One Year, Maybe

One Year, Maybe
Chapter 189



Satu demi satu hari hari ujian UTS yang dirasakan oleh anak anak SMA Hantara sudah sampai diakhirnya,hari ini adalah hari sabtu,hari dimana pelaksanaan terakhir ujian UTS bagi mereka semua tentunya termasuk Zia dan Liona yang merupakan bagian dari para murid Hantara.


Riuh terdengar ditengah lapangan outdor Hantara beberapa saat setelah jam pulang sekolah,disana terlihat para murid hantara berkerumunan melingkar disalah satu bagian area lapangan sekolah yang cukup luas itu.Ditengah kerumunan itu berdirilah Zia yang tengah menatap malas cowok yang tengah berdiri dihadapannya sambil memegang sebuah buket bunga mawar merah dengan raut wajah senyum senyum sok ketampanan kalau menurut Zi,berbanding dengan raut wajah Zia yang hanya lempeng dicampur malas menjadi satu.


Cowok yang memegang buket bunga itu adalah Ken,dengan didampingi oleh kawan setianya yaitu Juna yang berdiri satu langkah dibelakang Ken.


Sedangkan Neta sahabat baik Zia sendiri juga berdiri dibelakang gadis itu,mulut Neta nampak komat kamit seperti orang yang tengah berdoa akan sesuatu.


Zia melirik sekitar dan dapat menemukan saudarinya serta Rena yang berdiri diantara kerumunan teman teman sekolah mereka,menatap dirinya dan Ken dengan tatapan yang Zia tau pasti saudarinya itu pasti sedang menahan tangis dan api cemburu.


Zia kini melirik kearah Juna yang berdiri dibelakang Ken,Juna terlihat menggaruk leher yang tak gatal seakan tak enak dengan apa yang baru saja terjadi.


Tadi setelah jam pulang berbunyi tanda ujian terakhir telah selesai, Juna langsung masuk keruang ujiannya dan memintanya untuk ikut kelapangan.Melihat raut wajah Juna yang seakan memberi kode,Zia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi.


Yap tentu saja peristiwa yang terjadi saat ini,dimana Ken tengah menembak alias menyatakan perasaannya kepada Zia.


Tangan cowok dihadapnnya ini seakan tak pegal pegal karena terus menyodorkan buket bunga itu kearah Zia,namun Zia lagi lagi hanya menatap buket bunga itu dengan wajah lempeng tak berniat menggapai bunga indah itu.Bisik bisikkan masih terdengar dari para murid lain


"Wah gak salah nih,siKen nembak Zia?"


"Gak tau,bukannya selama ini doi deketnya sama Liona ya"


"Akhir akhir ini sih,si Ken emang keliatan lebih sering nempelin Zia"


"Wah gila siKen berarti,adik kakak disikat sama dia"


"Tapi Zia emang lebih cantik gak sih dari saudarinya?"


"Iya sih,setuju gue soal itu"


Rena menggenggam tangan Liona sahabatnya,ia tahu kalau Liona pasti mendengar suara bisik bisik dari para makhluk kurang kerjaan disekitar mereka itu.Dan itu memang benar karena Liona memang mendengar itu semua,namun gadis itu terlihat tak mengacuhkan hal itu dan lebih memilih menatap pemandangan menyakitkan dibadapannya.Pemandangan dimana sosok yang sangat ia cintai kini tengah menyatakan suka kepada gadis lain,dan sialnya gadis lain itu adalah adiknya sendiri.


Kembali ke Zia-Ken_


"Zia kok kamu diam aja,ayo jawab. kamu maukan jadi pacar aku?"


suara Ken kembali bersuara mengulang pertanyaan yang sama sekitaran dua menit yang lalu.


"Jun"ujar Ken pelan memberi isyarat kepada Juna.


"Hm"saut Juna,cowok itu segera bersuara.


"Terima,terima,terima"ujar Juna keras keras,mendengar hal itupun membuat para murid lain terpancing dan mengikutinya.


"Terima Terima Terima Terima"


Neta terlihat menggigit jari melihat keadaan yang semakin caos


*Moga moga,itu orang cepat datang* batin Neta melihat dengan was was ketepi lapangan.


