itu.
"Kakak setuju sama Liona,kapan kalian akur sih?"tanya kak Arga ikut bicara.
"Sampai kak Gia mau nerima Zia lah"jawab Zia.
"Nah kapan kak Gia nerima Zia?"tanya Liona.
"Sampai itu anak pergilah"jawab Kak Gia santai.
"Nah denger tuh yang dibilang kak Gia,jangan harap kita akur sebelum salah satu orang pergi"ujar Zia tenang.
"Pergi apaan?gak ada satupun yang boleh pergi dari sini"ujar Liona langsung terlihat serius.
"Gak semua pergi yang dimaksud itu pergi dari sini dek"ujar kak Gia.
"Trus pergi yang mana dong maksudnya?"tanya Liona.
"Mati mungkin"
Plak...suara geplakan terdengar terdengar nyaring
"Aduh sakit tau Lio"keluh Zia sambil mengusap bahu kanannya yang baru saja menjadi sasaran empuk dari tangan kakaknya.Panas cuy!
"Mulut lo ya dek"ujar Liona.
"Zia,jangan ngomong kayak gitu"tegur kak Arga.
"Ya sorry,lagian aku cuma bercanda kok"cicit Zia.
"Lagian nih ya Lio,maksud pergi itu bisa jadi nanti siapa tau kak Gia nikah trus..."
"Heh bocah sialan!kok nama gue dibawa bawa"potong kak Gia.
"Seandainya kak,seandainya noh kak Gia nikah trus pasti otomatis ikut suaminya dong tinggal dimana dan bisa jadi gak tinggal disini.Aku sama kak Gia mungkin bisa akur karena katanya kalau orang yang terus terusan gak akur trus tiba tiba jadi jarang ketemu pasti bakal saling kangen,karena itu juga mungkin kita bisa akur"jelas Zia panjang lebar.
Sedangkan Liona hanya bisa ngango ngango mendengar penjelasan adiknya itu yang entahlah,agak sulit dimengerti.
"Lo pasti ngerti penjelasan gue kan Lio?kalau enggak berarti lo payah"tanya Zia.
"Ngertilah masa enggak,otak gue encer tau"jawab Liona,padahal mah enggak.Tapi gak mau dia tuh dianggap payah sama adiknya itu,gak tau aja dia tuh kalau Zia sengaja ngomong gitu biar dia gak banyak nanya lagi.
"Baguslah"ujar Zia.
"Eh tapi dek,lo gak ada niatan buat ninggalin kakak sama semuanyakan?" tanya Liona tiba tiba.
"YES akhirnya habis juga"ujar Zia meletakkan garpu ditangannya kesisi mangkuk.
"Kak Gia jadi pergikan,kakak mending manasin mobil dulu.Gue mau pergi langsung siap siap sekarang"lanjut gadis itu kemudian langsung meninggalkan meja makan.
"Zia jangan pergi dulu,lo belum jawab pertanyaan gue lo"ujar Liona.
"Lain kali aja,kak Gia buru buru tuh!"saut Zia sedikit berteriak karena jaraknya yang sudah cukup jauh.
"Cks,punya adek gini amat"keluh Liona nampak cemberut.
"Makanya gak usah punya adek,lagian lo sama bocah itu seumuran"saut kak Gia.
"Enak aja,Lio mau tetep Zia jadi adek trus Lio jadi kakaknya.Gak mau akutuh jadi anak bungsu kayak Rena,ya meskipun Zia agak nyebelin jadi adek"ujar Liona.
"Kalau gitu gak usah protes"ujar kak Liona.
Ditengah perdebatan Gia dan Liona itu ada Lyn yang sejak awal memang tak bersuara namun saat ini pikiran gadis itu tengah tertuju pada adik bungsunya,yaitu siapa lagi kalau bukan Zia.Lyn melirik kearah mangkok tempat sarapan adiknya itu,masih ada tersisa beberapa potong buah disana.
*Kenapa dia menghindar?*batin Lyn.