"Terima Terima Terima"


Baru saja Zia hendak membuka mulut bersuara,langsung terdengar suara seseorang dari pinggir lapangan. Orang itu berusaha melewati kerumunan para murid Hantara itu.


Para murid Hantara yang tadinya heboh berteriak Terima langsung diam dan dengan sendirinya memberi jalan lewat bagi orang yang baru datang itu tanpa penolakan sedikitpun, kenapa bisa begitu?itu karena seseorang yang baru datang itu adalah Raka siketua osis mereka.


Tidak ada yang berani membantah ketos yang satu itu,jika dilihat dari segi kedudukan.Maka ia masuk jajaran orang orang yang perkataannya sulit dibantah oleh para murid,kedudukannya sebelas dua belas dengan Zia maupun Liona sebagai anak pemilik sekolah.


Tap...tap...tap...atensi yang tadinya sepenuhnya tertuju kepada Ken dan Zia langsung terpecah kearah Raka yang tengah berjalan menuju ketengah kerumunan,dimana ada Zia-Neta-Ken-Juna berada.


"Ngapain lo kesini?"tanya Ken dengan nada tak bersahabat melihat kehadiran Ken disana.


"Saya yang seharusnya nanya hal itu ke kalian semua,ngapain kalian semua ngumpul disini disaat jam pulang sekolah udah tiba?"ujar Raka membalikkan pertanyaan Ken,cowok itu berdiri santai dengan bersidekap tangan didepan.


"Lo buta atau gimana hah?!lo gak liat kalau gue lagi nembak cewek?!"saut Ken masih dengan nada tak bersahabatnya.


Raka nampak menaikkan sebelah alisnya setelah mendengar perkataan Ken itu,ia melirik kearah kedua gadis yang ada ditengah lapangan itu.


"Nembak cewek?yang mana?oh Neta?" tanya Raka.


"Cks"Ken mendecih kesal melihat tingkah Raka.


"Ya gak mungkinlah cowok populer kayak gue,nembak cewek gak jelas kayak Neta"ujar Ken.


"Dih siapa juga yang mau sama lo"ujar Neta ketus,kesel dia tuh namanya dibawa bawa.


"Trus kalau bukan Neta,siapa?"tanya Raka.


"Zia lah,siapa lagi coba?!"jawab Ken.


"Zia?"ujar Raka dengan nada tanya.


"Iya Zia,sekarang mending lo minggir deh.Gue mau lanjutin nembak calon pacar gue,lo ganggu tau gak"suruh Ken sambil menunjuk kearah Raka.


Bukannya menuruti perkataan Ken untuk pergi dari sana Raka malah melangkah kemudian memposisikan dirinya disebelah Zia.


"Sorry bro,tapi kayaknya gue gak bakal biarin rencana lo lanjut deh"ujar Raka langsung mengubah gaya bicaranya dari yang tadinya cukup formal.


"Maksud lo?!"tanya Ken tak mengerti.


Raka terkekeh pelan kemudian tangannya bergerak merangkul pundak Zia,namun sebelum itu ia menyempatkan mengusap pucuk kepala gadis itu dengan lembut beberapa kali.Anehnya,Zia tidak marah sama sekali akan perlakuan cowok itu.


Raka menoleh kearah Len lagi,ia kemudian mengeluarkan semiriknya.


"Lo masih belum ngerti bro?"tanya Raka.


"Maksud lo apa hah?!Singkirin tangan lo sekarang dari pundak calon pacar gue!"ujar Ken sedikit keras.


"Apa hak lo buat nyuruh nyuruh gue?"saut Raka santai,membuat darah Ken langsung mendidih.


"Zia itu calon pacar gue,lo gak boleh rangkul rangkul cewek yang bentar lagi resmi jadi pacar gue!"ujar Ken terlihat akan meledak.


"Masih calon pacar-kan,jadi lo gak berhak.Dan satu hal yang harus gue kasih tau sama lo bro,status calon pacar itu gak bakal berubah menjadi pacar sampai kapanpun"ujar Raka,yang membuat Ken semakin bingung.