Arga menggelengkan kepalanya melihat Liona dan Gia yang tengah sedikit beradu pertanyaan itu,ia menoleh kesamping tempat dimana saudari keduanya duduk.Pria itu mengangkat alisnya sebelah memperhatikan adiknya yang tengah bengong menatap kearah tempat Zia tadi duduk.
"Hei Lyn,kamu kenapa dek kok bengong?"tanya pria itu kepada sang adik.
Lyn yang tadinya terfokus langsung sadar mendengar suara kakak laki lakinya yang tertuju padanya,ia menoleh kearah kak Arga.
"Tak apa"jawab gadis itu singkat dan dingin.
"Kalau punya sesuatu yang dipikirkan beritahu kakak,mungkin kakak bisa bantu"ujar kak Arga.
"Tidak ada"jawab Lyn lagi,gadis itu langsung mengalihkan fokusnya ada layar ponsel ditangannya.
Arga memilih untuk tak mengajak adiknya itu untuk bicara lagi,ia sudah sangat maklum dengan sifat adiknya yang satu ini.Laki laki itu memutuskan untuk menyaksikan perdebatan dua saudarinya yang lain yaitu Liona dan Gia,namun sebelum itu ia menatap kearah tempat Zia tadi.
*Loh kok sarapannya Zia belum habis sih?*laki laki itu bertanya dalam hati,Arga mengangkat kedua pundaknya memilih untuk memikirkan hal itu.
"Gia,Lio mending kalian berhenti berdebat sekarang"ujar kak Arga menghentikan perdebatan kedua saudarinya itu yang masih berlangsung.
"Kak Gia yang mulai kak"adu Liona
"Bukan gue,tapi lo dek"bantah kak Gia.
"Kalian berdua sama"putus kak Arga,
Pria itu menoleh kearah Gia kembarannya.
"Gia mending sekarang lo sana kemobil duluan nunggu Zia,kayak yang dibilang tadi"suruh Arga kepada kembarannya itu.
"Iya"saut Gia setuju,perempuan itu langsung beranjak pergi dari sana menuju keruang depan.Dari pada ia tetap disini pasti adiknya itu akan terus mengajaknya berdebat.
Setelah Gia pergi dari meja makan,Arga sekarang menoleh kearah Liona.
"Lio,bukannya besok kamu udah mulai ujian ya?"tanya laki laki itu pada sang adik.
"Iya,emang kenapa kak?"saut Liona.
"Sana kekamar trus belajar,biar besok gak nyontek ujiannya"suruh kak Arga.
"Ih kakak mah,hari inikan hari minggu masa Lio disuruh belajar sih"ujar Liona.
"Kalau hari minggu emang menurut kamu kenapa,kalau kakak suruh belajar?"tanya kak Arga ke Liona.
"Hari minggukan seharusnya waktu untuk Lio nyantai dan menghilangkan stres,bukannya belajar buat ujian.
Mana besok mapel ujian pertamanya langsung fisika lagi"jawab Liona.
"Itu berlaku kalau besok kamu gak ujian,lagian maka dari besok mapel pertama MTK itulah kamu harus belajar giat.Jangan ngarepin contekan dari Rena mulu"ujar kak Arga.
"Mana pernah aku minta contekan sama Rena"bantah Liona.
"Serius gak pernah,kok kakak gak percaya sih"saut kak Arga.
"Iya pernah tapikan itu jarang, lagian Rena juga sering minta contekan dari Lio kok.Jadikan adil dan imbang"ujar Liona.
"Buat kalian adil tapi buat murid yang lain gak adil"komen kak Lyn datar.
Kak Arga dan Liona langsung menoleh kearah saudari mereka itu.
"Nah itu bener yang dibilang Lyn kakak kamu,itu gak adil buat murid lain yang udah susah payah belajar"ujar Arga.
"Iya iya,mana kak Lyn tumben ikut ikutan lagi"dumel Liona pelan,dengan malas gadis itu beranjak dari meja makan untuk pergi kekamarnya.
"Nurut juga akhirnya"gumam Arga pelan,ia beralih dan tersenyum kepada saudari keduanya.Dan baru saja ia hendak membuka mulut untuk bicara,namun Lyn sudah terlebih dahulu beranjak dari sana.